[x]Close

KISAH HIDUP SEISI KATO, BAPAK PENDIRI TOYOTA

Menjadi Sukses sering merupakan kombinasi antara kemam­puan, kegigihan, dan faktor kebetulan. Itulah yang jelas tercermin dalam diri Seisi Kato – salah seorang “bapak” Toyota. Mungkin kita, terutama kaum muda, bisa menimba banyak inspirasi dari pengalamannya. Oleh Karena itu semoga saja kisah hidup Seisi bisa menjadikan anda belajar untuk sukses. AgnesDavonar selamat membaca!!

Cobalah sesuatu yang baru setiap hari, dengan penuh ke­sungguhan, harapan, dan ketabahan, maka Anda akan tetap muda.”

Penggubah kata-ka­ta bijak di atas, tidak saya kenal. Menurut seorang Jepang peneliti kesusas­traan, rasanya seorang penyair Amerika.

Begitu membacanya, saya langsung terpikat. Bagi saya, kata-kata itu meng­ungkapkan dengan tepat sekali keyakinan diri saya. Itulah prinsip yang saya anut sepanjang hidup.

Kehilangan Ayah

Saya dilahirkan 25 November 1907, di kawasan Ose­ko, kota Ojiyamada (sekarang Ise). Kalau menurut istilah mantan Perdana Menteri Takeo Fukuda, saya ini orang Meiji karena saya dilahirkan bertepatan de­ngan 40 tahun masa pemerintahan Meiji Tenno (kaisar yang merupakan lambang modernisasi Jepang, Red.). Saya anak bungsu dari delapan bersaudara, memiliki seorang abang dan enam kakak. Kehadiran saya sung­guh tidak disangka-sangka karena Ayah sudah ber­umur setengah abad, sedangkan Ibu 42 tahun. Beda umur saya dengan kakak sulung lebih dari 20 tahun, dengan kakak termuda 6 tahun. Bahkan putra kakak sulung saya lebih tua daripada saya sehingga orang tua saya kerap berolok-olok bahwa ada kemenakan yang lebih tua dari pamannya.

Ayah dan Ibu, kedua-duanya keturunan samu­i. Ketika saya dilahirkan, Ayah bekerja sebagai manajer kantor cabang Bank Dagang Yamada. Sebelum­nya, is penilik sekolah-sekolah negeri. Kabarnya kedudukan keluarga Ibu semasa feodal dulu lebih tinggi daripada keluarga Ayah.

Corak kehidupan keluarga kami mirip gaya hi­dup samurai tradisional. Di rumah, Ayah selalu duduk di tempat khusus yang letaknya satu jenjang lebih tinggi daripada anggota keluarga lain.

Semasa kecil, diam-diam saya tidak menyukai gaya hidup kaku seperti itu. Keputusan saya kemudian untuk memeluk agama Kristen, sedikit banyak ada kaitannya dengan pengalaman masa kanak-kanak itu.

Sikap Ayah dan Ibu terhadap anak-anak mereka sangat tegas dan ketat. Tetapi, saya rupanya dikecuali­kan. Setiap pagi, Ayah mengajak saya berjalan-jalan ke Kuil Luar di Ise. Senang rasanya melangkah di jalan berkerikil, bergandengan tangan dengan dia. Ibu juga sayang sekali kepada saya. Sayangnya saya selalu sakit­sakitan.

Semasa saya kecil, kami berpindah tempat ting­gal sampai sebelas kali, seperti umang-umang saja. Tidak lama setelah saya mulai bersekolah, Ayah meng­idap penyakit kanker perut. Waktu itu, orang yang terserang kanker hampir tidak mempunyai harapan untuk sembuh. Padahal, Ayah baru berumur 57 tahun. Untuk pertama kalinya saya benar-benar sedih.

Saya baru berumur 9 tahun ketika Ayah mening­gal. Masih terlalu muda untuk bisa menghayati ke­pedihan hati Ibu. Saya cuma bisa merasakan kemu­rungan aneh dan menggelisahkan pada dirinya – bahkan di tengah-tengah suasana hiruk pikuk di rumah. Setelah Ayah dimakamkan, barulah saya sadar, saya tidak pernah lagi bisa bertemu dengannya. Saya masih ingat sekali, saat itu saya menangis tersedu­sedu. Sampai sekarang pun, terkadang masih terbayang-bayang Ayah berada di kebun rumah kami, memilin ujung kumisnya yang keren, sebelum me­narik tali busur kesayangannya.

