[x]Close

MANTAN KEKASIH : BAGIAN 4

SETELAH sekian lama absen dan dua tahun gak dilanjutkan maka saya akan lanjutkan kisah ini.. terima kasih untuk teman-teman yang setia menunggu kisah ini dan email-email yang memberikan semangat membaca kisah ini..

selamat membaca..

jangan lupa folow instagram saya

agnes davonar instagram

Mantan kekasih bagian 4.

IMG_2899-251x300Setelah menceritakan bagaimana Chandra bisa ada dirumah angel dan bagaimana ia bisa hidup dalam bentuk roh, angel mulai paham bahwa di dunia ini yang selama ini ia anggap dongeng tentang hidup dan roh roh yang ada menjadi nyata. Chandra juga menceritakan sosok suster yang membimbing dan menolongnya melakukan perjuangan untuk bertemu dengan angel. Angel merasa tersentuh atas perjuangan Chandra dan ia menjadi tau mengapa semua ini terjadi, dengan perasaan penuh penyesalan ia meminta Chandra untuk tabah.
Tapi angel merasa apa yang terjadi tidak adil bila hanya Chandra yang yang menjadi korban dari rencana pembunuhan ini tidak mengetahui alasan mengapa ia harus dibunuh. Chandra menceritakan kronologis penculikannya dan Angel mereka perlu melakukan sesuatu untuk semua hal yang terjadi kepada Chandra termasuk mencari siapa pelaku dalang semua ini . Akan tetapi Chandra sendiri tidak tau siapa yang berada dibalik semua rencana pembunuhan itu. Chandra masih ingat betul bagaimana kejadian penculikan itu dan ia juga masih ingat siapa orang yang menculiknya karena orang itu sering ia liat ketika sedang minum kopi di sebuah cafe tak jauh dari rumahnya.
“ kematian kamu tidak bisa begitu saja diabaikan. Kita harus mencari orang yang merencanakan ini dan bertanggung jawab atas semua yang ia lakukan..”
“tapi aku takut ini membahayakan nyawa kamu angel.. “
“ aku gak akan kenapa-kenapa? Aku cukup mencari tau siapa pelakunya dan melaporkan ini ke polisi dan biarkan mereka yang melakukan tugasnya..bagaimana?”
Chandra terdiam dan berpikir, ia hanya takut angel dalam bahaya..
“ kamu gak perlu khawatir.. harapan semua ini jangan sampai ada yang lain sama seperti kamu terjadi lagi.. kejahatan harus diselesaiakan..”
“baikalah tapi kamu berjanjilah bahwa kamu Cuma hanya melaporkan dan tidak perlu berbuat apa-apa”
“iya.. aku janji..”
Angel dan Chandra pun pergi ke kafe dimana untuk pertama kali Chandra mengingat melihat sosok yang mengikutinya hingga di depan rumah. Disaat mereka tiba di kafe. Chandra melihat langsung sosok martin yang merupakan mantan kekasih agnes yang jadi orang terakhir orang yang ia pacari. Angel masuk ke kafe dan berpura-pura duduk disamping mereka. ia berusaha tidak panic dengan memesan secangkir kopi hangat. Sedangkan Chandra mendekati preman dan martin yang sedang bicara.
“gimana bos kondisi aman?” Tanya seorang bos preman kepada martin.
“ sejauh ini aman. Rencana berhasil.. bagus..” jawab martin kepada 3 orang yang ia sewa untuk menculik Chandra.
Chandra pun jadi tau apa yang terjadi padanya dan jadi tau siapa dibalik semua rencana pembunuhannya, ternyata mantan kekasih agnes.
“ lalu cewek bos gimana?”
“ masih galau diputusin tapi gua uda berhasil deketin lagi.. jadi gua yakin dia bakal balikan sama gue..”
Tujuan dari rencana pembunuhan itupun Chandra ketahui, hanya karena agnes dan rasa sakit hati kepadanya. Chandra pun kembali ke angel yang sedang duduk. Chandra pun termenung sesaat.
“angel sudah saatnya kita pergi.. kamu sudah tau kan mereka itu orang yang telah merencanakan pembunuhan aku..”
“ya aku sudah tau.. tapi siapa cowok yang ada diantara mereka, tidak seperti preman dan menyeramkan..”
“itu adalah martin.. mantan kekasih agnes. Perempuan yang terakhir bersama aku.. dia adalah dalang dari otak kejahatan ini.. semua didasari karena rasa sakit hatinya karena aku berpacaran dengan…” kata Chandra terdiam tak bicara.
“dengan agnes.. “ kata angel
“ia.. maaf. Aku memang salah karena playboy.. mungkin ini karmaku..”
“karma kamu bukan mereka yang menentukan.. tapi Tuhan .. yang mereka lakukan adalah kejahatan..”
“ baiklah.. aku harap kita pergi dari sini.. “
“tunggu sebentar…”
Angel kemudian mengambil ponselnya dan memotret martin dan teman-teman premannya secara diam-diam. Tindakan angel diketahui martin dan angel menyadari itu, ia berusaha tenang dan keluar dengan terburu-buru. Martin pun merasa curiga.
“cewek itu ambil foto kita.. dia siapa.. “
“siapa bos..” Tanya preman.
“kejar.. bahaya kalau dia teryata tau semua rencana kita.. dan dengan semuanya…”
Angel pun menyadari martin dan preman-preman itu mengejarnya. Chandra memperingatkan angel untuk segera berlari.. tapi saat ini angel hanya memiliki sebuah motor dan ketika hendak ke tempat parkir mengambil motor tiba-tiba martin berteriak memanggilnya,.
“hai.. kamu.. jangan pergi dulu..”
Angel berusaha menyalakan mesin motor tapi martin dan kawan-kawan sudah menyusul mendekat. Mencegat..
“angel jangan panik.. jangan biarkan mereka mengetahui apa yang kamu lakukan..” teriak Chandra disampingnya..
“loe ngambi foto kita diem-diem kan?” Tanya martin.
“enggak kok.. tadi saya Cuma selfie..”
“jangan boong sini hendphone loe gua liat..”
“enggak..gak mau,,” balas angel.
Preman yang satu lagi langsung menarik tas angel.. angel melawan dengan menarik kembali dan mendorong preman itu lalu preman itu terdesak mundur..
“ berani macam-macam loe ya.. mau mati..” teriak preman yang kesal itu.
“angel lari…” teriak Chandra.
Angel pun berlari dan kawanan itu mengejarnya. Chandra merasa kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya terus memberikan semangat kepada angel untuk meloloskan diri dari bahaya. Ia tau banget betapa kejamnya orang –orang yang ini kepadanya dan tidak ingin angel merasakan hal yang sama. Dan tiba-tiba angel terjebak di jalan buntu dan orang-orang yang mengejarnya memblokir semua aksesnya untuk berlari.
“chanda.. gimana ini.. “
“jangan panic.. aku akan coba bantu kmu..”
“dengan cara apa? Mereka banyak dan percuma aku berteriak di jalan sepi seperti ini..”
Ketika mereka mendekat kepada angel. Martin sekali lagi memperingatakan angel untuk tidak melawan dan memberikan hendphonenya kepada angel. Angel berusaha menahan tasnya dengan erat. Chandra kemudian ketika salah satu preman yang mulai kesal itu hendak memukul angel tiba-tiba tangan Chandra menahannya. Dan bayangan Chandra menahan pukulan preman itu sekitar 20 cm dari wajah angel. Chandra pun mendorong preman itu hingga terjatuh dan membuat teman-temannya bingung.
“bos loe gapapa?” Tanya teman preman itu heran.
“dia pakai sulap… kalian hajar rame-rame.. buruan..”
Angel bingung, kemudian Chandra memintanya untuk tenang dan menepi. Chandra kemudian menggunakan kekuatan bayangan yang ia miliki untuk mengangkat sebuah box kayu buah dan melemparkan kepada mereka satu persatu dan menimpa semuanya . preman itu pun tersungkur dan tak sadarkan diri menyisahkan martin yang panic..
“ siapa kamu sebenarnya.. kamu dukun atau orang super?”2
Angel mendekat dan Chandra mendampingi untuk melindungi.
“kamu hanya perlu tau.. apa yang kamu lakukan kepada Chandra sudah saya ketahui.. dan kejahatan kamua kan terbongkar.. serahkan diri kamu ke polisi dan bertanggung jawablah atas semuanya…”
“ Chandra.. kamu orang suruhan Chandra..”
“ tidak.. saya bukan orang suruhan Chandra.. tapi saya disamping Chandra yang ingin kamu tau.. kalau perbuatan kamu sudah terungkap… bertobatlah…”
Kaki martin tiba-tiba menjadi lemas dan tertunduk takut.. angel dan Chandra pun pergi. Setelah tugasnya untuk mengambil bukti dari pelaku. Angel pun bertanya kepada Chandra apa yang harus ia lakukan sekarang. Chandra menjawab
“tujuanku sebenarnya hanya ingin bertemu sama kamu.. untuk terakhir kalinya.. tidak ada maksud lain..”
“hanya itu.. gak ada yang lain..”
“ mungkin tidak ada.. aku bisa tenang sekarang.. kamu sudah menolong aku banyak hal.. kamu sudah tau semua yang ingin aku sampaikan.. karena suster berkata.. hanya orang yan tulus mencintai aku yang bisa melihatku dan aku jadi yakin.. kamu adalah orang yang tulus..”
“kenapa kamu berkata demikian.. seolah-olah aku tak bisa berbuat apa-apa untuk semua ini..”
Chandra pun mengangkat tangan angel dan angel tidak bisa merasakan apa-apa selain tangannya bergerak sendiri terangkat.
“ angel.. aku harus pergi.. waktuku hanya seumur lilin yang ada di kelenteng tua yang menjadi nafasku di dunia ini.. tujuanku sudah tersampaikan.. terima kasih ya..”
“ jangan pergi Chandra..” kata angel menangis
“jangan pergi lagi.. aku gak mau kamu pergi lagi..”
Chandra pun memeluk angel.. dan berbisik
“saat ini tubuh aku ada di rumah sakit di daerah sukabumi.. disana ada sepasang nenek dan kakek yang menolongku dengan tulus.. tubuhku masih ada.. tapi mungkin sesaat lagi sudah tidak ada.. kalau aku pergi. Tolong bawa jasadku kepada keluarga sehingga mereka bisa tenang.. dan katakan padanya aku sayang pada mereka..”
“jangan ngomong begitu.. mungkin kita punya cara lain untuk membuat kamu kembali.. mungkin kita bisa.. kalau kamu mau berusaha dan aku akan bantu..”
“seandainya itu bisa tejadi.. aku sudah melakukan angel.. tapi dunia kita sudah berbeda.. aku harus sadar diri dan tidak bisa meminta hal lain yang lebih dari saat ini.. sudah bisa melihat dan bicara dengan kamu saja itu sudah cukup berarti dalam hidupku..”
“enggak. Aku yakin kita kita.. ayo kita temuin suster yang bisa melihatmu.. mungkin dia bisa menolongmu..”
“suster itu memang pernah selamat dan berhasil kembali dalam dunia ini seperti yang kamu ceritakan dan bila kita coba mengikuti semua yang ia lakukan.. mungkin kamu bisa seperti dia..”
“aku tidak yakin..”
“ kalau kamu seorang diri mungkin tidak bisa.. tapi kalau kita bersama maka ketidak yakinan akan bisa menjadi keyakinan..”
“kamu tidak pernah berubah angel.. sejak dulu selalu menjadi orang yang membuat aku optimis.. aku tidak tau apa akan berhasil.. tapi waktuku tidak banyak..”
“kalau begitu mari kita coba lakukan hal-hal yang bisa kita lakukan sebelum semua ini berakhir”
“apapun yang terjadi aku sudah siap angel.. “
“aku akan lebih siap bila kamu mau berusaha dan aku akan berjuang untuk semua ini..”
Chandra tidak ingin melukai semangat angel dan ia pun merasa kesempatan ini adalah kesempatan terakhir bersama angel. Dan akhirnya ia dan angel pun pergi menuju sukabumi untuk bertemu dengan suster. Lilin yang ada di klenteng tinggal setengahnya dan kakek terus menjaganya agar tidak pernah redup. Perjuaangan lain pun dimulai dari kisah angel dan Chandra..
Walau Chandra tidak pernah tau apa yang akan terjadi dan ia sadar bahwa peluang untuk hidupnya adalah hal mustahil.. tapi ia tidak ingin meruntuhkan keyakinan angel yang tidak pernah surut dan berubah sejak dulu hingga saat ini..
Meyakinkan dirinya semua memiliki masa depaan..

