[x]Close

seminar surabaya kampus unesa ayo hadir januari ini..

IMG_2830

 

 

 

 

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

agnes davonar

SEBELUM SEMUA BERAKHIR – CERPEN 179

mata

 

“ Dalam hidup, ketika sebelum semua berakhir dalam hidupku. Aku hanya punya satu impian di dunia ini. Sekali saja dalam hidupku, yaitu melihat indahnya dunia sebelum Tuhan memanggilku.”

 

Tentang Angel

Namanya Angel, gadis ceria yang berusaha membuat semua orang tersenyum padanya. Ia melihat dunia setiap paginya dengan sukacita dan tak pernah ingin berhenti ingin tau akan apa yang ada di depannya. Melangkah dengan pasti menunggu waktu tertutup sampai ia tak bisa bergerak hanya saat ia tertidur di malam hari. Tak ada yang bisa melukiskan betapa bahagianya ia terlahir di dunia ini, padahal usianya 21 tahun dan sukacita itu selalu ia bagikan kepada siapapun yang ia temuin. Hatinya sungguh mulia, ia menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Mendorong becak yang pak tua yang kesulitan , membantu seorang nenek menyeberang jalan raya bahkan membagi payung miliknya kepada orang lain yang terkena hujan dan membiarkan tubuhnya sendiri merasakan hujan.

Tentang Aji,

Tubuhnya besar dan atletis. Ia bertugas memandang laut setiap harinya. Memastikan tak ada yang mengalami musibah karena kejahatan atau merusak kenyamanan ombak laut yang indah menghebus sekitar pantai Losari, makassar dimana ia berkerja sebagai polisi sekitar pantai. Ia tampan dan satu-satunya yang membuat orang lain tak pernah mau mendekat padanya adalah sifatnya yang dingin dan tak bersahabat terhadap siapapun. Ia hanya bicara seadanya kepada orang lain. Ia hanya menjawab apa yang ia sukai, ia tidak pernah dekat dengan perempuan. Ia bekerja professional hanya saat ia berkerja menindak laporan warga sekitar pantai yang terganggu oleh ulah-ulah usil tangan-tangan jahat.

 

Tentang mereka.

Mereka berdua dipisahkan jarak yang jauh antara pulau yang berbeda. Tapi suatu ketika, Angel memutuskan untuk pindah ke Makassar karena satu alasan pribadi yang ia sendiri bingung untuk menjelaskan. Ia meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi menginap di rumah bibinya yang bersuamikan orang bugis dan tinggal di Makassar. Angel mencoba menikmati semua yang bisa ia lakukan di kota barunya termasuk berkunjung ke pantai losari di hari pertama ia turun dari pesawat  untuk sekedar menikmati hari indahnya sambil menunggu matahari terbenam.

Sial baginya ketika asyik memandang langit yang cerah, seorang penjamblet mengambil tasnya dan ketika tasnya melayang ia hanya bisa berteriak tanpa ada yang bisa menolongnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk melapor ke polsek terdekat dimana Aji bertugas. Proseder pelaporan berjalan baik sampai akhirnya angel sendiri lupa akan alamat bibinya.

“jadi kamu bukan orang Makassar dan sedang berlibur di Makassar dan lupa dimana tempat tinggal bibi kamu?”

“gimana saya mau tau? Hendphone saya saja diambil sama pejambret itu. Dompet saya pun melayang. Saya benar-benar lupa dimana bibi saya tinggal”

“lalu apa yang bisa kami lakukan untuk anda” Tanya aji

“boleh pinjam telepon kamu untuk telepon ibu saya di Jakarta dan menanyakan bibi saya”

“ tapi kamu ingat kan nomor telepon ibu kamu?”

“100% saya ingat di luar kepala..”

Aji pun meminjamkan teleponnya dan singkat cerita angel bisa menghubungi bibinya, celakanya bibinya tidak bisa menjemput karena sedang sakit. Angel pun benar-benar merepotkan Aji. Perwira polisi yang baru saja berdinas empa tahun di Makassar pun akhirnya mendapatkan perintah dari komandanya untuk mengantarkan Angel sampai ke rumah bibinya dengan selamat.  Sepanjang perjalanan Angel hanya terdiam memperhatikan Aji. Entah mengapa ada getaran yang aneh saat ia melihat sosok aji. Seperti tak asing dalam hidupnya.

Aji orang yang dingin, angel yang banyak bertanya hanya mendapatkan jawaban singkat dari Aji saat berkomunikasi.

“ sudah sampai, ini alamat sesuai yang bibi kamu bilang?”

“iya makasih ya.mau ke dalam dulu untuk sekedar minum teh?”

“gak perlu saya banyak kerjaan. “

Angel menarik nafas dalam-dalam kemudian mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kebaikan Aji yang dijawab dengan wajah jutek dan dingin.

“itu sudah tugas saya sebagai polisi”

Dengan tersenyum kecil, angel kembali ke rumah. Bibinya yang sakit menyambutnya dengan kebingungan akan peristiwa yang angel alami untuk hari pertamanya di Makassar. Malamnya angel masuk ke kamar dan membuka koper pribadinya. Ia membuka sebuah diari yang sudah setahun ini ia simpan dan baca setiap malamnya.

***

Keesokan harinya sebagai ungkapan terima kasih atas bantuan yang diberikan Aji. Angel pergi ke kantor polisi sambil membawa makanan yang ia masak sendiri. Ia membagikan makanan itu kepada petugas polsek setempat. Komandan Aji merasa senang dengan masakan Angel. Tapi tidak dengan Aji yang sepertinya sama sekali tidak menyentuh makanan yang dibawa Angel. Sebagai perintah atas kebaikan Angel. Komandan Aji kemudian memerintahkan Aji untuk mengantarkan Angel pulang ke rumah. Aji pun merasa kesal tapi ia tidak bisa menolak perintah itu.

Di dalam mobil yang sunyi.

“aji boleh gak anterin saya ke tempat ini sebentar” kata angel sambil memberikan catatan kepada aji sebuah tempat toko bunga.

“gak bisa, saya gak ada waktu.”

“ kalau gitu turunkan saya saja disini. Biar saya naik taksi atau jalan kaki saja cari toko bunganya”

Aji kemudian meminggirkan mobil ke tepian jalan.

“ silakan kamu turun. “

Dengan perasaan dongkol Angel pun menahan amarah turun dari mobil. Aji pergi berlalu saja meninggalkan Angel yang di jalan. 15 menit angel menunggu di jalan tapi tidak ada taksi yang menjemputnya. Tiba-tiba aji muncul lagi. Sambil berteriak meminta Angel masuk.

“ kok balik lagi?”

“ kamu jangan GR. saya balik lagi karena komandan saya menelepon untuk memastikan saya mengantarkan kamu sampai ke rumah. Gak lucu gara-gara kamu, saya di hokum!!”

Dengan tersenyum angel menyambut lucu kata-kata aji. Lalu mereka tiba di toko bunga yang dimaksud Angel. Pemilik toko itu sepertinya tidak asing dengan Aji. Angel memberi beberapa bunga yang kemudian ia bawa kembali. Lalu bertanya kepada Aji.

“ sepertinya kamu tidak asing sama ibu pemilik toko bunga itu?”

“memangnya jadi masalah kalau saya kenal dengan pemilik toko bunga itu untuk kamu?”

“ ya. gak gitu juga. Kan saya hanya bertanya?”

“ toko bunga terdekat dari kantor saya , hanya toko bunga disana. Jadi gak ada alasan saya tidak mengenal pemilik toko itu kan?”

“iya.. iya. Dijawab kan bisa tanpa harus jutek gitu..”

Aji hanya terdiam.

“mana ada cewek yang mau sama cowok jutek kayak kamu..” kata Angel bicara sendiri

“ kamu bilang apa barusan?”

“Oo.. enggak saya hanya bicara sendiri..”

Angel pun tiba di rumah dengan selamat. Sekali lagi ia menawarkan Aji untuk minum kopi sejenak dan tanpa basa basi Aji pun pergi meninggalkan Angel. Dengan wajah bingung ,Angel benar-benar tidak tau mengapa ada orang tak seramah dan sedingin itu di dunia ini.

***

Hari demi hari selanjutnya Angel tidak memiliki alasan selain pergi ke pantai losari lalu membawakan makanan untuk Aji dan teman-temannya. Angel tau apa makanan yang aji sukai, aji yang awalnya tidak mau mencicipin sekalipun makanan Angel akhirnya malah mencobanya.   Angel yang baik hati sering membantu seorang ibu tua menjual mainan baling-baling yang bila tertiup angin akan berputar kepada anak-anak yang sedang berwisata. Semua itu ia lakukan dengan ikhlas, ia memang terlahir dari keluarga yang mampu sehingga ia melakukan perkerjaan yang bisa ia lakukan dengan ikhlas kepada siapapun yang bisa ia lakukan.

