[x]Close

kisah hidup dewi Kwan Im / Avalokitesvara

Tentu semua tau dan banyak mendengar kisah tentang Dewi Welas Asih ini.
Ada perbedaan mendasar yang dapat dilihat antara perbedaan Kwan Im dari
China dan India. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari titik yang ada
ditengah dahinya.

Saya mencoba menuliskan kisah kehidupan Dewi Kwan Im berdasarkan
informasi yang pernah saya dapat baik dari Internet, film maupun
cerita2 orang-orang tua dulu. Bila ada kesalahan mohon di koreksi.

Jauh sebelum masuknya agama Buddha menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im
Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su
yaitu Dewi Welas Asih Berbaju Putih. Dikemudian hari, beliau identik
dengan perwujudan dari Buddha Avalokitesvara. Secara absolut,
pengertian Avalokitesvara Boddhisatva dalam bahasa Sansekerta adalah :
Valokita (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna “Melihat ke
bawah atau Mendengarkan ke bawah”. Bawah di sini bermakna ke dunia,
yang merupakan suatu alam (lokita). Svara (Im / Yin) berarti suara.
Yang dimaksud adalah suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas
penderitaan yang dialaminya. Oleh sebab itu Kwan Im adalah Bodhisatva
yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Di negara Jepang, Kwan
Im Pho Sat lebih dikenal dengan nama Dewi Kanon.

Bila sudah mencapai taraf Buddha sudah tidak lagi terikat dengan bentuk
apalagi gender, karena pada dasarnya roh itu tidak mempunyai bentuk
fisik dan gender. Menurut cerita, Dewi Kwan Im adalah titisan Dewa Che
Hang yang ber-reinkarnasi ke bumi untuk menolong manusia keluar dari
penderitaan, karena beliau melihat begitu kacaunya keadaan manusia saat
itu dan penderitaan di mana-mana. Dewa Che Hang memilih wujud sebagai
wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan
pertolonganNya. Disamping itu agar lebih bisa meresapi penderitaan
manusia bila dalam bentuk wanita karena di jaman itu wanita yang lebih
banyak menderita dan kurang leluasa dalam membuat keputusan. Dalam
perwujudannya sebagai pria, Beliau disebut Kwan Sie Im Pho Sat.

Dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biau Hoat Lien Hoa Keng)
disebutkan ada 33 penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha
Karuna Dharani (Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou) ada 84 perwujudan Dewi
Kwan Im sebagai simbol dari Bodhisatva yang mempunyai kekuasaan besar.
Altar utama di Kuil Pho To San dipersembahkan kepada Kwan Im Pho Sat
dengan perwujudan sebagai Budha Vairocana, dan di sisi kiri atau kanan
berjajar 16 perwujudan lainnya. Perwujudan Beliau di altar utama Kim
Tek Ie (salah satu Kelenteng tertua di Indonesia adalah King Cee Kwan
Im (Kwan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma kepada umat
manusia). Disamping itu terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Qian
Shou Guan Yin (Kwan Im Seribu Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang
selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari
umatNya. Julukan Beliau secara lengkap adalah Tay Cu Tay Pi – Kiu Kho
Kiu Lan – Kong Tay Ling Kam – Kwan Im Sie Im Pho Sat.

Dalam kepercayaan Buddhisme yang berkembang pesat di China, diyakini
bahwa segala permohonan yang berangkat dari ketulusan dan niat suci,
maka biasanya Dewi Kwan Im akan mengabulkan permintaan tersebut.
Terutama pada saat-saat genting dimana seseorang tengah berhadapan
dengan bahaya. Sehingga dalam kurun ribuan tahun, pengabdian moral dari
Dewi Kwan Im dikenal galib berporos empat jalan kebenaran. Yakni,
pengembangan kebajikan, pengembangan toleransi dan saling hormat
menghormati, pengendalian batin dan mawas diri, serta menghindarkan
dari marabahaya.

Menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi
Kwan Im dilahirkan pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun
403-221 Sebelum Masehi. Terkait dengan legenda puteri Miao Shan, anak
dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang penguasa negeri Xing Lin
(Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM. Raja Miao
Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tetapi yang dimilikinya
hanyalah 3 orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu, yang kedua
bernama Miao Yin, dan yang bungsu bernama Miao Shan.