BERSAMBUNG

baca juga edisi sebelumnya

bagian 1
bagian 2
bagian 3

jangan lupa ikut seminar bersama agnes davonar di yogyakarta

IMG-20160322-WA0003 (1)

Kenangan saya tentang Sosok Lettu Wiradhy Try sang pahlawan angkasa

saya ingin berbagi kisah saya dengan sosok pahlawan yang saya kenang mungkin kalian boleh membacanya kalau sempat karena terlalu panjang..
semua ini saya post di instagram saya.

instagram davonar

DIMG_5455 d
i suatu malam, saya tak bisa tidur karena satu hal yang menganggu pikiran dalam pekerjaan, merasa bosan, saya pun memainkan jaringan instagram pribadi saya . Tak sengaja saya melangkah dan menemukan sebuah profil instagram pesulap yang sedang memainkan kartu yang unik. Pesulap itu lucu dan mahil, karena bakatnya saya pun kemudian memberikan love pada halaman instagramnya. Beberapa jam kemudian saya mendapatkan balasan love darinya dan saya pun menjadi penasaran sosok pesulap itu, saya meneliti lebih dalam dan lebih kaget lagi bahwa selain bisa sulat,pria itu adalah seorang perwira tentara angkatan darat.
Lalu sebuah pesan pribadi tersampaikan darinya beberapa jam kemudian setelah saya mengfollow dia dan ucapan pertama darinya adalah
“ terima kasih untuk lovenya.. salam kenal mbak..”
Dari perkenalan ala remaja media sosial itu kami pun berlanjut dalam sebuah pertukaran line. Dari sana saya mengenalnya. Ia bernama Wiradhy, seorang pria berumur 25 tahun kala itu tapi dia lebih suka saya memanggilnya wira. hal yang paling mengesankan ketika mengenalnya adalah bahwa dia tak pernah berhenti menghibur saya dengan penampilan sulapnya. Setiap hari kami saling berkomunikasi, dekat dari waktu ke waktu dan karena kesibukan yang ada pada saya dan jarak yang jauh antara kami yaitu Jakarta- Palembang dan ia tinggal 6 jam perjalanan dari lampung tepatnya sekitar martapula. Akhirnya perkenalan itu hilang sesaat.
Mungkin karena dia juga sibuk sebagai pilot pesawat helikopter yang seling keliling kota dan saya sibuk dengan pekerjaan yang saya kala itu sedang sibuk dengan persiapan film. Kami kehilangan kontak.. tapi wajahnya, senyumnya dan sikapnya yang tak pernah bisa diam selalu teringat dalam pikiran saya.
Berlanjutlah pada suatu ketika saya menuliskan pesan pribadi di line timeline pribadi saya tentang kalimat sedih dan tiba-tiba dia menyapa saya dan menanyakan kenapa saya bersedih. Saya ingat benar kala itu pukul 2 malam dan dia belum tidur. Lalu ia pun menelepon saya dan bersedia menjadi teman bicara saya.
Alih-alih awalnya saya yang ingin curhat,malah menjadi dia yang ingin banyak bicara. Dia bercerita kepada saya, bahwa kamar yang sedang ia tempati, tepatnya kamar baru yang ia tempati di rumah dinas ini milik seniornya yang baru saja menjadi korban jatuhnya pesawat Hercules di medan beberapa hari lalu. Lalu saya bertanya?
“ jadi kamu tidak bisa tidur karena kamar itu bekas senior kamu yang baru saja meninggal karena tragedy Hercules?”
“ bisa jadi.. tapi gak juga. Senior saya itu baik kok.. “ katanya dengan percaya diri.
“lalu kenapa dong?”
“ mungkin karena saya merasakan kesedihan yang mbak rasakan jadi gak bisa tidur juga..”
“dasar gombal. Selain bisa sulap kamu juga bisa gombal ya…”
Hilanglah rasa sedih saya malam itu, dan saya pun bertanya banyak hak tentangnya. Bakatnya sebagai pesulap yang telah ia lakukan sejak lulus sekolah. Tentang hobynya yang suka sekali memancing dan impian-impian sederhananya, serta berusaha mamahami beratnya dunia militer yang ia geluti.. lalu saya pun bertanya
“ kalau kamu ingin jadi pesulap dan memiliki wajah seperti artis kenapa mau jadi tentara?” karena ia selalu menyebut wajahnya mirip dengan fauzi badila yang membintangi film tentang dia.
“karena takdir.. kalau saya beruntung bisa jadi artis saya tidak akan jadi tentara, kalau ternyata tidak beruntung.. hayoo.. mendingan jadi tentara kan, sudah jelas dan ada jenjang karirnya..”
“tapi tentara kan itu berat dan kamu gak takut tiba-tiba kayak senior kamu..?”
Lalu dia terdiam dan berkata
“sejak menjadi tentara.. jiwa dan raga kami sudah kami abdikan kepada Negara ini.. jadi apapun yang terjadi kami sudah siap.. mati atau hidup untuk Negara Indonesia tercinta..”
Saya kembali terdiam,,
“mbak kok banyak Tanya.. emangnya mbak mau punya pacar tentara..”
“lalu saya katakan padanya.. mantan saya itu tentara loh.. makanya saya gak mau lagi….”
Yang lebih mengejutkan dia ternyata kenal mantan saya karena pernah menempuh pendidikan dasar bersama ketika di akedemi militer dan saya pun menceritakan semuanya kepadanya. Dia hanya terdiam dan mungkin tak bisa berkata apa-apa atau memberikan saran. Dia hanya lalu mengirimkan sebuah pesan sulap yang menghibur dan berkata..
“saya tidak mungkin sama seperti yang lain.. karena saya berbeda.. saya pasti berbeda.. “
“berbeda ya.. karena kamu bisa sulap.. bisa bawa helikopter.. dan tidak bisa diam,.. “
Dia hanya tertawa dan saya terkesan padanya malam itu. kami pun kembali intens berbicara sampai akhirnya ia tiba-tiba mendapatkan tugas ke Jakarta dan dia mengajak saya bertemu. Saya pun setuju dan kami mengatur pertemuan yang singkat itu karena keesokan harinya ia harus terbang ke medan untuk membawa jenderal dalam kunjungan dinas.
Pada saat pertama kali melihatnya dalam dunia nyata. Saya jadi paham mengapa dia tak terlihat oleh saya karena kami bertemu di gramedia. Dia memakai topi dengan celana panjang kedodolan. Lalu berlari mendekat kepada saya. Saat itu ia terlambat karena harus naik menunggu gojek. Saya memperhatikannya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan badannya kurus. Gayanya juga tidak seperti perawakan tentara yang terkesan tegap dan keras. Lalu ia menarik tangan saya meminta diantarkan ke tempat membeli ban pinggang karena takut celananya lepas.
Saya hanya tertawa lalu bertanya mengapa dia menjadi kurus seperti ini sampai-sampai celananya pun kebesaran. Lalu ia bilang pada saya
“mungkin terlalu banyak pikiran dan memikirkan kamu? “
Karena saya terbiasa spontan memukul raket tenis. Saya pun memukul pundaknya dan dia terkejut.
“kok dipukul kan sakit..”
“ kalau kamu gombal terus bisa bisa kamu kayak bola tenis, awas ya..” kata saya
“galak banget..”
Lalu saya memilihkan ban pinggang untuknya dan kami pergi makan bersama, ia mampir ke tempat saya berkenalan dengan anjing saya. Awalnya ia takut dengan anjing saya, tapi akhirnya ketika saya menyiapkan makan malam anjing saya ia malah asyik bermain dengan anjing saya. Kami menghabiskan waktu untuk nonton dan akhirnya jam malam memisahkan kami. pada saat itu dia berkata pada saya
“ kalau ini mungkin pertemuan terakhir kita.. ?” katanya
“ memangnya kenapa?”
“ karena saya takut jatuh cinta sama kamu..”
Saya pun memukulnya untuk terakhir kali sebelum ia pulang dan tertawa. Walau singkat petemuan itu tapi ia menunjukan trik sulapnya yang akhirnya berhasil saya bongkar.. dengan rasa kecewa ia bilang ia akan memperbaikin triknya lain kali dan pastinya ia akan selalu mengenang bagaimana rasanya saya memukul dia setiap kali tanpa peringatan