Aji melihat sifat angel yang begitu mulia dan mulai merasa nyaman walau masih jutek terhadap Angel. Sampai suatu ketika, ia benar-benar melihat ketulusan Angel yang begitu berani menyelamatkan seorang anak yang nyaris tenggelam di pantai losari. Angel melompat ke dalam air laut padahal ia sendiri tidak bisa berenang.  Untungnya saat itu Aji sedang berada tak jauh darisana. Ia pun menyelamatkan Angel dan anak kecil itu.

Setelah membawa angel ke kantornya dan memberikan handuk hangat.

“kamu kenapa begitu nekad membantu anak kecil itu kamu sendiri kan tidak bisa berenang?”

“itu naluri hati saya. Saya hanya ingin menyelamatkan anak itu”

“itu kan bisa membahayakan nyawa kamu sendiri dan kalau kamu kenapa-kenapa gimana?”

Mendengar Aji begitu marah, angel terdiam dan menangis. Aji jadi bingung.

“maaf kalau saya terlalu kasar..”

“gapapa.. saya pulang dulu ya..”

“saya anterin kamu..”

“ gak usah, saya pulang sendiri saja..”

Angel kemudian memanggil taksi dan pergi begitu saja. Aji memadang dengan perasaan bersalah karena begitu marah pada angel, ia jadi tak enak hati, Karena pada dasarnya perbuatan angel adalah tindakan mulia yang sama seperti ia lakukan sebagai polisi.

Keesokan harinya setelah kejadian itu, Angel tidak pernah muncul lagi. Hari-hari kantor yang biasa dengan keceriaan angel membawakan hasil masakan yang ia buat dan keceriaan angel yang membantu dengan tulus orang-orang yang ia temui terasa hampa. Angel tidak pernah muncul untuk tiga hari kemudian, Aji pun berinisiatif pergi menuju rumah bibi Angel.  Ketika ia tiba di rumah itu, ia baru tau kalau angel sakit demam. Walau angel sakit demam ,ia tidak pernah berhenti ceria dan ramah menyambut aji.

Sesaat aji memandang angel. Ia merasa Angel mengingatkannya pada seseorang , seseorang yang membuatnya merasa tak asing. Mata angel yang indah membuat ia merasa tak asing. Ia menjadi penuh emosi dan Seketika pula sifat aji jadi dingin kembali dan memutuskan pulang. Angel jadi bingung tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Aji teringat akan sosok perempuan yang telah membuatnya begitu hancur. Sosok perempuan yang tak sengaja ia kenal di toko bunga dimana ia mengantarkan Angel untuk membeli bunga. Perempuan itu kemudian membuatnya jatuh cinta, perempuan itu mengerti hidupnya dan perempuan itu tau apa makanan yang ia sukai. Memberikan dukungan disaat Aji merasa jatuh dalam kegagalan, sosok perempuan yang ia harapkan menjadi pendamping hidupnya.

Ketika ia hendak mengutarakan niatnya menikah dengan kekasihnya, tanpa alasan yang jelas kekasihnya memutusan hubungan yang ia bina dan pergi menghilang begitu saja dalam kehidupannya. Sampai detik ini ia tidak pernah tau dimana sang kekasih yang telah menghancurkan hidupnya, membuat ia tidak percaya akan cinta sejati dan  menciptakan karaktek dingin dan apatik terhadap semua perempuan yang ia temui.

Tapi ketika melihat Angel, ia merasa berbeda, merasa Angel lahir dari sebuah masa lalunya. Ia merenung sejenak banyak sekali hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini yang membuat ia merasa Angel tak asing baginya. Ia seperti merasa..

Jatuh cinta pada Angel.. tapi masa lalu pahit yang ia alami membuatnya merasa cinta itu hampa.

***

Angel terdiam di kamar. Membuka setiap lembaran diari yang ia baca. Diari yang sesungguhya tak pernah ia tulis. Diari yang sebenarnya adalah sebuah sejarah yang tak bisa ia bayangkan pernah terjadi dalam kehidupan sebelumnya. Keesokan harinya ia meminta waktu kepada Aji untuk bertemu. Mereka duduk bersama memandang laut pantai selat kalimatan yang begitu indah. Lalu angel bertanya kepada aji untuk sebuah impian yang ia bisa lakukan.

“ aji. Kamu punya impian apa dalam hidup ini?”

“ gak perlu tau, itu hal privacy saya..”

“ kalau saya dulu punya impian sederhana saja.. kamu mau tau?”

“ terserah kalau mau cerita”

“ saya Cuma pengen apa yang saya lihat saat ini. Begitu indahnya lautan. Begitu indahnya kehidupan yang saya liat dengan kedua mata ini benar-benar nyata dalam hidup saya kelak.”

“ maksudnya gimana sih? Emang kamu ini gak nyata atau gimana?”

“ bukan begitu.. saya bahagia bisa melihat dunia ini, dulu saya Cuma minta sama Tuhan kasih kesempatan saya untuk melihat dunia sekali saja dalam hidup saya. Dan ternyata Tuhan kasih saya lebih banyak hari untuk melihat dunia ini.. dan itu benar-benar membuat saya bahagia..”

“kalau boleh tau.. kenapa kamu bicara kayak gini, kayak kamu mau pergi saja dalam hidup ini..”

“saya besok pulang ke Jakarta. Makanya saya pengen ketemu kamu.. pamitan..”

“Jakarta Makassar itu Cuma dua jam.  Jadi gak usah takut gak akan pernah ketemu lagi. “

Angel terdiam.

“ aji. Saya boleh tau gak? Harapan kamu seandainya Tuhan Cuma kasih kamu kesempatan untuk berpesan di dunia ini bilamana kamu besok dijemputnya?”

“ kamu benar-benar pengen tau?”

“iya”

“ saya Cuma pengen orang tua saya tau. Saya bangga kalau harus pergi menghadap kepada Tuhan karena pekerjaan saya sebagai polisi..”

“ kamu benar-benar luas biasa ya.. saya gak sia-sia bisa mengenal kamu.. kamu baik dan benar-benar orang baik, walau kamu jutek dan dingin.. hati kamu sebenarnya mulia dan memaafkan.”

“ sok tau kamu.. jangan menilai orang kalau kamu sendiri baru mengenalnya..”

 

Lalu angel menyerahkan sebuah diari untuk Aji.

“ini ada titipan dari seseorang untuk kamu. Semestinya ini jadi milik kamu, bukan milik saya.. saya hanya wakil darinya untuk melihat kamu.. “

“ maksudnya gimana, ini diari siapa..”

“ kamu baca saja.. saya pamit dulu ya. Bibi sudah minta saya pulang untuk makan malam perpisahan.. karena besok saya harus ke Jakarta subuh-subuh..”

Angel meninggalkan aji di pantai dan aji kemudian membuka lembaran diari yang bertuliskan nama seseorang yang tak asing baginya. Mantan kekasihnya Agnes. Ia membaca lembaran demi lembaran dimana Agnes menuliskan dengan jelas bagaimana ia pertama kali bekerja di Makassar karena ingin mencari uang dan hidup mandiri. Bagaimana agnes mengenal aji di toko bunga untuk pertama kalinya ketika Aji diminta sang komandan membeli bunga di toko untuk keperluan kantor.

Bagaimana mereka akhirnya bisa saling jatuh cinta karena seringnya aji menjadi pelanggan toko bunga sampai akhirnya angel memutuskan pergi meninggalkan aji tanpa alasan ketika Angel sadar. Ia dan Aji berbeda keyakinan dalam agama. Keduanya tidak mungkin dipersatukan kerena kepercayaan yang merekat di hati mereka yang tidak mungkin untuk dilepaskan. Cepat atau lambat hubungan yang indah itu akan berakhir karena perbedaan keyakinan tersebut.  Agnes dan Aji harus memutuskan cara terbaik untuk berpisah setelah 3 tahun hubungan mereka yang indah. Hubungan yang akhirnya kisahnya cepat atau lambat akan terjadi harus diambil dalam sebuah keputusan kedua pihak memulai.

Agnes memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kenangan bersama aji dan masa indahnya di Makassar dan pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia berkerja sebagai Supir uber. Ketika hatinya merasa hancur menjalani kehidupan, ia mencoba focus pada pekerjaan yang ia jalani dengan menghabiskan waktu mengenal penumpang-penumpang yang ia bawa. Sampai akhirnya suatu ketika ia mendapatkan penumpang yang begitu istimewa.

Seorang penumpang yang begitu menginspirasinya. Ia seorang gadis tunanetra yang tidak pernah putus asa melihat dunianya. Ia gadis yang tidak mau keterbatasan fisik yang ia alami menjadi penghalang baginya melihat dunia dengan caranya. Gadis itu sering menggunakan jasa uber mobil milik Agnes yang akhirnya membuat keduanya menjadi dekat. Dalam sebuah perjalanan membawa gadis itu ke tempat tujuan. Agnes bertanya kepada gadis itu bagaimana rasanya menjadi seorang tunanetra. Gadis itu berkata bahwa hidupnya sunyi dalam gambar tapi indah dalam suara suara yang ia dapatkan setiap harinya.