Dua bulan setelah Ayah wafat, salah seorang ka­kak saya juga meninggal karena sakit. Shosuke, abang saya yang menjadi kepala keluarga kami, merasa arah dan letak rumah kami membawa sial. Karena itu, kami pindah ke kawasan Oishi, di kota Nada.

Shosuke memiliki perusahaan dagang kecil yang menjalin hubungan dengan Australia, Indonesia (waktu itu masih Hindia Belanda, Red.) , serta negara­negara lainnya lagi. Shosuke sering bepergian ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya. Ia menumpang kapal laut karena waktu itu belum ada pesawat jet. Selama is pergi. – yang selalu lama – saya boleh di­katakan selalu dikelilingi perempuan di rumah, yaitu Ibu, kakak-kakak, dan perempuan-perempuan lain­nya. Namun, bukan itu sebabnya kaum perempuan mendapat tempat istimewa di dalam hati saya.

Gagal Menjadi Petenis

Di Nada, saya dianggap orang luar oleh teman-teman sekolah sebab logat saya berbeda dari logat mereka. Saya sering diganggu. Akhirnya, saya berkelahi de- ngan salah seorang pengganggu itu. Ajaibnya, saya menang! Setelah itu, gengsi saya naik dengan cepat di sekolah. Kejadian itu mempengaruhi kepribadian saya: saya menjadi percaya diri.

Namun, kesehatan saya yang sejak kecil memang labil, masih juga belum bertambah baik. Saya sering tidak masuk sekolah kadang-kadang sampai lebih dari sebulan. Di kelas 6 SD ketika sedang sibuk-sibuknya belajar menghadapi ujian masuk sekolah mene- ngah, saya malah jatuh sakit parah sampai nyaris me- ninggal. Ini gara-gara dua orang dokter yang pertama-tama memeriksa saya keliru mendiagnosis penya­kit saya. Menurut mereka, saya menderita penyakit serius yang misterius. Untungnya, dokter ketiga me­nemukan penyakit saya yang sebenarnya. Katanya saya hanya menderita radang usus buntu biasa. Cuma saja karena tidak ditangani dengan benar, radang itu menjadi parah.

Sudahlah, pokoknya saya kemudian sembuh, valaupun sakit lama itu mengalangi saya meningkat­kan prestasi di sekolah. Semua orang sangsi saya akan lulus. Ternyata, saya berhasil diterima di Sekolah Me­nengah Koyo. Ketika itu tahun 1919.

Sejak penyakit saya diketahui dan diobati de­ngan benar, kesehatan saya pulih dengan cepat. Saya termasuk perintis regu baseball yang bermain di sebi­dang tanah kosong. Setiap hari, seusai sekolah kami bermain sampai hari gelap. Hasilnya, ketika duduk di kelas 2 (waktu itu sekolah menengah terdiri atas empat kelas), saya diminta ikut bermain dalam regu sekolah. Impian saya menjadi kenyataan.

Latihan kami berat, tetapi kemampuan saya ber­kembang dengan cepat. Saya dipindahkan dari regu cadangan ke regu utama. Namun, tidak lama sesudah itu karier saya sebagai pemain baseball tiba-tiba saja berakhir. Gara-garanya sepele. Waktu itu saya sedang berlatih menjadi pitcher bersama regu sekolah. Kami bermain sampai hari sudah mulai gelap. Saat itulah seorang teman memukul bola dengan keras, lurus ke arah tempat pitcher. Bola pulih kecil yang melesat da­tang itu tidak terlihat sama sekali oleh saya. Tahu­tahu saja sudah menghantam mata kiri saya. Saya langsung pingsan. Untung saja mata saya tidak rusak; tetapi wajah saya biru lebarn dan bengkak sedangkan mata saya harus dibalut.

Begitu melihat keadaan saya, Ibu langsung melarang saya bermain baseball la­gi. membantah. Bayang­kan, sudah susah-susah me­raih tempat dalam regu, tahu­tahu karena mata bengkak saja harus berhenti. Air mata Ibu tidak saya acuhkan. Ke­mudian Abang pulang. Meng­hadapi “bujukan”nya, akhir­nya saya terpaksa menyerah. Hari itu, berakhirlah karier baseball saya, begitu pula im­pian menjadi pemain ter­masyhur.

Kemudian perhatian sa­ya beralih pada tenis. Saya ingin menjadi pemain kelas internasional. Tenis di sekolah menengah waktu itu masih mempergunakan bola lunak yang tidak mena­rik bagi saya karena tidak menuruti standar interna­sional. Saya memilih masuk sebuah klub setempat yang memakai bola keras, sedang regu sekolah saya jauhi. Tidak lama setelah itu, Tumamen Tenis Lapang­an Rumput Sekolah Menengah mulai memperguna­kan bola setengah keras. Perubahan ini mengagetkan para anggota regu sekolah yang selama ini berlatih hanya dengan bola lunak. Saya diminta menjadi ang­gota dan langsung diikutkan dalam regu yang mewa­kili sekolah pada turnamen nasional pertama dengan

bola setengah keras.