***
IMG_5333 (1)
Setelah seminggu kemudian kami pun menjadi pasangan kekasih. Saya salut padanya karena ketika saya bilang padanya kalau pacaran dengan saya jangan pernah merokok. Ia mampu menuruti walau saya tau terkadang diam-diam dia merokok. Kami tidak hanya membicarakan tentang hubungan kami tapi saling memberikan saran-saran tentang hal hal yang bisa ia lakukan untuk membantu orang tuanya. Saya bangga padanya karena ia tidak hanya menunggu gaji yang ia terima setiap bulannya. Ia juga bekerja diluar itu.
Ia pernah berbisnis stiker motor yang akhirnya membuatnya bangkrut karena uang hasil penjualannya dibawa kabur dan berusaha bangkit dengan menjual kaos-kaos yang unik-unik. Tapi hal yang paling ia banggakan kepada saya adalah tentang impian membuat kolam ikan di depan asramanya yang ia akan bongkar untuk dia jadirkan ternak ikan gurame dan sejenisnya. Kebetulan saya juga menyukai ikan dan akhirnya kami bena-benar saling merencanakan kolam itu. setiap hari ia memberikan kabar bagaimana perkembangan kolam dan ikan-ikan yang dikembang biakan. Saya gembira sekali saat itu, karena darinya saya jadi tau bagaimana berternak ikan itu adalah sebuah pekerjaan menyenangkan. Otak bisnisnya berjalan baik dan ia yakin kelak 6 bulan lagi ikan ini akan ia panen dan ia jual hasilnya untuk membantu orang tuanya. Satu-satunya kecemasan yang ia miliki adalah tentang masa tugas ayahnya yang akan pensiun menjadi PNS dan ia memiliki tanggung jawab untuk membantu sebagai tulang pundak keluarga.
Mengenalnya secara pribadi membuat saya terinspirasi membuat sebuah cerita dan saya katakan padanya kelak saya akan membuat kisah dengan nama dia. Tapi satu pertanyaan yang saya katakan padanya adalah..
“ kamu keberatan kalau nanti dikisah itu kamu gak ada?”
“kenapa?”
“ karena di setiap cerita saya.. orang yang saya tulis akan meninggal…karena pasti jadi sad story..”
“kenapa begitu..”
“itulah ciri khas cerita saya..”
“itu semua dunia yang kamu ciptakan saya pasti menerimanya.. dan semoga kelak cerita itu sukses ya.. dan jangan lupa traktir makan saya..”
“ kok kamu pasrah gitu..”
“ karena saya tau.. saya tidak bisa mengubah cerita yang kamu buat kan? Kan kamu bos dalam cerita kamu…”
“begitu ya.. yauda kamu pasti saya bikin sakit atau apaa.. jadi jangan kecewa ya..”
“sadis..” katanya dengan bercanda ciri khasnya…
IMG_5343
Saya pun mengirimkan setiap bab yang saya tulis setiap hari padanya. Dia selalu memberikan motivasi pada saya untuk terus menulis dan ia menunggu hasil ceritanya. Sayang.. 2 bulan setelah hubungan kami berjalan. Karena kesibukan dan pekerjaan kami yang padat, akhirnya hubungan ini menjadi tidak baik. kami pun berpisah. Kami memutuskan mengakhiri hubungan dengan alasan pribadi yang tak bisa kami jelaskan. Tapi kami berjanji untuk menjadi teman baik,..
Saya katakan padanya..
“kelak kalau kamu ke Jakarta.. jangan ragu untuk menghubungi saya.. saya akan selalu siap bertemu..”
Dan kami pun tak pernah bicara selain saya pun menghitung waktu dan melihat dia kemudian telah memiliki pasangan baru yang saya tau seorang tentara perempuan yang ia bilang ia kenal di palembang. Saya mengucapkan selamat dan ia mengatakan mungkin perempuan itu menjadi yang terakhir dalam hidupnya. Ketika mendengar itu, ada rasanya sedih tapi saya mengucapkan selamat dan saya pun menjalin sebuah hubungan baru dengan orang lain dan kami benar-benar tak bicara untuk waktu yang lama.
Beberapa bulan kemudian. Tiba-tiba dia menghubungi saya dan mengirimkan kolam ikan yang dulu kami rencanakan bersama kini telah menjadi sempurna dengan ikan-ikan yang sudah mulai tumbuh besar. ikan-ikan yang dulu saat ia beli hanya seukuran jari kelingking manusia kini telah membesar seukuran tangan manusia dewasa. Ia bangga dan berkata dalam waktu dekat ia akan memanen ikan ini dan menjualnya untuk mendapatkan keuntungan. Saya turut senang dan menyambut suka cita berita kebehasilan kolam ikannya, tapi ia juga memberikan berita sedih kepada saya kalau ia baru saja putus dengan pacarnya dan tak lagi berkomunikasi.
Saya pun juga sedang putus dengan pacar saya dan lebih sedih lagi saya baru kehilangan anjing tercinta saya karena meninggal lalu ia berkata pada saya untuk tabah dan ikhlas, ia juga berkata bahwa dalam waktu dekat akan ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan seniornya. Ia berharap saya ada waktu untuk bertemu padanya. Saat itu saya sedang di korea dan akhirnya saya bilang padanya kalau memang bisa saya akan pergi menemuinya karena saya tidak tau kapan saya pulang dari korea. Walau saya tidak yakin memiliki waktu untuk kembali bertemu dengannya tapi sepertinya Tuhan memang telah mengatur segalanya,
Tiba-tiba tiket saya bisa diubah untuk pulang lebih awal dari rencana awal saya di korea. Saya pun kembali ke Jakarta. Dan akhirnya saya bertemu dengannya. Saat itu saya melihatnya tidak seperti dulu, ia tidak begitu semangat dan tubuhnya juga menjadi lebih kurus. Saya Tanya padanya kenapa jadi kurus, ia bilang tidak enak badan dan sedang sakit akhir-akhir ini. Saya pun memarahinya untuk berhenti merokok dan ia hanya manggup-manggup dengan ciri khasnya yang mengatakan saya bawel seperti enci-enci glodok
Kami makan bersama dan waktu yang singkat itu saya katakan padanya .
“ saya senang bisa ketemu kamu lagi.. kita lupain yang pernah ada ya.. pernah ribut dan pernah saling marah.. kita jadi teman baik.. maaf kalau dulu saya bikin salah sama kamu..”
Dia tersenyum berkata.
“ saya sudah ikhlaskan kok.. apapun yang uda terjadi ya sudahlah.. gak perlu dibahas.. toh Tuhan yang punya rencana apapun itu.. “
Dia benar dan saya setuju, kami tidak pernah lagi membahas tentang yang sudah-sudah. Sebelum berpisah saya memberikan sebuah hadiah oleh-oleh yang saya siapkan untuknya dari korea. Dengan suka cita ia menerimanya dan sebelum berpisah ia berpesan kepada saya..
“ jangan suka bergadang ya.. orang yang tidur malam bangun siang.. rejekinya dipatok ayam”
Saya hanya tertawa dan kami pun berpisah karena esokanya ia harus pulang ke Palembang. Ia sempat menanyakan novel yang saya tulis dengan nama dia, saya katakan padanya kalau dalam novel itu kamu meninggal karena sebuah kecelakaan, dia hanya tertawa dan menunggu untuk membacanya. Sebelum pergi ia mengatakan kepada saya bahwa ia akan bertugas ke daerah Sulawesi dan mungkin ke Jakarta lagi. Saya pun berjanji akan membawanya ke tempat makan yang enak asal ia berheti merokok.
Ia tesenyum dan entah mengapa saya terus berpikir tentangnya sampai-sampai terbawa dalam mimpi saya beberapa hari kemudian. Mimpi buruk yang yang membuat saya terbangun dengan air mata. malam itu juga saya menelepon dan memberitahukan semua mimpi saya padanya. Saat itu ia hanya tersenyum..