Ia berterima kasih kepada dunia teknologi yang akhirnya membuatnya bisa bersikap seperti orang normal. Bisa membaca berita dan bergerak di dunia maya lewat media social. Semua itu terasa normal walau pada akhirnya kembali kepada satu titik dimana hal ini terjadi kepada semua yang mengalami kondisi yang sama yaitu tunanetra.

“ apa impian kamu dalam kehidupan?”

“ saya hanya ingin sekali saja dalam hidup saya, bisa melihat indahnya dunia seperti yang diceritakan orang lain kepada saya. Sekali saja walau itu hanya sedetik saya akan bersyukur dan ikhlas menjalani kehidupan saya selanjutnya. “

“ apakah dunia begitu berarti untuk kamu ketahui, padahal ketika kamu bisa melihat dunia. Ketulusan yang kamu miliki karena kerterbatasan apa yang dapat kamu rasanya bisa tergoda dan mengubah cara berpikir kamu.”

“percayalah saya tidak akan pernah berubah dalam kehidupan… “

Malam itu dalam sebuah diary, Agnes pun berpikir ia juga ingin memiliki satu harapan seandainya Tuhan memanggilkan lebih cepat dari kehidupan ini. Ia berharap ia bisa memberikan kehidupanyang ia miliki kepada gadis tunanetra yang tulus itu.

Dan diari itu berakhir..

Aji kemudian masih melihat angel tak jauh dari darinya, ia berlari mendekat kepada angel.

“darimana kamu dapat diari ini?”

Dengan penuh air mata dan bergemetar..

“karena saya adalah gadis tunanetra yang ada dalam diari yang ditulis oleh kak agnes. Sebuah kecelakaan mobil terjadi disaat kami sedang melakukan perjalanan. Kak agnes meninggal dalam kecelakaan itu dan saya sekarat saa itu, Tuhan berkehendak lain kepada kami. sebelum ia pergi meninggalkan dunia ini, ia berpesan kepada Dokter untuk mendonorkan kedua matanya kepada saya. Saya bisa melihat dan membaca semua tulisan yang kak Agnes Tulis karena saya yakin, ia ingin melihat kamu juga.. ia ingin kamu tau.. bahwa ia tidak punya alasan lain mengakhiri hubungan kalian karena perbedaan yang terjadi.. lewat mata ini, dan air mata ini.. kak Agnes berharap kamu memaafkan segala keputusan yang ia lakukan..”

Aji memeluk angel. Mendekat gadis itu.

“sudah cukup.. tidak usah diteruskan.. sejak awal saya merasa kamu ada di sosok dia.  Matamu mengingatkan saya akan dia.. saya tidak pernah salah.. saya memaafkan dan ikhlas.. sungguh saya ikhlas…sekarang.. semua sudah jelas.. saya.. ikhlas..”

 

Tamat.

 

FILM SEBUAH LAGU UNTUK TUHAN RILIS 29 OKTOBER 2015

Sebuah karya Agnes Davonar kembali difilmkan oleh Rumah Produksi Film One Production. Setelah sukses dengan produksi pertamanya berjudul ‘My Idiot Brother’ (2014), Film One sudah menyiapkan proyeknya yang kedua dengan judul ‘Sebuah Lagu Untuk Tuhan’.

Film ini kembali disutradarai oleh Alyandra, yang juga menyutradarai ‘My Idiot Brother’. Ceritanya tentang gadis tunarungu yang jujur bernama Angel (diperankan oleh Eriska Rein). Suatu hari ia bertemu dengan sosok penyanyi bernama Gilang (Stefan William) yang memutuskan mundur dari dunia tarik suara karena kasus korupsi yang menimpa.

Pertemuan itu ternyata memunculkan semangat bagi Gilang untuk kembali berkarya. Perasaan itu juga karena Gilang yang jatuh cinta pada sosok Angel, dan mereka berdua menjadi pasangan yang saling menyemangati.

Kemudian kisah ini berubah menjadi pedih ketika Angel divonis mengidap penyakit kanker. Angel memutuskan untuk tidak memberitahukan kepada Gilang atas kondisi penyakitnya tersebut. Gilang yang baru belakangan tahu berusaha untuk kembali memberikan semangat dan kehidupan bagi Angel.

Film ini juga dihiasi lagu ‘Kali Ini Saja’ yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly sebagai original soundtrack. Selain Eriska dan Stefan, pelakon lain yang turut memperkuat ada aktris Nina Zatulini, Gigi ‘Chibi’, Adila Fitri dan penyanyi Dewi Yull.

‘Sebuah Lagu untuk Tuhan’ akan mulai rilis di bioskop pada 29 Oktober mendatang.

 

 

PESAWAT KERTAS TERAKHIR – EDISI NOVEL BAGIAN 1

Pesawat Kertas 5

 

Hi apa kabar semuanya

bulan ini adalah bulan dimana saya akan merilis novel terbaru saya.  judulnya

pesawat kertas terakhir. untuk menyambutnya saya akan membagikan dua bagian halaman cerita ini sebagai bonus..

DAN untuk tau gimana dapatkan buku ini cukup bergabung di fanspage instagram saya  : davonar

 

atau whaspp ke 08161444147

selamat membaca..

 

Chapter 1

 

SMA BhinnekaTunggal Ika

Pagi itu…

Selasa, 20 Juli 1999

 


Tak lama, Hendra, teman sekelas sekaligus teman sebangku Gilang yang berperawakan subur dan berkacamata menyapanya.
Suasana kelas 3-1 jurusan IPA penuh dengan murid-murid yang memasuki kelas. Tiga menit sebelum bel berbunyi, masuklah remaja 17 tahun bernama Gilang. Posturnya gagah, tapi wajahnya begitu tampak lelah dan bersimbah keringat. Dia melempar tas punggungnya yang berwarna hitam—“teman setianya” sejak dia duduk di kelas satu—ke meja. Lalu melepas topi abu-abu yang dia kenakan untuk menutupi rambutnya yang cepak dan mengipas-ipas topi itu untuk menyejukkan tubuhnya yang kepanasan. Bajunya yang putih nyaris seperti baru diambil dari jemuran ketika basah.

“Kenapa lo?” tanya Hendra penasaran. Tapi belum sempat Gilang menjawab, Hendra memberikan sebotol air mineral yang dia bawa dari rumah.

Tanpa banyak komentar, Gilang langsung mereguk air dalam botol tersebut.

Hendra yang memperhatikan sahabatnya, segera menarik botol dari depan mulut Gilang ketika melihat airnya nyaris habis tertelan.

“Jangan dihabisin dong! Gue juga mau kali…” teriak Hendra.

“Sori, Dra, gue haus banget,” ujar Gilang, lalu tersenyum lega.

“Akhir-akhir ini gue lihat lo sering banget keringatan dekil gini pagi-pagi. Nggak mandi atau gimana?”

“Gue abis lari pagi, makanya keringatan,” kata Gilang, menerangkan.

“Buat apa, Lang? Emang lo mau ikutan Olimpiade? Gaya lo, bukannya fokus lulus sekolah aja! Gak bosen pake seragam abu-abu melulu?” tanya Hendra.

“Ya bosenlah! Kan waktu itu gue pernah bilang, gue pengen banget masuk sekolah tentara. Jadi gue mulai harus biasain latihan fisik tiap pagi. Ya kayak gini. Lari, push up, angkat beban, ya semacam itulah. Lo juga ikut dong sesekali biar kurusan dikit, biar gak kayak doraemon gitu.” Lalu Gilang tertawa puas.

“Wuidih… serem, Nyong! Tapi emang benaran lo niat banget jadi tentara? Perasaan negara lagi aman deh?” Hendra sepertinya masih tak percaya akan perkataan Gilang.

“Dra, jadi tentara itu impian gue banget. Walau negara ini lagi aman, tetap aja butuh tentara, makanya mulai dari sekarang fisik gue harus kuat.”

Hendra mengangguk. “Emangnya lo lari dari mana ke mana sih?”

“Ya nggak jauh-jauh. Dari rumah ke sekolah aja. Berapa tuh kira-kira? Ada kurang-lebih tiga kilometer, ya? Jadi yang biasanya gue naik motor ke sekolah, sekarang gue jalan kaki aja. Nah, kalo angkat beban sama push up, itu gue lakuin di rumah, sebelum mandi.“

“Waduh, nggak deh. Gue belum siap menderita! Tapi gue hargai impian lo. Gue bantu doa aja ya biar lo keterima jadi tentara,“ oceh Hendra, lalu meneguk sisa isi botol.

Kemudian Hendra duduk di samping Gilang. Wajahnya mendadak serius. Dia menarik napas panjang lalu berkata, “Lang, mulai sekarang kita nggak duduk sebangku lagi, ya!” serunya tanpa sedikit pun terlihat bercanda.