Miao Shu dan Miao Yin lebih cenderung dimanja oleh fasilitas istana dan
berfoya-foya. Sementara Miao Shan dengan rajin menjaga dan merawat
kedua orang tua mereka. Dari ketiga putri sang Raja, putri ketiga lah
yang sangat berbakti kepada kedua orangtua serta leluhurnya. Ia juga
memperlihatkan sifat welas asih kepada semua makhluk. Itu sebabnya ia
sudah vegetarian sejak balita. Dikisahkah saat bayi bila Miao Shan
mendengar kata “bunuh” akan menangis sekeras-kerasnya dan tidak mau
bila diberi makan daging saat balita. Toleransinya kepada dayang-dayang
istana sangat besar sehingga ia disayangi oleh semua pihak. Ia selalu
mengaplikasikan bentuk-bentuk kebajikan Buddhisme yang ia pelajari dan
dalami ke dalam hidup sehari-harinya.

Hal tersebut menimbulkan iri hati dan benci dari kedua kakak
perempuannya, sehingga dengan intrik dan hasutan jahat bekerjasama
dengan seorang peramal tua yang jahat akhirnya Miao Shan diusir dari
istana. Miao Shan dituduh titisan dari iblis jahat sehingga negeri
mereka yang dulunya makmur sekarang selalu dirundung bencana. Padahal
bencana dan masalah datang karena banyak pejabat istana termasuk si
peramal tua jahat itu terlibat korupsi besar2an, bahkan si peramal tua
berambisi mengambil tahta Sang Raja. Kelompok jahat itu mengklaim sejak
Miao Shan lahir bencana susul menyusul tiada henti. Kalau bukan
kekeringan, pasti kebanjiran. Kalau bukan kelaparan pasti wabah
penyakit. Sehingga Miao Shan dianggap jelmaan iblis yang dikutuk oleh
langit.

Raja memerintahkan untuk menangkap Miao Shan dan membunuhnya. Miao San
lari bersama para tahanan perang dari ayahnya dibantu oleh Jendral
kepercayaan ayahnya. Begitu mengetahui hal tersebut ayahnya mengerahkan
seluruh pasukan untuk menangkap mereka. Pengejaran dilakukan hingga ke
tepi sebuah danau yang luas dan dalam. Pada saat mereka menemui jalan
buntu, putrid Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka dapat selamat.
Secara ajaib muncul sebuah jembatan melintasi danau tersebut kearah
seberang. Akhirnya mereka pun melintasi danau tersebut. Pasukan
kerajaan berhenti mengejar karena jembatan tersebut putus dan hilang
ketika mereka selesai menyebrang.

Raja tidak menyuruh mereka mengejar lg karena disana banyak binatang
buas dan yakin mereka pasti akan mati. Ternyata begitu sampai di pulau
tersebut seluruh binatang bersujud kepada putrid Miao Shan dan
membiarkan mereka lewat. Mereka menemukan tanah subur yang luas dimana
mereka mulai mendirikan tempat tinggal, bercocok tanam dan mendirikan
sebuah kuil tempat dimana putrid Miao Shan melatih diri.

Selang beberapa tahun keadaan raja mulai memburuk dan terkena penyakit
yang membuat beliau lumpuh dan tidak bs melihat. Banyak orang pintar
dan tabib sakti dari berbagai daerah telah datang dan mencoba untuk
mengobati tetapi tidak ada hasilnya.

Miao Shan yang merasa iba, berkat kesaktiannya, mengubah dirinya
menjadi seorang pengemis. Ia mendatangi istana, dan menjenguk
ayahandanya yang terkapar sakit dengan dalih sebagai tabib. Para
penjaga yang melihat penampilannya yang buruk rupa dan kotor mengusir
mereka tetapi dia tetap memaksa untuk bertemu. Akhirnya keributan itu
didengar oleh Ibunya dan beliau mengijinkannya untuk memeriksa dan
mencoba mengobati ayahnya.
Setelah Miao Shan membacakan parita, ayah ibunya itu merasakan damai
yang tiada tara. Namun dalam penyamarannya itu bukannya mengobati ia
malah memberi petunjuk bahwa Sang Raja menderita penyakit aneh, dan
hanya dapat sembuh jika mengkonsumsi sekerat daging manusia dan sebiji
bola mata yang berasal dari tubuh putri kandungnya.