IMG_5320
“kamu mimpiinya jahat banget.. masa saya kecelakaan.. “
“iya.. saya juga gak tau kenapa bermimpi seperti itu.. “
“ ya sudahlah.. namanya juga mimpi. Artinya kamu kangenin saya..”
Saya tertawa dan rasa takut saya hilang seketika ketika ia bicara demikian. Saat itu ia bilang ia sedang ke poso dan sedang menjalankan tugas untuk sesuatu yang saya tak mengerti. Ia hanya berpesan kepada saya kalau pulang dari poso ini ia akan panen ikannya dan kalau ikannya sudah dipanen, uangnya akan ia kasih ke orang tuanya untuk ditabung, lalu ia mengirimkan video ikan-ikan yang ia ternak begitu lincah dan besar. ia harus bersiap-siap bekerja lebih giat karena ayahnya sudah akan pensiun beberapa bulan lagi. Saya pun mendoakan yang terbaik padanya dan ia pun minta izin untuk tidur.
Malam setelah itu, saya bicara dengan juniornya yang bernama Tito yang saya kenal baik karena sering bercanda dengan saya. Ia mengirimkan foto Wiradhy kepada saya yang sedang rapat dengan wajah serius namun lelah dengan setengah meledek.
“ nes.. ini ada mantan kamu” kata tito meledek.
“loh kok ada dia.. kamu lagi sama dia..”
“iya kan lagi tugas bareng di poso sama bang Wiradhy..”
“ titip salam ya untuk abang kamu.. kenapa wajahnya lesu gitu.. “ tanya saya.
“mungkin karena lagi serius meeting.. “
“oh iya poso lagi tugas tumpas teroris ya.. kamu hati-hati ya.. kata saya padanya.. jaga bang Wiradhy,,”
“siap bos..”
IMG_5234
Sebelum berpisah Tito sempat mengirimkan fotonya kepada saya dan saya mengucapkan terima kasih. lalu saya pun iseng mengirimkan foto Wiradhy kepada Wiradhy yang ia sambut dengan kaget karena ternyata saya kenal adik juniornya. Kami bicara panjang lebar malam itu dan saya Tanya kepada ia kenapa belum tidur dan ia hanya bilang belum mengantuk. Kami pun bicara panjang lebar dan Entah mengapa ia banyak bicara malam itu dan saya tertidur tanpa membalas pesannya. bodohnya lagi karena saya sedang di bali dan sibuk dengan teman-teman saya sehingga tidak sempat membalas pesan dia, saya pikir saya akan balas malam nanti setelah saya habis bermain tenis..
Ternyata itu kesalahan besar dalam hidup saya…
Jam 6 seorang teman kemudian memberitahu saya kalau wiradhy telah meninggal karena kecelakaan pesawat helicopter.
Saya shock kemudian membuka line saya dan membaca pesannya kepada saya.. saya hanya bisa menangis dan teman-teman memeluk saya. Saya tak menyangka ia pergi begitu cepat.. dalam pesan singkatnya yang membuat saya merasa ia berpamitan kepada saya..
IMG_5341
Saya lebih sedih lagi karena Tito juga menjadi korban dalam kecelakaan itu padahal saya belum sempat memberikan oleh-oleh yang ia pesan ketika saya sedang di korea. Saya tak bisa berkata apa-apa selain mengurung diri saya di hotel. Memanjatkan doa kepadanya. Meminta maaf untuk segala kesalahan dan kebodohan saya yang tak sempat menyampatkan membalas pesan terakhirnya kepada saya..
saya tau.. sulit untuk membalikkan waktu yang pernah ada dan mengembalikan hal yang pernah ada kepada rencana Tuhan.. saya hanya bisa berharap mungkin di kehidupan lain saya bisa bertemu denganya dan menjawab pertanyaan yang belum sempat saya sampaikan.. rasanya sungguh aneh ketika saya sering membicarakan tentang hal-hal yang berkisah tentang karaktek novel saya yang mengalami kehilangan dan kini saya mengalami hal tersebut. tapi saya tau, ini semua rencana Tuhan yang tidak bisa saya halangi dan ini adalah takdir yang telah terjadi. Walau sedih saya harus ikhlas dan rasa bersalah yang ada karena tak menjawab pertanyaannya yang terakhir adalah hal yang paling saya sesali.
bagi saya..
kamu adalah hal yang terindah dan sejarah terindah yang pernah saya dapatkan dalam kehidupan saya..
selamat jalan Wiradhy.. mantan terindah dalam hidup saya
selamat jalan Tito.. sahabat sesaat yang menghibur saya

IMG_5456 (1)
TULISAN ini untuk mengenang masa-masa indah dan berharap menjadi bagian sejarah yang selalu abadi untuk selamanya..
Mungkin saya tidak pernah bisa menjawab pertanyaan yang ia harapkan. Tapi saya tau. Bagaimana rasa sepi itu. dan kini semoga tidak ada lagi rasa sepi.. yang ada rasa bahagia menyertai perjalanan hiudpmu bersama Tuhan…

seminar surabaya kampus unesa ayo hadir januari ini..

IMG_2830

 

 

 

 

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

SEBELUM SEMUA BERAKHIR – CERPEN 179

mata

 

“ Dalam hidup, ketika sebelum semua berakhir dalam hidupku. Aku hanya punya satu impian di dunia ini. Sekali saja dalam hidupku, yaitu melihat indahnya dunia sebelum Tuhan memanggilku.”

 

Tentang Angel

Namanya Angel, gadis ceria yang berusaha membuat semua orang tersenyum padanya. Ia melihat dunia setiap paginya dengan sukacita dan tak pernah ingin berhenti ingin tau akan apa yang ada di depannya. Melangkah dengan pasti menunggu waktu tertutup sampai ia tak bisa bergerak hanya saat ia tertidur di malam hari. Tak ada yang bisa melukiskan betapa bahagianya ia terlahir di dunia ini, padahal usianya 21 tahun dan sukacita itu selalu ia bagikan kepada siapapun yang ia temuin. Hatinya sungguh mulia, ia menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Mendorong becak yang pak tua yang kesulitan , membantu seorang nenek menyeberang jalan raya bahkan membagi payung miliknya kepada orang lain yang terkena hujan dan membiarkan tubuhnya sendiri merasakan hujan.

Tentang Aji,

Tubuhnya besar dan atletis. Ia bertugas memandang laut setiap harinya. Memastikan tak ada yang mengalami musibah karena kejahatan atau merusak kenyamanan ombak laut yang indah menghebus sekitar pantai Losari, makassar dimana ia berkerja sebagai polisi sekitar pantai. Ia tampan dan satu-satunya yang membuat orang lain tak pernah mau mendekat padanya adalah sifatnya yang dingin dan tak bersahabat terhadap siapapun. Ia hanya bicara seadanya kepada orang lain. Ia hanya menjawab apa yang ia sukai, ia tidak pernah dekat dengan perempuan. Ia bekerja professional hanya saat ia berkerja menindak laporan warga sekitar pantai yang terganggu oleh ulah-ulah usil tangan-tangan jahat.

 

Tentang mereka.

Mereka berdua dipisahkan jarak yang jauh antara pulau yang berbeda. Tapi suatu ketika, Angel memutuskan untuk pindah ke Makassar karena satu alasan pribadi yang ia sendiri bingung untuk menjelaskan. Ia meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi menginap di rumah bibinya yang bersuamikan orang bugis dan tinggal di Makassar. Angel mencoba menikmati semua yang bisa ia lakukan di kota barunya termasuk berkunjung ke pantai losari di hari pertama ia turun dari pesawat  untuk sekedar menikmati hari indahnya sambil menunggu matahari terbenam.

Sial baginya ketika asyik memandang langit yang cerah, seorang penjamblet mengambil tasnya dan ketika tasnya melayang ia hanya bisa berteriak tanpa ada yang bisa menolongnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk melapor ke polsek terdekat dimana Aji bertugas. Proseder pelaporan berjalan baik sampai akhirnya angel sendiri lupa akan alamat bibinya.

“jadi kamu bukan orang Makassar dan sedang berlibur di Makassar dan lupa dimana tempat tinggal bibi kamu?”

“gimana saya mau tau? Hendphone saya saja diambil sama pejambret itu. Dompet saya pun melayang. Saya benar-benar lupa dimana bibi saya tinggal”

“lalu apa yang bisa kami lakukan untuk anda” Tanya aji

“boleh pinjam telepon kamu untuk telepon ibu saya di Jakarta dan menanyakan bibi saya”

“ tapi kamu ingat kan nomor telepon ibu kamu?”

“100% saya ingat di luar kepala..”

Aji pun meminjamkan teleponnya dan singkat cerita angel bisa menghubungi bibinya, celakanya bibinya tidak bisa menjemput karena sedang sakit. Angel pun benar-benar merepotkan Aji. Perwira polisi yang baru saja berdinas empa tahun di Makassar pun akhirnya mendapatkan perintah dari komandanya untuk mengantarkan Angel sampai ke rumah bibinya dengan selamat.  Sepanjang perjalanan Angel hanya terdiam memperhatikan Aji. Entah mengapa ada getaran yang aneh saat ia melihat sosok aji. Seperti tak asing dalam hidupnya.

Aji orang yang dingin, angel yang banyak bertanya hanya mendapatkan jawaban singkat dari Aji saat berkomunikasi.

“ sudah sampai, ini alamat sesuai yang bibi kamu bilang?”

“iya makasih ya.mau ke dalam dulu untuk sekedar minum teh?”

“gak perlu saya banyak kerjaan. “

Angel menarik nafas dalam-dalam kemudian mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kebaikan Aji yang dijawab dengan wajah jutek dan dingin.

“itu sudah tugas saya sebagai polisi”

Dengan tersenyum kecil, angel kembali ke rumah. Bibinya yang sakit menyambutnya dengan kebingungan akan peristiwa yang angel alami untuk hari pertamanya di Makassar. Malamnya angel masuk ke kamar dan membuka koper pribadinya. Ia membuka sebuah diari yang sudah setahun ini ia simpan dan baca setiap malamnya.

***

Keesokan harinya sebagai ungkapan terima kasih atas bantuan yang diberikan Aji. Angel pergi ke kantor polisi sambil membawa makanan yang ia masak sendiri. Ia membagikan makanan itu kepada petugas polsek setempat. Komandan Aji merasa senang dengan masakan Angel. Tapi tidak dengan Aji yang sepertinya sama sekali tidak menyentuh makanan yang dibawa Angel. Sebagai perintah atas kebaikan Angel. Komandan Aji kemudian memerintahkan Aji untuk mengantarkan Angel pulang ke rumah. Aji pun merasa kesal tapi ia tidak bisa menolak perintah itu.

Di dalam mobil yang sunyi.