Gilang terdiam sesaat. “Kenapa? Kok tiba-tiba gitu?” Dia mengerutkan dahi.

“Gue memutuskan mau duduk sendiri aja.”

“Jangan dong, Dra. Lo kan tahu gue paling bego di kelas kalau nggak ada lo. Gimana nasib gue kalau ulangan? Gimana kalau gue nanti nggak lulus? Lo tahu kan gue terpaksa masuk IPA karena syarat taruna militer itu minimal IPA.”

Hendra tidak goyah. “Kali ini benar-benar berat, Lang. Gue nggak mau pas lulus nanti, gue belom dapat pacar. Gue udah bertekad bakal deketin dia.”

“Dia siapa?” selidik Gilang.

Hendra menggaruk-garuk kepala. Lalu mendekati wajah Gilang. “Lo serius nggak tahu?”

“Nggak. Dia siapa sih?”

“Gilang… satu kelas di sini udah pada tahu, apalagi cowok-cowok. Bakal ada satu murid baru di kelas kita, cewek, Lang. Nah, gue mau ngincer dia! Masa lo nggak tahu? Kan kemarin wali kelas sudah kasih tahu bakal ada anak baru.”

“Gue kemarin ketiduran pas pelajaran Bu Tian. Jadi, mana gue inget?!”

“Emang gue pikirin.”

Dengan kesal, Gilang menarik kerah baju Hendra dan membuatnya tercekik.

“Jadi lo mutusin persahabatan kita cuma gara-gara ada anak baru yang bakal pindah ke kelas ini dan lo ngincer dia jadi pacar?!”

“Duh, lepasin! Kecekek nih gue…” teriak Hendra. Gilang pun melepaskan kerah seragam Hendra.

“Lang, lo sadar nggak sih semua murid di kelas ini pada duduk sesuai aturan, cewek duduk sama cowok. Tapi kenapa nasib kita saja yang harus duduk berdua? Sekali-sekali gue pengen mengubah nasib. Gue bosen sendirian di sekolah ini. Jadi lo ngerti, kan?”

“Ya udah, terserah kalau emang mau pindah bangku. Sana pergi jauh-jauh,” ketus Gilang.

Hendra merapikan kerah seragamnya. Lalu dia tersenyum ‘iblis’ pada Gilang.

“Sori, Lang, demi cinta sejati kita cerai dulu. Gue sengaja duduk sendiri supaya nanti dia bisa duduk sama gue. Bangku di kelas sudah full, kecuali yang satu itu. Nah kalau kita pisah, dia kan bisa duduk sama gue,” ujar Hendra sambil menunjuk ke belakang.

Gilang tampak tak acuh dengan omongan sahabatnya. Dia terlanjur kesal dengan Hendra yang rela pindah bangku demi seorang gadis. Hendra kini duduk di belakang Gilang. Mereka duduk di barisan pojok kiri kelas, total bangku ada 16 yang dibagi menjadi 4 baris.

Tak lama bel berdering, menggema di sepenjuru sekolah. Murid-murid yang masih berada di luar serta-merta memasuki ruang kelas.

Hendra tak sabar lagi ingin bertemu si anak baru. Gadis yang akan diincarnya. Maklum, sepanjang hidup, dia belum pernah pacaran. Gadis-gadis di sekolah tak ada yang mau menerimanya sebagai pacar ketika dia menyatakan cinta. Hanya kepada anak baru ini, cinta dan harapan Hendra akan dia perjuangkan.

Di sudut lain, Gilang tampak mengantuk karena kelelahan sehabis lari pagi dari rumahnya menuju sekolah. Tak lama matanya malah terpejam.

Suasana kelas masih saja riuh saat Ibu Tian, wali kelas 3 IPA 1 berjalan bersama seorang gadis cantik. Gadis itu tampak lembut, berkerudung dan menutupi diri layaknya seorang muslimah. Sekolah ini tidak mewajibkan anak-anak perempuan memakai kerudung dan mungkin baru dia murid berkerudung di SMA Bhinneka Tunggal Ika. Anak baru itu berdiri di tengah kelas bersama Ibu Tian. Murid-murid saling berbisik sebelum suara mereka menghilang ketika Ibu Tian mulai bicara.

“Selamat pagi anak-anak…”

“Pagi, Bu…” seru seisi kelas penuh antusias.

“Hari ini Ibu ingin memperkenalkan anak baru di kelas kita.”

Ibu Tian tersenyum, lalu mempersilakan anak baru tersebut untuk memperkenalkan diri. Hendra menatap penuh kagum. Sedangkan Gilang tertidur di kelas.

Assalamualaikum… selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Angel. Saya baru pindah dari Medan mengikuti ayah saya yang mendapatkan tugas di sini. Saya lahir di Aceh dan besar di Medan. Semoga teman-teman bersedia membantu saya. Terima kasih.”

Anak-anak terkejut dengan kesantunan Angel, mungkin karena dia berasal dari daerah. Namun, mereka juga merasa agak lucu dengan logat Melayu yang Angel gunakan, sehingga kelas kembali riuh dengan semangat.

“Bu, maaf… Boleh saya nanya?” Mendadak suara Yani, salah satu teman sekelas Gilang yang juga anak OSIS, terdengar menginterupsi perkenalan Angel sembari mengangkat tangan kanan. Yani memang terkenal paling cerdas di kelas.

“Iya, Yani,” ujar Ibu Tian, berusaha memberikan ruang bagi Yani untuk bertanya. “Ada apa?”

“Kamu beneran dari Aceh?” tanya Yani pada Angel.

Angel mengangguk, tersenyum. “Saya memang dari Aceh. Kedua orangtua saya berasal dari sana,” terang Angel.

“Emm… kayaknya jarang deh ada orang Aceh yang punya nama Angel. Jadi agak ganjil aja.”

Angel kembali tersenyum. “Nama saya memang kurang lazim bagi orang Aceh. Tapi nama ini diberikan oleh ibu saya, khusus untuk mengenang sahabatnya. Namanya Angela Ferdinand, dia orang Filipina. Sewaktu dia dan ibu saya kuliah di Jepang, dia banyak menolong ibu saya dan kebaikannya sangat membekas di hati ibu saya.”

Angel kemudian menarik napas. Para murid menunggu ucapan berikutnya.

“Tapi sayangnya, dia tak berumur panjang. Setelah mereka lulus, teman ibu itu sempat berkunjung ke Aceh untuk menengok Ibu yang sedang mengandung saya, dia mengalami kecelakaan di Manila. Ibu saya sangat terpukul, dan akhirnya memutuskan memberi saya nama Angel sebagai kenangan akan temannya itu. Dan sampai sekarang, Alhamdulillah, nama ini tidak jadi masalah,” tutur Angel, kemudian tertawa kecil.

Para murid terdiam dan mengangguk.

“Ada yang mau bertanya lagi kepada teman baru kita?” tanya Ibu Tian. Tapi sepertinya tidak ada lagi yang penasaran, terutama murid-murid lelaki. Mereka sudah terlanjur terpesona pada paras cantik Angel.

Kemudian Ibu Tian mempersilakan Angel mencari tempat duduk kosong. Angel memperhatikan bangku yang tersisa. Hanya ada dua tempat, satu di sebelah Hendra dan satu lagi di bangku Gilang yang tengah tertidur.

Ibu Tian memulai pelajaran yang memang saat ini adalah jam pelajarannya, Bahasa Indonesia. Angel menghampiri Hendra yang tampak gugup dan Gilang yang tertidur di atas kedua tangannya yang terlipat di meja. Ketika langkah kaki Angel semakin mendekat ke arah Hendra, jantungnya berdetak kencang. Dia pernah mendengar kalau gadis Aceh sangat cantik dan kali ini, setelah melihat langsung, dia percaya bahwa itu benar.

Hendra sudah membersihkan bangku sebelahnya demi Angel dan siap melempar senyum sebagai teman sebangku. Tetapi senyumnya mendadak tertahan, ketika langkah Angel berhenti di bangku Gilang. Kemudian gadis itu duduk dengan rapi. Setelah meletakkan tas, Angel mengeluarkan buku-buku di meja. Gilang sendiri tak menyadari kehadiran Angel di sampingnya. Dia masih tertidur pulas. Beberapa saat sebelum kelas dimulai, Hendra menyapa Angel pelan dari belakang bangku.

“Pagi… Angel. Kenalin gue Hendra.”

“Hai Hendra, salam kenal juga.”

“Kamu kenapa duduk di situ? Kalau kamu nggak ngerti sama pelajarannya, kamu bisa duduk sama gue.”

“Saya di sini saja. Supaya bisa lebih fokus mendengar penjelasan guru,” respons Angel.

“Gitu ya,“ kata Hendra penuh penyesalan. Kini dia benar-benar mengutuki diri sendiri karena sudah bertukar bangku.