Dihadapan ibu suri dan kedua kakaknya, Miao Shan membeberkan cara
pengobatan aneh itu. Di saat meminta kedua kakak perempuannya untuk
berkorban diiris otot lengan dan dicungkil sebelah bola matanya untuk
dicampur pada obat bagi ayah mereka, saat itu juga keduanya berlutut di
samping ranjang ayahanda mereka, menangis tersedu-sedu.
“Oh, Ayahanda, kasihanilah saya Miao Shu. Saya masih memiliki anak yang
masih kecil-kecil dan mereka masih membutuhkan saya untuk membesarkan
mereka.”

Tak lama berselang, Miao Yin menyusul dengan kalimat bernada serupa.
Kali ini tangisnya lebih deras. Tiba-tiba Miao Shan menengahi, dengan
bijak ia berkata.”Baginda masih mempunyai seorang anak, kenapa tidak
menanyakannya kepada dia apakah dia rela memberikan organ tubuhnya.”
Saat mendengar perkataan tersebut sedihlah hatinya dan dengan berat dia
berkata anakku telah mati bagaimana mungkin dia dapat menolongku.

Putri Baginda masih hidup hingga saat ini. Coba baginda utus seseorang
untuk bertanya kepadanya apakah dia rela memberikan bagian tubuhnya
untuk mengobati Baginda. Akhirnya Baginda mengutus sang Jendral untuk
pergi mencari anaknya walaupun dia tidak berharap anaknya akan
membantunya setelah apa yang diperlakukan olehnya.

Sesampainya disana, Jendral menceritakan keadaan Baginda yang
sebenarnya telah diketahui oleh putrid Miao Shan. Dia langsung
mengambil pisau dan segera melakukan permintaan ayahnya. Setelah
mengiris sekerat otot lengan dan mencongkel sebelah bola matanya
sendiri dengan belati tanpa rasa takut, dengan tenang serta penuh
keikhlasan ia memberikan bagian-bagian tubuhnya itu untuk campuran
ramuan obat untuk ayah ibunya.

Sang Jendral pun kembali dan segera menyerahkan bagian tubuh tersebut.
Segera tabib meramu obat yang diberitahukan oleh pengemis tersebut.
Saat mengaduk-aduk ramuan obat itu, terjadi keajaiban. Ramuan obat itu
memancarkan harum wangi dupa dan memenuhi seluruh penjuru istana. Raja
Miao Zhuang setelah meminum “obat mujarab” tersebut agar dapat sembuh
dan matanya dapat melihat kembali.

Setelah meminum ramuan obat dari Miao Shan keadaan raja pulih tetapi
hanya setengahnya. Jadi sebelah bagian tubuhnya aja yang pulih. Lalu
dia berpikir, mungkin jika saya meminum sebagian lagi dari tubuhnya
maka saya akan sembuh total. Sang raja pun dengan berat hati memanggil
Jendralnya dan berkata kepadanya, “ Coba kmu minta lagi setengah bagian
dari mata dan tangannya. Tetapi jika dia tidak mau memberikannya jangan
dipaksa.” Sang ibu menangis mendengar permintaan raja tersebut.

Akhirnya sang Jendral pun berangkat dan sesampainya disana dia
kebingungan untuk menyampaikan pesan ayahanda putri tersebut. Di sisi
lain Miao Shan adalah orang yang dicintainya sejak dulu. Akan tetapi
putri Miao Shan telah mengetahui maksud kedatangan Jendral tersebut dan
memanggilnya. Kemarilah ikuti aku. Dengan tangannya sendiri dia
mengambil sisa tangan dan bola matanya untuk dipersembahkan kepada
ayahnya. Sang Jendral bersujud memberikan penghormatan dan kembali ke
kerajaan. Setelah meminum setengah dr sisanya keadaan raja pulih total.