“aji boleh gak anterin saya ke tempat ini sebentar” kata angel sambil memberikan catatan kepada aji sebuah tempat toko bunga.

“gak bisa, saya gak ada waktu.”

“ kalau gitu turunkan saya saja disini. Biar saya naik taksi atau jalan kaki saja cari toko bunganya”

Aji kemudian meminggirkan mobil ke tepian jalan.

“ silakan kamu turun. “

Dengan perasaan dongkol Angel pun menahan amarah turun dari mobil. Aji pergi berlalu saja meninggalkan Angel yang di jalan. 15 menit angel menunggu di jalan tapi tidak ada taksi yang menjemputnya. Tiba-tiba aji muncul lagi. Sambil berteriak meminta Angel masuk.

“ kok balik lagi?”

“ kamu jangan GR. saya balik lagi karena komandan saya menelepon untuk memastikan saya mengantarkan kamu sampai ke rumah. Gak lucu gara-gara kamu, saya di hokum!!”

Dengan tersenyum angel menyambut lucu kata-kata aji. Lalu mereka tiba di toko bunga yang dimaksud Angel. Pemilik toko itu sepertinya tidak asing dengan Aji. Angel memberi beberapa bunga yang kemudian ia bawa kembali. Lalu bertanya kepada Aji.

“ sepertinya kamu tidak asing sama ibu pemilik toko bunga itu?”

“memangnya jadi masalah kalau saya kenal dengan pemilik toko bunga itu untuk kamu?”

“ ya. gak gitu juga. Kan saya hanya bertanya?”

“ toko bunga terdekat dari kantor saya , hanya toko bunga disana. Jadi gak ada alasan saya tidak mengenal pemilik toko itu kan?”

“iya.. iya. Dijawab kan bisa tanpa harus jutek gitu..”

Aji hanya terdiam.

“mana ada cewek yang mau sama cowok jutek kayak kamu..” kata Angel bicara sendiri

“ kamu bilang apa barusan?”

“Oo.. enggak saya hanya bicara sendiri..”

Angel pun tiba di rumah dengan selamat. Sekali lagi ia menawarkan Aji untuk minum kopi sejenak dan tanpa basa basi Aji pun pergi meninggalkan Angel. Dengan wajah bingung ,Angel benar-benar tidak tau mengapa ada orang tak seramah dan sedingin itu di dunia ini.

***

Hari demi hari selanjutnya Angel tidak memiliki alasan selain pergi ke pantai losari lalu membawakan makanan untuk Aji dan teman-temannya. Angel tau apa makanan yang aji sukai, aji yang awalnya tidak mau mencicipin sekalipun makanan Angel akhirnya malah mencobanya.   Angel yang baik hati sering membantu seorang ibu tua menjual mainan baling-baling yang bila tertiup angin akan berputar kepada anak-anak yang sedang berwisata. Semua itu ia lakukan dengan ikhlas, ia memang terlahir dari keluarga yang mampu sehingga ia melakukan perkerjaan yang bisa ia lakukan dengan ikhlas kepada siapapun yang bisa ia lakukan.

Aji melihat sifat angel yang begitu mulia dan mulai merasa nyaman walau masih jutek terhadap Angel. Sampai suatu ketika, ia benar-benar melihat ketulusan Angel yang begitu berani menyelamatkan seorang anak yang nyaris tenggelam di pantai losari. Angel melompat ke dalam air laut padahal ia sendiri tidak bisa berenang.  Untungnya saat itu Aji sedang berada tak jauh darisana. Ia pun menyelamatkan Angel dan anak kecil itu.

Setelah membawa angel ke kantornya dan memberikan handuk hangat.

“kamu kenapa begitu nekad membantu anak kecil itu kamu sendiri kan tidak bisa berenang?”

“itu naluri hati saya. Saya hanya ingin menyelamatkan anak itu”

“itu kan bisa membahayakan nyawa kamu sendiri dan kalau kamu kenapa-kenapa gimana?”

Mendengar Aji begitu marah, angel terdiam dan menangis. Aji jadi bingung.

“maaf kalau saya terlalu kasar..”

“gapapa.. saya pulang dulu ya..”

“saya anterin kamu..”

“ gak usah, saya pulang sendiri saja..”

Angel kemudian memanggil taksi dan pergi begitu saja. Aji memadang dengan perasaan bersalah karena begitu marah pada angel, ia jadi tak enak hati, Karena pada dasarnya perbuatan angel adalah tindakan mulia yang sama seperti ia lakukan sebagai polisi.

Keesokan harinya setelah kejadian itu, Angel tidak pernah muncul lagi. Hari-hari kantor yang biasa dengan keceriaan angel membawakan hasil masakan yang ia buat dan keceriaan angel yang membantu dengan tulus orang-orang yang ia temui terasa hampa. Angel tidak pernah muncul untuk tiga hari kemudian, Aji pun berinisiatif pergi menuju rumah bibi Angel.  Ketika ia tiba di rumah itu, ia baru tau kalau angel sakit demam. Walau angel sakit demam ,ia tidak pernah berhenti ceria dan ramah menyambut aji.

Sesaat aji memandang angel. Ia merasa Angel mengingatkannya pada seseorang , seseorang yang membuatnya merasa tak asing. Mata angel yang indah membuat ia merasa tak asing. Ia menjadi penuh emosi dan Seketika pula sifat aji jadi dingin kembali dan memutuskan pulang. Angel jadi bingung tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Aji teringat akan sosok perempuan yang telah membuatnya begitu hancur. Sosok perempuan yang tak sengaja ia kenal di toko bunga dimana ia mengantarkan Angel untuk membeli bunga. Perempuan itu kemudian membuatnya jatuh cinta, perempuan itu mengerti hidupnya dan perempuan itu tau apa makanan yang ia sukai. Memberikan dukungan disaat Aji merasa jatuh dalam kegagalan, sosok perempuan yang ia harapkan menjadi pendamping hidupnya.

Ketika ia hendak mengutarakan niatnya menikah dengan kekasihnya, tanpa alasan yang jelas kekasihnya memutusan hubungan yang ia bina dan pergi menghilang begitu saja dalam kehidupannya. Sampai detik ini ia tidak pernah tau dimana sang kekasih yang telah menghancurkan hidupnya, membuat ia tidak percaya akan cinta sejati dan  menciptakan karaktek dingin dan apatik terhadap semua perempuan yang ia temui.

Tapi ketika melihat Angel, ia merasa berbeda, merasa Angel lahir dari sebuah masa lalunya. Ia merenung sejenak banyak sekali hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini yang membuat ia merasa Angel tak asing baginya. Ia seperti merasa..

Jatuh cinta pada Angel.. tapi masa lalu pahit yang ia alami membuatnya merasa cinta itu hampa.

***

Angel terdiam di kamar. Membuka setiap lembaran diari yang ia baca. Diari yang sesungguhya tak pernah ia tulis. Diari yang sebenarnya adalah sebuah sejarah yang tak bisa ia bayangkan pernah terjadi dalam kehidupan sebelumnya. Keesokan harinya ia meminta waktu kepada Aji untuk bertemu. Mereka duduk bersama memandang laut pantai selat kalimatan yang begitu indah. Lalu angel bertanya kepada aji untuk sebuah impian yang ia bisa lakukan.

“ aji. Kamu punya impian apa dalam hidup ini?”

“ gak perlu tau, itu hal privacy saya..”

“ kalau saya dulu punya impian sederhana saja.. kamu mau tau?”

“ terserah kalau mau cerita”

“ saya Cuma pengen apa yang saya lihat saat ini. Begitu indahnya lautan. Begitu indahnya kehidupan yang saya liat dengan kedua mata ini benar-benar nyata dalam hidup saya kelak.”

“ maksudnya gimana sih? Emang kamu ini gak nyata atau gimana?”

“ bukan begitu.. saya bahagia bisa melihat dunia ini, dulu saya Cuma minta sama Tuhan kasih kesempatan saya untuk melihat dunia sekali saja dalam hidup saya. Dan ternyata Tuhan kasih saya lebih banyak hari untuk melihat dunia ini.. dan itu benar-benar membuat saya bahagia..”

“kalau boleh tau.. kenapa kamu bicara kayak gini, kayak kamu mau pergi saja dalam hidup ini..”

“saya besok pulang ke Jakarta. Makanya saya pengen ketemu kamu.. pamitan..”

“Jakarta Makassar itu Cuma dua jam.  Jadi gak usah takut gak akan pernah ketemu lagi. “

Angel terdiam.

“ aji. Saya boleh tau gak? Harapan kamu seandainya Tuhan Cuma kasih kamu kesempatan untuk berpesan di dunia ini bilamana kamu besok dijemputnya?”

“ kamu benar-benar pengen tau?”

“iya”

“ saya Cuma pengen orang tua saya tau. Saya bangga kalau harus pergi menghadap kepada Tuhan karena pekerjaan saya sebagai polisi..”

“ kamu benar-benar luas biasa ya.. saya gak sia-sia bisa mengenal kamu.. kamu baik dan benar-benar orang baik, walau kamu jutek dan dingin.. hati kamu sebenarnya mulia dan memaafkan.”

“ sok tau kamu.. jangan menilai orang kalau kamu sendiri baru mengenalnya..”

 

Lalu angel menyerahkan sebuah diari untuk Aji.

“ini ada titipan dari seseorang untuk kamu. Semestinya ini jadi milik kamu, bukan milik saya.. saya hanya wakil darinya untuk melihat kamu.. “

“ maksudnya gimana, ini diari siapa..”

“ kamu baca saja.. saya pamit dulu ya. Bibi sudah minta saya pulang untuk makan malam perpisahan.. karena besok saya harus ke Jakarta subuh-subuh..”