Ibu Tian melanjutkan dengan meminta semua murid membacakan puisi yang ditulis oleh sastrawan Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Tak lama Gilang terbangun karena suara keramaian dan mengucek-ngucek mata. Dia menoleh ke samping dan kaget melihat sosok asing tersenyum kepadanya. Gilang merasa malu karena tak sadar sudah tertidur.

“Gilang, bacakan bait puisi selanjutnya,” kata Ibu Tian, menegur Gilang karena dia tidak mengerjakan tugas yang diberikan.

Gilang langsung kebingungan karena tak menyimak sejak awal apa yang dipelajari. Tiba-tiba Angel menggeser buku Bahasa Indonesia miliknya dan menunjuk bait puisi yang harus Gilang bacakan.

Gilang tersenyum, terkesan dengan kebaikan Angel, lalu berdiri sambil membacakan lanjutan bait puisi yang sedang dibahas dengan benar dan selamat dari kemarahan Ibu Tian. Ketika selesai, dikembalikannya buku itu kepada Angel.

“Bagus Gilang. Tapi, tolong jangan tidur di kelas lagi, atau kamu ingin tidur di toilet saja?”

Gilang tidak menjawab dan hanya menggeleng. Dia sangat malu, terutama terhadap Angel.

“Makasih ya, maaf ngerepotin.”

“Tidak apa-apa.” Angel tersenyum hangat pada Gilang.

Hendra yang melihat adegan tersebut semakin bersedih dan hanya bisa ‘menggigit jari’ karena iri atas kebersamaan Gilang dan Angel yang seharusnya duduk dengannya.

Selang satu setengah jam kemudian, kelas berakhir.

Gilang merobek selembar kertas, lalu membentuknya menjadi pesawat. Tak lama dia memberikan pesawat lipat itu kepada Angel.

“Buat kamu, hadiah karena sudah ngebantuin tadi. Oh ya, nama gue Gilang, atau lengkapnya Antariksa Gilang.”

“Wah ini apa? Pesawat ya?”

“Yap.”

“Nama saya Angel. Makasih hadiahnya.”

“Sama-sama.”

“Maaf juga saya tidak sempat izin duduk di sini karena kamu tadi tertidur.”

“Oh… nggak apa-apa kok. Santai saja. Kamu anak baru? Kalau mau tanya-tanya, bilang saja.”

“Iya, Gilang, terima kasih.”

Dari belakang, diam-diam Hendra memperhatikan pembicaraan mereka. Kemudian Gilang menoleh dan memasang wajah meledek pada Hendra.

Inilah awal persahabatan Gilang dan Angel. Sebelum guru berikutnya masuk, mereka berbincang mengenai banyak hal, terutama tentang sekolah.

“Angel kalau boleh tahu, kamu asli mana?”

“Saya dari Aceh. Tadi kamu tidur sih, makanya tidak menyimak.” Angel tertawa manis.

“Maaf, gue capek banget habis lari pagi.”

“Begitu ya… Tidak apa-apa. Saya dari Aceh, tapi pindah ke Medan waktu umur saya 11 tahun kemudian bolak-balik Aceh-Medan sampai akhirnya sekarang ke Jakarta.”

“Lalu gimana kamu bisa pindah ke Jakarta? Apalagi kelas tiga kayak gini sebentar lagi lulus, kan?” tanya Gilang agak penasaran.

“Ceritanya panjang. Tapi singkat aja ya.”

“Boleh.”

“Tapi janji dulu sama saya.”

“Janji kenapa?”

“Tadi kamu bilang saya boleh nanya tentang hal-hal penting sekolah ini, gimana kalau pulang sekolah kamu antarkan saya keliling supaya kelak tidak nyasar di sekolah sebesar ini.”

“Kalau itu mah gampang!”

“Terima kasih…”

Angel begitu jujur menceritakan kisah hidupnya kepada Gilang. Latar belakang hidupnya sebagai gadis berusia 17 tahun. Dia lahir di Banda Aceh yang mengalami konflik berkepanjangan antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka. Ayahnya seorang dokter dan juga pegawai negeri sipil. Ketika usia Angel 11 tahun, kondisi Aceh begitu mencekam dengan adanya darurat militer, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Medan bersamaan dengan tugas baru ayahnya di sebuah rumah sakit pemerintah.

Angel sudah terbiasa memulai kehidupan baru dan mencoba melupakan trauma ketika dia melihat sendiri kematian demi kematian yang terjadi di Aceh dan bagaimana ayahnya bertugas untuk membantu korban agar tetap hidup. Melihat kegigihan dan perjuangan sang ayah, dia pun terinspirasi menjadi seperti ayahnya kelak, seorang dokter. Lingkungan yang baru dan teman-teman yang baru menjadi hal yang selalu dia jalani saaat mengikuti ke mana pun ayahnya bertugas. Angel mencoba menikmati semua perjalanan hidupnya sebelum dia bisa mandiri.

Walau harus hidup berpindah-pindah, Angel termasuk anak yang pintar. Dia memiliki nilai di atas rata-rata dan selalu menjadi juara kelas. Walau masuk pada caturwulan dua sebelum kelulusan SMA, dia tak perlu khawatir karena sekolah pasti menerimanya.

 

Sebagai hari pertama persahabatan mereka, sepulang sekolah, Gilang akhirnya menepati janjinya untuk menjadi tour guide bagi Angel. Tak lupa dia juga mengajak Hendra. Mereka menunjukkan kepada Angel lokasi-lokasi terpenting di SMA Bhinneka Tunggal Ika; mulai dari kantin, ruang guru, lapangan olahraga dan yang paling diharapkan oleh Angel adalah perpustakaan. Gadis itu gemar sekali membaca dan belum pernah menemukan perpustakaan yang begitu lengkap dan megah selain di sekolah ini. Dia bertekad dalam hati akan menghabiskan waktunya untuk membaca semua buku yang ada di perpustakaan sekolah.

Bagi Angel, perpustakaan seperti rumah kedua. Tempat dia bisa bertualang ke berbagai negeri tanpa harus melangkahkan kaki.

Mengunjungi perpustakaan bukanlah hobi Gilang maupun Hendra. Mereka lebih bersemangat berada di lapangan olahraga, menghabiskan waktu bermain basket, tapi Angel mengajarkan satu hal yang penting kepada mereka.

“Saat-saat inilah kita bisa mengenang masa-masa di sekolah. Kelak setelah lulus, kita pasti merindukan masa-masa berada di perpustakaan. Dan ini juga adalah modal awal kita untuk berperang menghadapi ujian nasional. Nah, mari kita mulai menjadikan perpustakaan sebagai tempat perjuangan.”

Gilang dan Hendra bertatapan, mereka tak bisa membantah kecerdasan dan kebenaran kata-kata Angel. Mereka berusaha mengurangi kebiasaan di lapangan basket dan lebih memilih duduk manis bersama buku-buku perpustakaan yang menumpuk penuh di samping meja tempat mereka bersandar, seperti yang Angel lakukan pada hari pertama di perpustakaan sekolah.

Setumpuk buku di sampingnya dilahap habis hanya dalam waktu satu jam. Ketika perpustakaan tutup pada pukul dua siang, Angel terlihat sedih. Bagi Hendra dan Gilang, seumur hidup baru kali ini mereka menemukan sosok unik dan berbeda dari gadis mana pun. Biasanya gadis seusia mereka menghabiskan waktu pulang sekolah dengan pergi ke pusat perbelanjaan atau makan di tempat nongkrong. Akan tetapi Angel… dia seolah mengatakan bahwa dunianya berbeda.

Perpisahan di pintu gerbang sekolah diakhiri dengan munculnya ayah Angel yang menjemput putri kesayangannya. Pria itu baru pulang dari praktik pertamanya di rumah sakit. Gilang dan Hendra menghampiri dan menyalami dengan mencium tangan ayah Angel. Ketika Angel pergi, kedua sahabat itu tanpa sadar saling mengucapkan kata-kata yang sama.

“Gue…” kata Gilang dan Hendra bersamaan.

“Oke, oke, lo dulu!” kata Gilang.

“Gue kagum sekaligus shock lihat Angel. Sumpah mati gue kagum dan nggak bisa berkata apa-apa. Takjub banget gue. Sudah muslimah, cantik, pintar, baik lagi. Astaga! Gue benar-benar harus nikahin ini orang!” seru Hendra.

“Kejauhan banget sih lo mikirnya sampai nikahin segala.”

“Kenapa memangnya? Sudah saatnya dan zamannya, kan?”

“Dra… kali ini gue sebagai teman juga pengen bilang, kayaknya lo benar. Dia beda. Benar-benar beda. Bisa lo bayangin? Ada ratusan cewek di sekolah ini, tapi cuma dia selain wali kelas kita yang pakai kerudung, kan?”

“Terus…”

“Terus ya… kita buktikan siapa yang bisa rebut hati Angel.”

“Sialan… teman macam apa lo?! Kok gitu sih?!” teriak Hendra kesal.