Raja yang terharu dengan pengorbanan putri yang sangat dibencinya
segera menyuruh pasukan untuk bersiap dan beliau beserta istrinya
langsung pergi untuk menjenguk anaknya. Betapa terkejutnya mereka
melihat keadaan putrinya. Raja menanyakan apa yang diinginkan oleh Miao
Shan yang masih belum dikenali oleh mereka. “Hamba tidak menginginkan
bayaran apapun, hamba hanya berbuat baik untuk menyebarkan dharma dan
ajaran sang Buddha.” Demikian kata Miao Shan.

“Minimal apa ada permintaan Miao Shan agar kami tidak merasa terlalu sungkan karena tidak memberikan apa-apa.” Kata Sang Raja.
Terdiam sejenak, kemudian Miao Shan melanjutkan. “Hamba sudah lama
kehilangan ayah dan ibu, bolehkan hamba memeluk Baginda dan Permaisuri
sehingga kerinduan akan ayah-ibu bisa terobati?”
“Dengan diiringi oleh tangis keduanya, mereka berucap, “ silahkan.” Sahut sang Raja dan istrinya..

Miao Shan menunduk dan menghampiri ayah bundanya itu, setelah bersujud
di pelukan Raja ia kemudian berpindah ke pelukan permaisuri dengan
airmata berlinang dan suara isak tangis. “Ibu, maafkan anak yang tidak
berbakti” demikian Miao Shan berbisik. Mereka menangis dan Miao Shan
yang telah mencapai kesempurnaan menyembuhkan dirinya, kedua matanya
kembali dapat melihat dan tangannya kembali tumbuh seperti sedia kalah.
Betapa senang hati orang tuanya melihat keadaan tersebut.

Sejak itulah kebajikan dan keluhuran budi Miao Shan menjadi legenda di
tanah Tiongkok. Ia menggugah ketulusan tanpa pamrih, pengorbanan tanpa
batas, sifat welas asih yang tiada tara, dan masih banyak lagi
kemuliaan yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Setelah peristiwa
fenomenal tersebut, Miao Shan tetap bertekad melanjutkan pertapaannya
dengan menjadi biksuni sepanjang hidup dan pengabdiannya. Meski berat
hati, tapi Raja Miao Zhung dan permaisurinya merelakan putri bungsunya
tersebut, memaklumi niatnya untuk mengabdi bagi kemanusiaan.

Akhirnya kedua kakaknya beserta ayah dan ibunya mempelajari agama
Budha. Dan seluruh istana mempelajari ajaran Welas Asih mengikuti putri
Miao Shan.
Untuk mengenang putri bungsunya tersebut, Raja Miao Zhung memerintahkan
pekerja seni rupa terbaik di negerinya membuat patung berwujud putri
Miao Shan dan mendirikan vihara Dewi Kwan Im pertama di Pho To San.

“Putri saya, Miao Shan, ibarat memiliki seribu tangan untuk membantu
sesama dengan tulus serta ikhlas, dan seribu mata yang peka melihat
penderitaan rakyat jelata!” demikian kata Raja Miao Zhuang dalam nada
bangga, yang ternyata salah ditanggapi oleh para pemahat arca istana.
Arca rampung dengan memiliki simbolisasi seribu tangan dan seribu mata.
Itulah awal ihwal Miao Shan yang melegenda menjadi Qian Shou Guan Yin
(Dewi Kwan Im Seribu Tangan).

Dikisahkan ketika Miao Shan berhasil mencapai pencerahan menjadi
Buddha, saat hendak memasuki gerbang Nirwana ia mendengar banyak
tangisan penderitaan dari alam manusia di bawah. Ia kemudian
membatalkan memasuki Nirwana dan memilih berada di alam manusia untuk
membantu setiap makhluk hidup. Ia senantiasa menyingkirkan segala macam
penderitaan dan menumbuhkan kebahagiaan dengan mewujudkan permintaan
kesejahteraan kaum papa.

Turun temurun masyarakat Tionghoa sangat menghormati Dewi Kwan Im.
Hampir di setiap rumah penganut Konfusiunisme dan klenteng-klenteng
pasti memiliki rupang atau diorama puja untuk mengenang jasa dan
kebaikanNya.

kaskus.us

Leave a comment

Your comment