Angel meninggalkan aji di pantai dan aji kemudian membuka lembaran diari yang bertuliskan nama seseorang yang tak asing baginya. Mantan kekasihnya Agnes. Ia membaca lembaran demi lembaran dimana Agnes menuliskan dengan jelas bagaimana ia pertama kali bekerja di Makassar karena ingin mencari uang dan hidup mandiri. Bagaimana agnes mengenal aji di toko bunga untuk pertama kalinya ketika Aji diminta sang komandan membeli bunga di toko untuk keperluan kantor.

Bagaimana mereka akhirnya bisa saling jatuh cinta karena seringnya aji menjadi pelanggan toko bunga sampai akhirnya angel memutuskan pergi meninggalkan aji tanpa alasan ketika Angel sadar. Ia dan Aji berbeda keyakinan dalam agama. Keduanya tidak mungkin dipersatukan kerena kepercayaan yang merekat di hati mereka yang tidak mungkin untuk dilepaskan. Cepat atau lambat hubungan yang indah itu akan berakhir karena perbedaan keyakinan tersebut.  Agnes dan Aji harus memutuskan cara terbaik untuk berpisah setelah 3 tahun hubungan mereka yang indah. Hubungan yang akhirnya kisahnya cepat atau lambat akan terjadi harus diambil dalam sebuah keputusan kedua pihak memulai.

Agnes memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kenangan bersama aji dan masa indahnya di Makassar dan pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia berkerja sebagai Supir uber. Ketika hatinya merasa hancur menjalani kehidupan, ia mencoba focus pada pekerjaan yang ia jalani dengan menghabiskan waktu mengenal penumpang-penumpang yang ia bawa. Sampai akhirnya suatu ketika ia mendapatkan penumpang yang begitu istimewa.

Seorang penumpang yang begitu menginspirasinya. Ia seorang gadis tunanetra yang tidak pernah putus asa melihat dunianya. Ia gadis yang tidak mau keterbatasan fisik yang ia alami menjadi penghalang baginya melihat dunia dengan caranya. Gadis itu sering menggunakan jasa uber mobil milik Agnes yang akhirnya membuat keduanya menjadi dekat. Dalam sebuah perjalanan membawa gadis itu ke tempat tujuan. Agnes bertanya kepada gadis itu bagaimana rasanya menjadi seorang tunanetra. Gadis itu berkata bahwa hidupnya sunyi dalam gambar tapi indah dalam suara suara yang ia dapatkan setiap harinya.

Ia berterima kasih kepada dunia teknologi yang akhirnya membuatnya bisa bersikap seperti orang normal. Bisa membaca berita dan bergerak di dunia maya lewat media social. Semua itu terasa normal walau pada akhirnya kembali kepada satu titik dimana hal ini terjadi kepada semua yang mengalami kondisi yang sama yaitu tunanetra.

“ apa impian kamu dalam kehidupan?”

“ saya hanya ingin sekali saja dalam hidup saya, bisa melihat indahnya dunia seperti yang diceritakan orang lain kepada saya. Sekali saja walau itu hanya sedetik saya akan bersyukur dan ikhlas menjalani kehidupan saya selanjutnya. “

“ apakah dunia begitu berarti untuk kamu ketahui, padahal ketika kamu bisa melihat dunia. Ketulusan yang kamu miliki karena kerterbatasan apa yang dapat kamu rasanya bisa tergoda dan mengubah cara berpikir kamu.”

“percayalah saya tidak akan pernah berubah dalam kehidupan… “

Malam itu dalam sebuah diary, Agnes pun berpikir ia juga ingin memiliki satu harapan seandainya Tuhan memanggilkan lebih cepat dari kehidupan ini. Ia berharap ia bisa memberikan kehidupanyang ia miliki kepada gadis tunanetra yang tulus itu.

Dan diari itu berakhir..

Aji kemudian masih melihat angel tak jauh dari darinya, ia berlari mendekat kepada angel.

“darimana kamu dapat diari ini?”

Dengan penuh air mata dan bergemetar..

“karena saya adalah gadis tunanetra yang ada dalam diari yang ditulis oleh kak agnes. Sebuah kecelakaan mobil terjadi disaat kami sedang melakukan perjalanan. Kak agnes meninggal dalam kecelakaan itu dan saya sekarat saa itu, Tuhan berkehendak lain kepada kami. sebelum ia pergi meninggalkan dunia ini, ia berpesan kepada Dokter untuk mendonorkan kedua matanya kepada saya. Saya bisa melihat dan membaca semua tulisan yang kak Agnes Tulis karena saya yakin, ia ingin melihat kamu juga.. ia ingin kamu tau.. bahwa ia tidak punya alasan lain mengakhiri hubungan kalian karena perbedaan yang terjadi.. lewat mata ini, dan air mata ini.. kak Agnes berharap kamu memaafkan segala keputusan yang ia lakukan..”

Aji memeluk angel. Mendekat gadis itu.

“sudah cukup.. tidak usah diteruskan.. sejak awal saya merasa kamu ada di sosok dia.  Matamu mengingatkan saya akan dia.. saya tidak pernah salah.. saya memaafkan dan ikhlas.. sungguh saya ikhlas…sekarang.. semua sudah jelas.. saya.. ikhlas..”

 

Tamat.

 

FILM SEBUAH LAGU UNTUK TUHAN RILIS 29 OKTOBER 2015

Sebuah karya Agnes Davonar kembali difilmkan oleh Rumah Produksi Film One Production. Setelah sukses dengan produksi pertamanya berjudul ‘My Idiot Brother’ (2014), Film One sudah menyiapkan proyeknya yang kedua dengan judul ‘Sebuah Lagu Untuk Tuhan’.

Film ini kembali disutradarai oleh Alyandra, yang juga menyutradarai ‘My Idiot Brother’. Ceritanya tentang gadis tunarungu yang jujur bernama Angel (diperankan oleh Eriska Rein). Suatu hari ia bertemu dengan sosok penyanyi bernama Gilang (Stefan William) yang memutuskan mundur dari dunia tarik suara karena kasus korupsi yang menimpa.

Pertemuan itu ternyata memunculkan semangat bagi Gilang untuk kembali berkarya. Perasaan itu juga karena Gilang yang jatuh cinta pada sosok Angel, dan mereka berdua menjadi pasangan yang saling menyemangati.

Kemudian kisah ini berubah menjadi pedih ketika Angel divonis mengidap penyakit kanker. Angel memutuskan untuk tidak memberitahukan kepada Gilang atas kondisi penyakitnya tersebut. Gilang yang baru belakangan tahu berusaha untuk kembali memberikan semangat dan kehidupan bagi Angel.

Film ini juga dihiasi lagu ‘Kali Ini Saja’ yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly sebagai original soundtrack. Selain Eriska dan Stefan, pelakon lain yang turut memperkuat ada aktris Nina Zatulini, Gigi ‘Chibi’, Adila Fitri dan penyanyi Dewi Yull.

‘Sebuah Lagu untuk Tuhan’ akan mulai rilis di bioskop pada 29 Oktober mendatang.

 

 

PESAWAT KERTAS TERAKHIR – EDISI NOVEL BAGIAN 1

Pesawat Kertas 5

 

Hi apa kabar semuanya

bulan ini adalah bulan dimana saya akan merilis novel terbaru saya.  judulnya

pesawat kertas terakhir. untuk menyambutnya saya akan membagikan dua bagian halaman cerita ini sebagai bonus..

DAN untuk tau gimana dapatkan buku ini cukup bergabung di fanspage instagram saya  : davonar

 

atau whaspp ke 08161444147

selamat membaca..

 

Chapter 1

 

SMA BhinnekaTunggal Ika

Pagi itu…

Selasa, 20 Juli 1999

 


Tak lama, Hendra, teman sekelas sekaligus teman sebangku Gilang yang berperawakan subur dan berkacamata menyapanya.
Suasana kelas 3-1 jurusan IPA penuh dengan murid-murid yang memasuki kelas. Tiga menit sebelum bel berbunyi, masuklah remaja 17 tahun bernama Gilang. Posturnya gagah, tapi wajahnya begitu tampak lelah dan bersimbah keringat. Dia melempar tas punggungnya yang berwarna hitam—“teman setianya” sejak dia duduk di kelas satu—ke meja. Lalu melepas topi abu-abu yang dia kenakan untuk menutupi rambutnya yang cepak dan mengipas-ipas topi itu untuk menyejukkan tubuhnya yang kepanasan. Bajunya yang putih nyaris seperti baru diambil dari jemuran ketika basah.

“Kenapa lo?” tanya Hendra penasaran. Tapi belum sempat Gilang menjawab, Hendra memberikan sebotol air mineral yang dia bawa dari rumah.

Tanpa banyak komentar, Gilang langsung mereguk air dalam botol tersebut.

Hendra yang memperhatikan sahabatnya, segera menarik botol dari depan mulut Gilang ketika melihat airnya nyaris habis tertelan.

“Jangan dihabisin dong! Gue juga mau kali…” teriak Hendra.

“Sori, Dra, gue haus banget,” ujar Gilang, lalu tersenyum lega.

“Akhir-akhir ini gue lihat lo sering banget keringatan dekil gini pagi-pagi. Nggak mandi atau gimana?”

“Gue abis lari pagi, makanya keringatan,” kata Gilang, menerangkan.

“Buat apa, Lang? Emang lo mau ikutan Olimpiade? Gaya lo, bukannya fokus lulus sekolah aja! Gak bosen pake seragam abu-abu melulu?” tanya Hendra.

“Ya bosenlah! Kan waktu itu gue pernah bilang, gue pengen banget masuk sekolah tentara. Jadi gue mulai harus biasain latihan fisik tiap pagi. Ya kayak gini. Lari, push up, angkat beban, ya semacam itulah. Lo juga ikut dong sesekali biar kurusan dikit, biar gak kayak doraemon gitu.” Lalu Gilang tertawa puas.

“Wuidih… serem, Nyong! Tapi emang benaran lo niat banget jadi tentara? Perasaan negara lagi aman deh?” Hendra sepertinya masih tak percaya akan perkataan Gilang.