“Nggak kok, gue bercanda. Ha ha ha… Tenang aja Man, gue masih pengen jadi tentara. Masih fokus. Gue temanan saja sama Angel, kok.” Gilang berusaha menenangkan sahabatnya.

Alhamdulillah. Gitu dong… jangan bikin gue patah semangat.”

Kemudian kedua sahabat itu beranjak dari gerbang dan pulang ke rumah masing-masing. Angel sudah berada di dalam mobil. Dia mengeluarkan pesawat kertas yang dibuat Gilang untuknya, kemudian tersenyum.

Tak lama mereka tiba di rumah. Rumah bertingkat dua dengan taman luas ditutupi gerbang kayu yang tampak tradisional. Mereka disambut oleh ibu Angel, yang kecantikannya tak pudar oleh usia. Mudah dimengerti dari mana Angel mewarisi kecantikannya. Dengan hangat, ibu Angel mencium tangan suaminya dan pipi putrinya.

 

***

APA KABAR SEMUA SAHABAT AGNES DAVONAR SELURUH INDONESIA..

Tahun ini saya akan mengeluarkan buku terbaru saya sebagai hadiah untuk kalian semua menyambut tahun baru imlek. buku terbaru saya ini adalah buku ke 16 yang telah saya rilis sejak tahun 2010. senang rasanya bisa berbagi karya hingga hari ini dan detik ini melayani kalian memberikan nilai-nilai inspirasi.

sesuai dengan kebiasaan saya yang akan selalu merilis pre-ORDER. Maka pada peluncuran buku terbaru saya berjudul
“SEBUAH LAGU UNTUK TUHAN”
luts
buku ini akan segera terbit di akhir febuari 2015 seluruh Indonesia. Kali ini saya juga dengan bangga menyambut keluarga besar sponsorship terbaru saya yaitu “SAFECARE”. SAFECARE sebagai produk yang memiliki banyak penggemar ingin ikut mendukung novel sebuah lagu untuk Tuhan dan pada kesempatan ini pula saya ingin memberitahukan kalau SEBUAH LAGU UNTUK TUHAN juga akan dirilis ke layar lebar yang rencana syutingnya akan dimulai maret ini..

untuk pemainnya saya belum bisa bocorkan.. yang pasti artis-artis ini akan berdedikasi besar terhadap karya terbaru saya..

buat yang mau baca sipnosinya bisa disini : http://agnesdavonar.gerychocolatos.com/?p=3292

nah tunggu apalagi.. selamat masa pre order ini kamu bakal dapat banyak bonus loh dari agnes davonar . selain buku gratis dan sebuah produk dari SAFECARE. kamu juga bisa dapat mini album tebaru dari duo penyanyi yang lagi ngehits

2dsjWrGhCcAMPM band yang terdiri dari dua cowok ganteng Niel Legawata dan Ryan Fachri.. keren kan..
nah selanjutnya… tentang mereka bisa cek di website ini http://www.ampmduo.com/

berikut cara pre ordernya dan untuk 500 orang pertama yang memesan secara online di website ini dan lewat bbm / whaspp akan mendapatkan banyak hadiah loh..

berikut harga jual buku selama pre-order selama 12 febuari – 1 maret 2015

harga buku : Rp. 40.000,-

bonus : 1 buku novel ( bidadari terakhir/my last love) + 1 produk SAFECARE + 1 CD ALBUM MINI DUO AMPM.

Nah tunggu apalagi.. hayo gunakan kesempatan ini untuk mendapatkan buku preorder terbaru novel agnes davonar.

untuk pemesanan bisa melalui whastpp : 0816-1444-147 (sms only)/ BBM MESENGGER 53DCEBA0 / MAIL AGNESDAVONAR@GMAIL.COM

HARGA DIATAS DILUAR ONGKOS KIRIM VIA JNE

CATATAN: FORMAT PEMESANAN UNTUK MEMPERMUDAH PENGHITUNGAN ONGKOS KIRIM ADALAH NAMA/ALAMAT/NO TLP/BUKU YANG DIPESAN.

TERIMA KASIH..

dan berita selanjutnya adalah trailer yang ditunggu-tunggu film bidadari terakhir yang masih syuting.. kamu bisa dapat novel ini gratis dengan cara pesan pre order novel sebuah lagu untuk tuhan.

berikut trailernya..

akhir kata terima kasih

selamat menikmati dan membaca buku terbaru saya..

PESAWAT KERTAS TERAKHIR – CERPEN TERAKHIR

Pesawat kertas terakhir

[sg_popup id=”1″]Popup[/sg_popup]paper-plane-10749 Dulu aku pernah berjanji pada seseorang ketika pertama kali kami saling mengenal. Kalau kelak pasti aku akan membawanya terbang mengelilingi angkasa dengan sebuat pesawat dimana aku akan menjadi pilotnya dan ia akan duduk disampingku dengan senyumnya yang indah. Itu hal terakhir yang aku ingat, ketika Angel bertanya padaku mengapa aku sering sekali membuat pesawat lipat yang terbuat dari kertas saat kami sama-sama bersama di masa sma dulu dan pesawat kertas itu adalah hadiah perkenalan pertama kami ketika kami berkenalan.

Angel baru saja pindah dari luar kota di sekolah kami. ia duduk disampingku dan sebagai teman pertama di sekolah barunya aku menghadiahkan pesawat kertas itu. ia menerimanya dengan suka cita. Semenjak saat itu kami menjadi teman dekat dan setiap aku bertemu, aku selalu menghadiahkan pesawat kertas kepadanya.

“ Gilang, kamu ngapain sih suka banget bikin pesawat kertas kayak gitu, kayak gak ada kerjaan lain aja. Besok kan kita ujian kelulusan sekolah..”

“ Ya..karena aku pengen banget punya pesawat terbang, siapa tau.. suatu saat nanti aku bisa bawa kamu dengan pesawat.. terus aku jadi pilotnya.”

“loh.. kamu kan pengen tes masuk tentara.. memangnya impian kamu jadi pilot masih bisa..?”

“ masih dong.. aku mau jadi tentara angkatan udara.. doakan ya..”

“iya pasti tapi jangan lupa ya.. kalau nanti sudah jadi pilot pesawat, janji kamu untuk bawa aku terbang.. gak  kamu lupakan..’

Itu hal yang membuatku selalu teringat saat-saat dimana aku berjanji pada Angel. Aku menyimpan rasa cinta yang amat dalam padanya karena sejak lamanya kami selalu dekat sebagai sahabat tapi aku malu untuk mengatakan kalau aku cinta padanya. Beberapa bulan kemudian aku bertekad padanya sehabis ujian kelulusan nasional aku akan menyatakan cintaku. Aku tidak ingin menganggu Angel yang sedang menghadapi ujian nasional sama sepertinya diriku.

Ketika waktu ujian kami lalui dengan penuh perjuangan dimana Angel yang lebih cerdas daripadaku selalu membantuku belajar bersama. Sebagai hadiah atas kebaikan yang ia berikan aku selalu memberikan sepotong kertas yang kulipat berbentuk pesawat kecil dan ia menerimanya dengan suka cita. Sampai ia berbisik padaku

“ kamu tau gak? Pesawat kertas ini, sudah aku kukumpulin dan aku masukin ke kotak toples dan sebentar lagi bakal penuh loh… “

“oh ya, aku pikir kamu buang..”

“enggak dong, itu  akan aku simpan dan aku hitung, sebab setiap pesawat kertas yang kamu buat, adalah saat dimana kita lagi bersama..”

“semoga sampai selamanya ya.. siapa tau kalau aku bikin setiap hari satu. Bisa bikin gudang serumah jadi penuh pesawat kertas..”

Angel tersenyum dan aku memandanginya.. tiba-tiba terlintas ingin menyatakan cintaku padanya.

“angel..”

“iya gilang..”

“kalau aku suka sama kamu.. kamu percaya gak?”

Tiba-tiba angel terdiam.. dari wajahnya aku tau sepertinya ia tidak begitu suka kata-kata itu.

“maaf deh.. kalau aku berlebihan.. aku hanya.. bercanda..”

“gilang.. aku pulang dulu ya.. ayah aku mau bikin acara keluarga.. maaf”

Tiba-tiba angel berlari dariku.. dan aku jadi bingung. Sejak saat itu aku tidak pernah bisa menghubunginnya.  Setiap aku pergi ke rumahnya, ia tidak pernah bisa kutemui. Hatiku sedih. Tapi aku tau, mungkin ia melakukan ini karena ingin menolak cintaku. Karena sekolah sedang libur aku tidak bisa menemuinya di sekolah. Jadi kami hilang kontak. Terlalu bodoh dan naïf bagiku meminta cinta dari seorang yang cantik dan primadona di sekolah. Ia mungkin hanya berpikir aku sahabat. Dan aku pun berusaha tegar dan mulai kehilangan saat-saat bersamanya.

Dua minggu kemudian..

Pengumuman kelulusan sekolah di mulai dan aku bersyukur lulus , disanalah aku melihat Angel untuk sekian lama setelah lama tak bertemu. Aku berlari mendekat padanya.

“angel..”

Iya memandangku dengan hampa.

“ aku Cuma pengen bilang terima kasih.. karena kamu aku bisa lulus..”

“sama-sama Gilang..”

Kami seperti orang asing. Terdiam untuk saling memandang beberapa detik. Kuberanikan diri untuk mengeluarkan isi hatiku.

“Angel. Kalau aku ada salah kata dan bikin kamu marah.. maaf ya.. aku mungkin tidak tau diri menganggap kebaikan kamu.. maaf ya..”

“gilang bukan seperti itu.. aku…”

Aku tersenyum dan memotong perkataannya.

“ aku tau.. gapapa kok.. kita masih bisa tetap berteman kan.. “

Angel masih terdiam.. aku mengeluarkan sesuatu dari saku tasku. Dan memberikan pesawat kertas padanya.

“ini yang terakhir.. mungkin setelah lulus ini.. aku akan tes masuk militer.. aku akan sibuk dan mungkin gak bisa nemuin kamu lagi.. “

Tiba-tiba angel menerima pesawat kertasku sambil menangis..

“kenapa kamu nangis.. aku salah ya..”

“aku pindah.. ayah sama ibuku pindah dinas ke aceh… aku akan ikut.. aku sedih karena mungkin aku gak bisa ketemu lagi..  itulah sebabnya aku nangis..”

Hatiku tertegun menerima kata-kata itu. sebenarnya aku sedih mendengar perpisahan ini. Tapi aku tau, aku harus berusaha tegar untuk membuatnya ikut tegar.

“kenapa kamu harus sedih. Toh kita masih bisa ketemu dengan cara apapun. Bisa lewat surat. Telepon dan apa saja. .teknologi kan sudah maju.. benar kan ?”

“tapi dengan kondisi aceh yang masih dilanda darurat militer dan konflik.. aku agak takut…”

“kamu jangan takut.. aku janji kok. Kalau aku sudah lulus militer, aku akan minta coba pindah kesana dan jagaian kamu setiap saat..”

Mendengar itu angel tersenyum dan sedikit lega karenanya. Walau aku sendiri tau, sulit bagiku untuk meminta berada di aceh karena itu bukan wewenangku.  Angel memang tidak punya banyak pilihan karena ayahnya adalah seorang pegawai sipil yang juga dokter. Sehingga ia harus ikut dengan keluarganya kemanapun bertugas, sama saat ia harus pindah ke Jakarta dan hanya bertahan dua tahun disini, lalu aku jatuh cinta padanya di pandangan pertama ketika ia mengenalkan dirinya di kelas dengan senyumnnya yang indah.

Detik-detik perpisahan.

Aku duduk bersamanya dalam sebuah makan malam terakhir. Kami berusaha tegar dan menikmati saat terakhir bersama. Aku menyerahkan satu pesawat kertas yang istimewa untuknya. Tertulis sebuah kalimat

“ terima kasih atas kebersamaan selama ini , aku sayang kamu angel..”

Kali ini angel hanya tersenyum menerima pesawat kertas itu. ia tidak menjawab apapun tentang cinta antara kami. lalu ia berkata padaku saat aku pulang mengantarkannya ke rumah. Ia memintaku menunggu. Lalu beberapa saat kemudian ia keluar dengan setoples kaca yang penuh dengan perahu kertas dariku.

“ ini yang aku bilang tentang toples untuk simpan pesawat kertas kamu..”

“astaga angel. Kamu benaran simpan ya..”

“sudah aku hitung juga.. totalnya sudah 201 biji..”

“ waduh berarti aku sudah ngerepotin kamu dong dan simpan kertas itu..”

“itu adalah jumlah pertemuan kita.. aku akan ingat. Tapi gilang kamu benar-benar ingin tau kan gimana jawaban tulisan ini..” perahu kertas terakhir yang aku tulis dengan kalimat cintaku.

“iya..”

“aku jawab, kalau kamu kelak nanti sudah penuhin janji kamu. Temuin aku di aceh.. dengan satu kertas perahu kertas lagi ya..”

“hah..  serius kamu..”

“ aku percaya kok.. kalau kita berjodoh. Tuhan akan memberikan segala jalan untuk mempertemukan kita dengan cara apapun.. entah dalam keadaan hidup atau mati..”

Entah mengapa hatiku sedih mendengar kalimat itu..

“tapi kalau kita gak pernah ketemu lagi.. aku juga akan senang . karena dengan kertas ini aku ingat, ada orang yang pernah mencintai aku dan aku selalu menunggu sampai ia kasih kertas lagi..”

Aku meraih tangannya.

“kamu pegang janjiku. Aku pasti akan kembali menemui kamu. Dengan cara apapun.. kamu tunggu aku ya…”

Angel menangis dan aku berusaha tegar. Ia berusaha percaya janjiku walau entah kapan itu terjadi. Dan kami pun berpisah malam itu. aku kembali dengan perasaan sedih, ini hari terakhir kami bersama. Angel akan pindah besok dan ia minta aku tidak usah mengantarkannya. Keesokan harinya aku melanggar janjiku. Aku sudah pagi-pagi di rumahnya dan ternyata aku datang terlambat. Saat aku datang rumahnya telah kosong. Disitulah aku menangis karena sedih harus kehilangan orang yang aku cintai untuk pertama kali. Tapi janji dan tekadku untuk terus bersamanya tidak pernah aku langgar untuk terus kuperjuangan sebagai janji suci.

***

Aku diterima sebagai anggota tni dan menempuh pendidikan di Yogyakarta. Sedangkan Angel melanjutkan sekolah kedokteran di aceh. Sesekali aku saling bertegur karena kegiatanku di akedemi militer melarang penggunaan ponsel. 4 tahun kemudian aku lulus. Aku dan angel masih saling bertegur sapa. Sampai suatu malam ia berkata padaku dan mengucapkan selamat lewat telepon dengan suara lemah.

“ kamu sakit ya?”

“iya. Gejala tipes kecapean karena akhir-akhir ini banyak pasien.. aku praktek kerja berlebihan sampai akhirnya drop. Ini juga di rawat di rumah sakit sama Papa..”

“ kamu harus jaga kesehatan ya.. aku ada kejutan untuk kamu nanti.”

“apa tuh.. ?” kata angel

“aku akan datang temuin kamu sehabis natal untuk merayakan tahun baru sama kamu dan kasih kamu sesuatu..”

“serius kamu..?” Tanya angel

“beneran kok.. tunggu ya.. aku bawa sesuatu untuk kamu..”

“pesawat kertas lagi..”

“rahasia.. yaudah sekarang kamu istirahat ya.. aku pasti kesana.. tunggu ya..”

“kapan?”

“rahasia..kejutan pokoknya dalam beberapa hari ini..”

“janji ya.. “kata Angel.

“pokoknya aku udah janji aku pasti tepati.. untuk temui kamu dengan cara apapun. “

Angel tersenyum menutup teleponnya dan disampingnya terdapat toples yang selalu ia bawa saat kenangan kami bersama. Toples yang terisi pesawat kertas dariku.

Beberapa hari kemudian usai mendapatkan cuti natal dan tahun baru. Aku pun bertekad menemui Angel di aceh..

Tanggal 26 desember 2004. Aku memesan pesawat pagi untuk menuju Aceh. Aku begitu bersamangat dan terbang pukul 6 pagi  dari Jakarta.  Setiba di aceh aku langsung ingin menuju rumah sakit tempat angel di rawat. Untuk pertama kalinya aku melihat tanah lencong. Dan tiba tiba dalam perjalanan dengan sebuah mobil yang disewakan seperti taksi menuju rumah sakit. Bumi aceh bergetar.. mobil kami terhenti di tengah jalan. Semua rumah rubuh. Jalanan retak tak beraturan.

Sebagai seorang tentara aku tau berinisiatif keluar dari mobil dan menenangkan seorang nenek yang berlari keluar rumah yang rubuh. Tangis dan jeritan bergumandang. Aku berusah tidak panik dan tiba-tiba terlintas pikiranku tentang angel. Setelah menempatkan sang nenek pada tempat yang aman. Aku menelepon angel dan seluruh sambungan telepon tak bisa digunakan.  Dari kejauhan tiba-tiba banyak orang berteriak untuk lari karena air laut naik ke daratan.

Dengan mata dan kepalaku sendiri aku melihat dengan jelas air yang berwarna hitam pekat tercampur dengan reruntukan rumah yang diterjang dan bahkan kendaraan bermotor setinggi 5 meter mendekat tak jauh 100 meter dariku. Aku berinisiatif lari ke tempat yang lebih tinggi  dan menolong kembali nenek itu dengan mengendongnya. Beruntung daerah kami lebih tinggi dan meminta mobil yang tadinya membawaku untuk melaju ke atas. Beberapa orang ikut dengan kami dan sebisa mungkin sampai mobil itu muat. Sebagian yang lain berlari secepat mungkin menjauh dari  air.