“Dra, jadi tentara itu impian gue banget. Walau negara ini lagi aman, tetap aja butuh tentara, makanya mulai dari sekarang fisik gue harus kuat.”

Hendra mengangguk. “Emangnya lo lari dari mana ke mana sih?”

“Ya nggak jauh-jauh. Dari rumah ke sekolah aja. Berapa tuh kira-kira? Ada kurang-lebih tiga kilometer, ya? Jadi yang biasanya gue naik motor ke sekolah, sekarang gue jalan kaki aja. Nah, kalo angkat beban sama push up, itu gue lakuin di rumah, sebelum mandi.“

“Waduh, nggak deh. Gue belum siap menderita! Tapi gue hargai impian lo. Gue bantu doa aja ya biar lo keterima jadi tentara,“ oceh Hendra, lalu meneguk sisa isi botol.

Kemudian Hendra duduk di samping Gilang. Wajahnya mendadak serius. Dia menarik napas panjang lalu berkata, “Lang, mulai sekarang kita nggak duduk sebangku lagi, ya!” serunya tanpa sedikit pun terlihat bercanda.

Gilang terdiam sesaat. “Kenapa? Kok tiba-tiba gitu?” Dia mengerutkan dahi.

“Gue memutuskan mau duduk sendiri aja.”

“Jangan dong, Dra. Lo kan tahu gue paling bego di kelas kalau nggak ada lo. Gimana nasib gue kalau ulangan? Gimana kalau gue nanti nggak lulus? Lo tahu kan gue terpaksa masuk IPA karena syarat taruna militer itu minimal IPA.”

Hendra tidak goyah. “Kali ini benar-benar berat, Lang. Gue nggak mau pas lulus nanti, gue belom dapat pacar. Gue udah bertekad bakal deketin dia.”

“Dia siapa?” selidik Gilang.

Hendra menggaruk-garuk kepala. Lalu mendekati wajah Gilang. “Lo serius nggak tahu?”

“Nggak. Dia siapa sih?”

“Gilang… satu kelas di sini udah pada tahu, apalagi cowok-cowok. Bakal ada satu murid baru di kelas kita, cewek, Lang. Nah, gue mau ngincer dia! Masa lo nggak tahu? Kan kemarin wali kelas sudah kasih tahu bakal ada anak baru.”

“Gue kemarin ketiduran pas pelajaran Bu Tian. Jadi, mana gue inget?!”

“Emang gue pikirin.”

Dengan kesal, Gilang menarik kerah baju Hendra dan membuatnya tercekik.

“Jadi lo mutusin persahabatan kita cuma gara-gara ada anak baru yang bakal pindah ke kelas ini dan lo ngincer dia jadi pacar?!”

“Duh, lepasin! Kecekek nih gue…” teriak Hendra. Gilang pun melepaskan kerah seragam Hendra.

“Lang, lo sadar nggak sih semua murid di kelas ini pada duduk sesuai aturan, cewek duduk sama cowok. Tapi kenapa nasib kita saja yang harus duduk berdua? Sekali-sekali gue pengen mengubah nasib. Gue bosen sendirian di sekolah ini. Jadi lo ngerti, kan?”

“Ya udah, terserah kalau emang mau pindah bangku. Sana pergi jauh-jauh,” ketus Gilang.

Hendra merapikan kerah seragamnya. Lalu dia tersenyum ‘iblis’ pada Gilang.

“Sori, Lang, demi cinta sejati kita cerai dulu. Gue sengaja duduk sendiri supaya nanti dia bisa duduk sama gue. Bangku di kelas sudah full, kecuali yang satu itu. Nah kalau kita pisah, dia kan bisa duduk sama gue,” ujar Hendra sambil menunjuk ke belakang.

Gilang tampak tak acuh dengan omongan sahabatnya. Dia terlanjur kesal dengan Hendra yang rela pindah bangku demi seorang gadis. Hendra kini duduk di belakang Gilang. Mereka duduk di barisan pojok kiri kelas, total bangku ada 16 yang dibagi menjadi 4 baris.

Tak lama bel berdering, menggema di sepenjuru sekolah. Murid-murid yang masih berada di luar serta-merta memasuki ruang kelas.

Hendra tak sabar lagi ingin bertemu si anak baru. Gadis yang akan diincarnya. Maklum, sepanjang hidup, dia belum pernah pacaran. Gadis-gadis di sekolah tak ada yang mau menerimanya sebagai pacar ketika dia menyatakan cinta. Hanya kepada anak baru ini, cinta dan harapan Hendra akan dia perjuangkan.

Di sudut lain, Gilang tampak mengantuk karena kelelahan sehabis lari pagi dari rumahnya menuju sekolah. Tak lama matanya malah terpejam.

Suasana kelas masih saja riuh saat Ibu Tian, wali kelas 3 IPA 1 berjalan bersama seorang gadis cantik. Gadis itu tampak lembut, berkerudung dan menutupi diri layaknya seorang muslimah. Sekolah ini tidak mewajibkan anak-anak perempuan memakai kerudung dan mungkin baru dia murid berkerudung di SMA Bhinneka Tunggal Ika. Anak baru itu berdiri di tengah kelas bersama Ibu Tian. Murid-murid saling berbisik sebelum suara mereka menghilang ketika Ibu Tian mulai bicara.

“Selamat pagi anak-anak…”

“Pagi, Bu…” seru seisi kelas penuh antusias.

“Hari ini Ibu ingin memperkenalkan anak baru di kelas kita.”

Ibu Tian tersenyum, lalu mempersilakan anak baru tersebut untuk memperkenalkan diri. Hendra menatap penuh kagum. Sedangkan Gilang tertidur di kelas.

Assalamualaikum… selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Angel. Saya baru pindah dari Medan mengikuti ayah saya yang mendapatkan tugas di sini. Saya lahir di Aceh dan besar di Medan. Semoga teman-teman bersedia membantu saya. Terima kasih.”

Anak-anak terkejut dengan kesantunan Angel, mungkin karena dia berasal dari daerah. Namun, mereka juga merasa agak lucu dengan logat Melayu yang Angel gunakan, sehingga kelas kembali riuh dengan semangat.

“Bu, maaf… Boleh saya nanya?” Mendadak suara Yani, salah satu teman sekelas Gilang yang juga anak OSIS, terdengar menginterupsi perkenalan Angel sembari mengangkat tangan kanan. Yani memang terkenal paling cerdas di kelas.

“Iya, Yani,” ujar Ibu Tian, berusaha memberikan ruang bagi Yani untuk bertanya. “Ada apa?”

“Kamu beneran dari Aceh?” tanya Yani pada Angel.

Angel mengangguk, tersenyum. “Saya memang dari Aceh. Kedua orangtua saya berasal dari sana,” terang Angel.

“Emm… kayaknya jarang deh ada orang Aceh yang punya nama Angel. Jadi agak ganjil aja.”

Angel kembali tersenyum. “Nama saya memang kurang lazim bagi orang Aceh. Tapi nama ini diberikan oleh ibu saya, khusus untuk mengenang sahabatnya. Namanya Angela Ferdinand, dia orang Filipina. Sewaktu dia dan ibu saya kuliah di Jepang, dia banyak menolong ibu saya dan kebaikannya sangat membekas di hati ibu saya.”

Angel kemudian menarik napas. Para murid menunggu ucapan berikutnya.

“Tapi sayangnya, dia tak berumur panjang. Setelah mereka lulus, teman ibu itu sempat berkunjung ke Aceh untuk menengok Ibu yang sedang mengandung saya, dia mengalami kecelakaan di Manila. Ibu saya sangat terpukul, dan akhirnya memutuskan memberi saya nama Angel sebagai kenangan akan temannya itu. Dan sampai sekarang, Alhamdulillah, nama ini tidak jadi masalah,” tutur Angel, kemudian tertawa kecil.

Para murid terdiam dan mengangguk.

“Ada yang mau bertanya lagi kepada teman baru kita?” tanya Ibu Tian. Tapi sepertinya tidak ada lagi yang penasaran, terutama murid-murid lelaki. Mereka sudah terlanjur terpesona pada paras cantik Angel.

Kemudian Ibu Tian mempersilakan Angel mencari tempat duduk kosong. Angel memperhatikan bangku yang tersisa. Hanya ada dua tempat, satu di sebelah Hendra dan satu lagi di bangku Gilang yang tengah tertidur.

Ibu Tian memulai pelajaran yang memang saat ini adalah jam pelajarannya, Bahasa Indonesia. Angel menghampiri Hendra yang tampak gugup dan Gilang yang tertidur di atas kedua tangannya yang terlipat di meja. Ketika langkah kaki Angel semakin mendekat ke arah Hendra, jantungnya berdetak kencang. Dia pernah mendengar kalau gadis Aceh sangat cantik dan kali ini, setelah melihat langsung, dia percaya bahwa itu benar.

Hendra sudah membersihkan bangku sebelahnya demi Angel dan siap melempar senyum sebagai teman sebangku. Tetapi senyumnya mendadak tertahan, ketika langkah Angel berhenti di bangku Gilang. Kemudian gadis itu duduk dengan rapi. Setelah meletakkan tas, Angel mengeluarkan buku-buku di meja. Gilang sendiri tak menyadari kehadiran Angel di sampingnya. Dia masih tertidur pulas. Beberapa saat sebelum kelas dimulai, Hendra menyapa Angel pelan dari belakang bangku.

“Pagi… Angel. Kenalin gue Hendra.”

“Hai Hendra, salam kenal juga.”

“Kamu kenapa duduk di situ? Kalau kamu nggak ngerti sama pelajarannya, kamu bisa duduk sama gue.”

“Saya di sini saja. Supaya bisa lebih fokus mendengar penjelasan guru,” respons Angel.

“Gitu ya,“ kata Hendra penuh penyesalan. Kini dia benar-benar mengutuki diri sendiri karena sudah bertukar bangku.

Ibu Tian melanjutkan dengan meminta semua murid membacakan puisi yang ditulis oleh sastrawan Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Tak lama Gilang terbangun karena suara keramaian dan mengucek-ngucek mata. Dia menoleh ke samping dan kaget melihat sosok asing tersenyum kepadanya. Gilang merasa malu karena tak sadar sudah tertidur.

“Gilang, bacakan bait puisi selanjutnya,” kata Ibu Tian, menegur Gilang karena dia tidak mengerjakan tugas yang diberikan.

Gilang langsung kebingungan karena tak menyimak sejak awal apa yang dipelajari. Tiba-tiba Angel menggeser buku Bahasa Indonesia miliknya dan menunjuk bait puisi yang harus Gilang bacakan.

Gilang tersenyum, terkesan dengan kebaikan Angel, lalu berdiri sambil membacakan lanjutan bait puisi yang sedang dibahas dengan benar dan selamat dari kemarahan Ibu Tian. Ketika selesai, dikembalikannya buku itu kepada Angel.

“Bagus Gilang. Tapi, tolong jangan tidur di kelas lagi, atau kamu ingin tidur di toilet saja?”

Gilang tidak menjawab dan hanya menggeleng. Dia sangat malu, terutama terhadap Angel.

“Makasih ya, maaf ngerepotin.”

“Tidak apa-apa.” Angel tersenyum hangat pada Gilang.

Hendra yang melihat adegan tersebut semakin bersedih dan hanya bisa ‘menggigit jari’ karena iri atas kebersamaan Gilang dan Angel yang seharusnya duduk dengannya.

Selang satu setengah jam kemudian, kelas berakhir.

Gilang merobek selembar kertas, lalu membentuknya menjadi pesawat. Tak lama dia memberikan pesawat lipat itu kepada Angel.

“Buat kamu, hadiah karena sudah ngebantuin tadi. Oh ya, nama gue Gilang, atau lengkapnya Antariksa Gilang.”

“Wah ini apa? Pesawat ya?”

“Yap.”

“Nama saya Angel. Makasih hadiahnya.”

“Sama-sama.”

“Maaf juga saya tidak sempat izin duduk di sini karena kamu tadi tertidur.”

“Oh… nggak apa-apa kok. Santai saja. Kamu anak baru? Kalau mau tanya-tanya, bilang saja.”

“Iya, Gilang, terima kasih.”

Dari belakang, diam-diam Hendra memperhatikan pembicaraan mereka. Kemudian Gilang menoleh dan memasang wajah meledek pada Hendra.

Inilah awal persahabatan Gilang dan Angel. Sebelum guru berikutnya masuk, mereka berbincang mengenai banyak hal, terutama tentang sekolah.

“Angel kalau boleh tahu, kamu asli mana?”

“Saya dari Aceh. Tadi kamu tidur sih, makanya tidak menyimak.” Angel tertawa manis.

“Maaf, gue capek banget habis lari pagi.”

“Begitu ya… Tidak apa-apa. Saya dari Aceh, tapi pindah ke Medan waktu umur saya 11 tahun kemudian bolak-balik Aceh-Medan sampai akhirnya sekarang ke Jakarta.”

“Lalu gimana kamu bisa pindah ke Jakarta? Apalagi kelas tiga kayak gini sebentar lagi lulus, kan?” tanya Gilang agak penasaran.

“Ceritanya panjang. Tapi singkat aja ya.”

“Boleh.”

“Tapi janji dulu sama saya.”

“Janji kenapa?”

“Tadi kamu bilang saya boleh nanya tentang hal-hal penting sekolah ini, gimana kalau pulang sekolah kamu antarkan saya keliling supaya kelak tidak nyasar di sekolah sebesar ini.”

“Kalau itu mah gampang!”

“Terima kasih…”

Angel begitu jujur menceritakan kisah hidupnya kepada Gilang. Latar belakang hidupnya sebagai gadis berusia 17 tahun. Dia lahir di Banda Aceh yang mengalami konflik berkepanjangan antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka. Ayahnya seorang dokter dan juga pegawai negeri sipil. Ketika usia Angel 11 tahun, kondisi Aceh begitu mencekam dengan adanya darurat militer, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Medan bersamaan dengan tugas baru ayahnya di sebuah rumah sakit pemerintah.

Angel sudah terbiasa memulai kehidupan baru dan mencoba melupakan trauma ketika dia melihat sendiri kematian demi kematian yang terjadi di Aceh dan bagaimana ayahnya bertugas untuk membantu korban agar tetap hidup. Melihat kegigihan dan perjuangan sang ayah, dia pun terinspirasi menjadi seperti ayahnya kelak, seorang dokter. Lingkungan yang baru dan teman-teman yang baru menjadi hal yang selalu dia jalani saaat mengikuti ke mana pun ayahnya bertugas. Angel mencoba menikmati semua perjalanan hidupnya sebelum dia bisa mandiri.

Walau harus hidup berpindah-pindah, Angel termasuk anak yang pintar. Dia memiliki nilai di atas rata-rata dan selalu menjadi juara kelas. Walau masuk pada caturwulan dua sebelum kelulusan SMA, dia tak perlu khawatir karena sekolah pasti menerimanya.

 

Sebagai hari pertama persahabatan mereka, sepulang sekolah, Gilang akhirnya menepati janjinya untuk menjadi tour guide bagi Angel. Tak lupa dia juga mengajak Hendra. Mereka menunjukkan kepada Angel lokasi-lokasi terpenting di SMA Bhinneka Tunggal Ika; mulai dari kantin, ruang guru, lapangan olahraga dan yang paling diharapkan oleh Angel adalah perpustakaan. Gadis itu gemar sekali membaca dan belum pernah menemukan perpustakaan yang begitu lengkap dan megah selain di sekolah ini. Dia bertekad dalam hati akan menghabiskan waktunya untuk membaca semua buku yang ada di perpustakaan sekolah.

Bagi Angel, perpustakaan seperti rumah kedua. Tempat dia bisa bertualang ke berbagai negeri tanpa harus melangkahkan kaki.

Mengunjungi perpustakaan bukanlah hobi Gilang maupun Hendra. Mereka lebih bersemangat berada di lapangan olahraga, menghabiskan waktu bermain basket, tapi Angel mengajarkan satu hal yang penting kepada mereka.

“Saat-saat inilah kita bisa mengenang masa-masa di sekolah. Kelak setelah lulus, kita pasti merindukan masa-masa berada di perpustakaan. Dan ini juga adalah modal awal kita untuk berperang menghadapi ujian nasional. Nah, mari kita mulai menjadikan perpustakaan sebagai tempat perjuangan.”

Gilang dan Hendra bertatapan, mereka tak bisa membantah kecerdasan dan kebenaran kata-kata Angel. Mereka berusaha mengurangi kebiasaan di lapangan basket dan lebih memilih duduk manis bersama buku-buku perpustakaan yang menumpuk penuh di samping meja tempat mereka bersandar, seperti yang Angel lakukan pada hari pertama di perpustakaan sekolah.

Setumpuk buku di sampingnya dilahap habis hanya dalam waktu satu jam. Ketika perpustakaan tutup pada pukul dua siang, Angel terlihat sedih. Bagi Hendra dan Gilang, seumur hidup baru kali ini mereka menemukan sosok unik dan berbeda dari gadis mana pun. Biasanya gadis seusia mereka menghabiskan waktu pulang sekolah dengan pergi ke pusat perbelanjaan atau makan di tempat nongkrong. Akan tetapi Angel… dia seolah mengatakan bahwa dunianya berbeda.

Perpisahan di pintu gerbang sekolah diakhiri dengan munculnya ayah Angel yang menjemput putri kesayangannya. Pria itu baru pulang dari praktik pertamanya di rumah sakit. Gilang dan Hendra menghampiri dan menyalami dengan mencium tangan ayah Angel. Ketika Angel pergi, kedua sahabat itu tanpa sadar saling mengucapkan kata-kata yang sama.

“Gue…” kata Gilang dan Hendra bersamaan.

“Oke, oke, lo dulu!” kata Gilang.

“Gue kagum sekaligus shock lihat Angel. Sumpah mati gue kagum dan nggak bisa berkata apa-apa. Takjub banget gue. Sudah muslimah, cantik, pintar, baik lagi. Astaga! Gue benar-benar harus nikahin ini orang!” seru Hendra.

“Kejauhan banget sih lo mikirnya sampai nikahin segala.”

“Kenapa memangnya? Sudah saatnya dan zamannya, kan?”

“Dra… kali ini gue sebagai teman juga pengen bilang, kayaknya lo benar. Dia beda. Benar-benar beda. Bisa lo bayangin? Ada ratusan cewek di sekolah ini, tapi cuma dia selain wali kelas kita yang pakai kerudung, kan?”

“Terus…”

“Terus ya… kita buktikan siapa yang bisa rebut hati Angel.”

“Sialan… teman macam apa lo?! Kok gitu sih?!” teriak Hendra kesal.

“Nggak kok, gue bercanda. Ha ha ha… Tenang aja Man, gue masih pengen jadi tentara. Masih fokus. Gue temanan saja sama Angel, kok.” Gilang berusaha menenangkan sahabatnya.

Alhamdulillah. Gitu dong… jangan bikin gue patah semangat.”

Kemudian kedua sahabat itu beranjak dari gerbang dan pulang ke rumah masing-masing. Angel sudah berada di dalam mobil. Dia mengeluarkan pesawat kertas yang dibuat Gilang untuknya, kemudian tersenyum.

Tak lama mereka tiba di rumah. Rumah bertingkat dua dengan taman luas ditutupi gerbang kayu yang tampak tradisional. Mereka disambut oleh ibu Angel, yang kecantikannya tak pudar oleh usia. Mudah dimengerti dari mana Angel mewarisi kecantikannya. Dengan hangat, ibu Angel mencium tangan suaminya dan pipi putrinya.

 

***

←Older