Entah mujizat apa yang terjadi ketika sedikit lagi mobil kami tersapu oleh air. Ketika mobil mesin kami mati saat air mulai menyapu. Kekuatan pasang laut itu berhenti dan kami beruntung selamat.  Dengan perasaan shock dengan kejadian baru saja terjadi aku berusaha untuk kuat dan menyelamatkan beberapa orang yang selamat dengan kondisi yang menyedihkan.  Mereka yang selamat berusaha untuk tetap hidup dan menangisi mereka yang kehilangan keluarganya.

Hatiku cemas menunggu dan memastikan apa yang terjadi, yang pasti aku berusaha untuk percaya kalau

Angel tidak mengalami hal apapun dan ia baik baik saja..

***

Entah bagaimana melukiskan betapa dahsyatnya ombak laut yang menyapu aceh. Yang pasti sepanjang jalan dimana air laut itu lewati habis tak tersisa. Jeritan dan air mata terdengar setiap aku melangkah melewati jalan yang aku lalui.  Mayat-mayat bertebaran sepanjang jalan. Aku bertanya kepada setiap orang yang masih hidup untuk mengetahui dimana rumah sakit dimana angel di rawat. Beberapa orang mengatakan laut telah menyapu rumah sakit itu. tapi aku harus percaya kalau angel masih ada disana. Ketika aku berhasil menemukan tempat itu.

Lututku terasa lemas. Hatiku serasa hancur. Aku tak menemukan lagi wujub rumah sakit selain puing yang hancur berserakan tak beraturan.  Aku menangis tak kuasa kesedihan, aku menyesal mengapa tak pergi lebih awal untuk bertemu dengan angel dan memberitahukan padanya kalau aku datang padanya saat ini. Kini aku tau bagaimana rasanya kehilangan dan penyesalan , tapi tangisku tidak akan bisa mengembalian segalanya. Seorang ibu mendekat padaku dan berkata.

“nak.. yang kuat dan tabah ya.. kita semua harus kuat menghadapi cobaan ini.. kita bangkit bangun dan tolong mereka yang bisa.. ”

Kata-kata ibu mengingatkan aku pada angel yang selalu tegar kalau angel masih ada. aku mencoba mencari orang-orang yang masih hidup dan mungkin itu adalah angel.  Rumah sakit dan bantuan dari pemerintah datang.  Selama beberapa hati aku terus mencari tau setiap tempat-tempat penampungan mereka yang selamat untuk mencari sosok angel. 4 tahun kami tidak bertemu dan aku percaya aku pasti menemukan angel dalam keadaan hidup.

Beberapa hari aku mencari dan tubuhku yang sudah mulai lemah dan tidak menjaga kondisiku. Disaat aku putus asa. Aku melihat seorang anak sedang terdiam dengan pesawat kertas yang tak asing dengannya dan aku mendekat lalu bertanya padanya.

“adik dapat mainan kertas ini darimana?”

Ia tidak bisa bicara mungkin karena shock. Tapi tangannya menunjukkan aku pada sebuah arah dimana aku bisa melihat dengan jelas sesuatu yang tak asing bagiku. Sebuah toples yang berisi pesawat kertas yang pernah ditunjukkan angel padaku. Aku berlari mendekat dan memunggut toples yang masih utuh dan hanya sedikit  retak. Tanganku bergetar menyentuhnya. Toples ini ditemukan  terbawa ombak lautan hingga menyatuh dengan dengan rerutuhan rumah tanpa ada Angel.  Rasa putus asa dan kesedihan karena merasa angel telah tiada kemudian Tiba-tiba membuatku pingsan.

Sehari kemudian aku dirawat di rumah sakit. Orang tuaku bersedih berpikir aku telah mati dan mereka datang seminggu kemudian untuk menjemputku. Disamping ayah dan ibuku, aku menangis, mereka mencoba membesarkan hatiku untuk tetap kuat dan ikhlas. Toples yang aku peluk saat pingsan akhirnya aku bawa ke Jakarta dan kusimpan dengan rapi sebagai kenangan terakhir bersama Angel.

***

5 tahun kemudian.

Rasa trauma dan kehilangan telah membuatku tidak pernah ingin mengenang tsunami. Sebuah istilah kata yang akhirnya membuat semua orang yang mengenang kejadian pada saat gempa dan ombak yang meluluhlantahkan lebih dari 250.000 jiwa di seluruh asia dan menjadi peristiwa bencana terburuk pada abad ini. Tapi setiap sejarah dan kejadian melahirkan banyak perubahan. Tsunami melahirkan kepedihan tapi juga perdamaian di tanah aceh yang telah berperang lebih setengah abad lamanya. Rakyat aceh telah berusaha tegar untuk membangun kembali kesedihan dan bangkit dari segalanya.

Berkat bantuan asing dan seluruh rakyat Indonesia. Aceh yang nyaris rata karena tsunami kini berkembang menjadi kota yang berusaha melupakan kehancuran tapi tidak melupakan masa lalu yang pernah terjadi dan mengubah segalanya. Kini aku sudah bisa melihat angkasa dengan tugasku sebagai pilot di kemiliteran. Aku bangun pagi dan mendapatkan tugas untuk terbang landas ke aceh.

Bersama sahabatku kami mengantarkan beberapa anggota yang ditempatkan di aceh. Setiba disana aku meminta izin untuk dua hari mengenang masa lalu. Aku masih ingat bagaimana masa lalu semua tergambar lewat sebuah museum tsunami yang dibangun dengan megahnya.  Foto-foto dan sisa-sisa peninggalan yang terjadi tersimpan rapi dalam museum yang telah menjadi ikon kota tersebut. Tiba-tiba aku melihat anak-anak sekolah berlarian dengan sebuah pesawat kertas di tangannya. Aku menjadi penasaran karena hampir setiap aku melangkah mengelilingi museum ini. Setiap anak akan datang  melewatiku dengan kegembiraan bersama pesawat kertas ditangannya.

Lalu aku menghentikan satu anak dan bertanya padanya.

“adik dapat darimana pesawat kertas ini..”

Dengan penuh kegilangan ia menjawab.

“dari ibu guru.. ini buat paman saja…””

Aku berjalan mendekat arah yang ditunjukan anak itu.  ke dalam sebuah ruangan dimana seorang perempuan dengan pakaian muslim sopan dan kerudung yang anggun berdiri sambil menawarkan sebuah pesawat kertas pada anak-anak yang sedang karya wisata ke museum tsunami. Wajahnya tak terlihat jelas sampai aku mendekat dan menatapnya.

Air mataku terjatuh.. perempuan itu menatapku dengan bingung.. termasuk anak-anak kecil yang disana. Dengan polosnya seorang anak bertanya pada perempuan itu.

“ibu guru kenapa paman itu nangis..”

Perempuan mendekat padaku dan berkata.

“ mas. Aku bisa pahami kalau museum ini memang penuh kenangan dan air mata. Tapi tidak baik mas untuk menangis di depan anak-anak..” ujarnya padaku

“ aku menangis karena.. aku gak sangka bisa nemuin kamu disini..”

“ nemuin aku.. maksudnya..” kata perempuan itu dengan bingung..

Ketika kami bicara anak-anak kemudian menarik perempuan itu sambil berteriak.

“ibu angel ayo ibu angel.. bikin lagi pesawat kertas ,”

Lalu aku menyadarinya Angel tak mengenalku lagi. Tapi aku percaya pesawat kertas yang saat ini ia buat untuk anak-anak itu adalah cara terakhir baginya untuk mencari pesan terakhir mengenang kami. aku mendekat padanya dan berkata sambil menyerahkan satu pesawa kertas padanya.

“kamu mungkin telah lupa akan segalanya tapi aku tidak akan lupa untuk menyerahkan ini sebagai janji terakhir aku padamu. Sebuah pesawat kertas terakhir untuk mengenang janji di masa lalu..”

Angel hanya terdiam dan tiba-tiba ia seperti mengingat akan sesuatu sambil berkata.

“gilang..”

Penuh air mata..

***

( Angel berhasil selamat dari bencana tsunami tapi ia kehilangan ingatan akibat benturan keras yang terjadi saat air laut menerjang. Saat ditemukan dalam keadaan pingsan, ia bersama sebuah toples yang berisi pesawat kertas. Orang tua dan adiknya meninggal dalam kejadian itu, ia berdedikasi menjadi seorang guru  taman kanak-kanak untuk mengajarkan kepada anak-anak  tentang sejarah dan masa lalu aceh yang telah bangkit dari segala kesedihan dan masa lalu menjadi lebih indah)

 

Kisah ini terinspirasi ketika saya berkunjung ke museum tsunami aceh..  melihat seorang ibu membuat pesawat kertas untuk mengenang anaknya yang telah meninggal sebagai hadiah terakhir yang sempat ia berikan sebelum mereka terpisah.

 

tamat

 agnes davonar

←Older