Nilai-nilai yang saya dapat dalam pelajaran se- kolah tidak bisa dikatakan top. Saya lebih akrab de- ngan raket dan bola daripada dengan pena dan alas hitung. Walaupun demikian, setamat dari sekolah me- nengah, ditambah setahun persiapan untuk mengikuti ujian masuk universitas, berhasil juga saya menjadi mahasiswa Universitas Kwansci Galutin, jurusan per­dagangan (ekonomi perusahaan), Ketika itu tahun 1927. Tentu saja, saya langsung menjadi anggota klub tents di situ. Berlainan dengan ketika masih di seko­lall saya tidak pernah berhasil merehut gclar juara universitas. saya terpaksa menerima kcnyataan bahwa impian saya untuk menjadi juara terns universitas mungkin terjangkau.

Falsafah “Bayi Abadi”

Semasa maliasiswa itulah saya berjumpa dengan Pen­deta Toyohiko Kagawa. Cara saya berpikir banyak se­kali dipengaruhi olehnya. la salah seorang pendorong gerakan progresif dalarn masyarakat semenjak aural abad ke-20.

Kagawa &tang ke universitas saya yang sangat kental kekristenannya sebagai dosen tamu. la mem­beri kuliah khusus selama 3 hart dalam acara re­nungan yang biasa diadakan pada musim semi dan musim gugur. Kuliahnya yang pertama berjudul, “Bayi Abadi” yang menekankan bahwa “jalan” tersingkat menuju Tuhan ialah dengan bersikap pelts, seperti bayi. Kebenaran yang terkandung dalam khotbah “Bayi Abadi”, begitu merasuk ke dalam benak saya.

Kecuali itu, ada situ semboyan lagi yang nyentuh hati saya sewaktu masih menjadi mahasiswa di Universitas Kwansei Gakuin,“Kegigilran yang
Mulia”. Semboyan nu dipasang dckat lapangan klub tenis kami sebagai pendorong Para pemain agar tetap memiliki semangat pantang menyerah, serta selalu & bermain secara jantan. Kata-kata itu kamiberusaha lebih keras lagi.

Sebagai konsekuensi dari gagasan-gagasan Na­gawa yang sangat menyentuh perasaan saya, minat saya terhadap kegiatan sosial mulai berkembang. Saya bergau1 dengan Para pekerja Yang saat itu sedang membangun gedung barn universitas kami. Karena pengalaman itu, saya bisa lebih memahami serta inenghargai kaum buruh.

Tabun 1930, saat Jepang dilanda depresi besar di bidang ekonorni, saya lulus dari universitas. Tidak ada lowongan kerja bagi orang-orang berkualitas tinggi sekali pun – apalagi untuk orang seperti saya

yang terjun ke dalam masvarakat dengan catatan pres­tasi yang tidak begitu cemerlang.

Karena lama tidak mendapat pekerjaan, saya mu­I.ai tidak sabar walaupun saat itu sebagian teman-te­man mengalami nasib scrupa. Rasanya, saya mau me‑

nerima pekerjaan apa Saja. Akhirnya, Dewi Fortuna tersenyum kepada saya.

Di Kwansei Gakuin ada seorang guru besar yang masih muda dari AS. Namanya j.j. Mickle. Ia mengajar korespondensi bisnis gaya luar negeri, serta tata buku Inggris. Kuliahnya semua dalam bahasa Inggris sehingga sambil belajar saya bisa mem­perbaiki kem.ampuan bercakap-cakap dalam bahasa inggris. Kebetulan Profesor Mickle senang bermain tenis. Saja sering menjadi temannya bermain setelah lulus universitas.

Pada suatu hari, saat sedang rehat, ia bertanya apakah saya sudah berhasil mendapat pekerjaan. Saya jawab bahwa saya masih menganggur. Ia mengajak
saya ke rumahnya. Di situ, ia menulis surat pengantar untuk saya yang di tujukan pada General Motors (GM) Jepang, perusahaan yang sama sekali tidak termasuk
dalam pertimbangan saya dalam mencari pekerjaan.
Pengetahuan saya tentang kendaraan bermotor waktu itu cuma berupa kenangan masa kanak-kanak, saat mobil masih merupakan barang langka di Jepang.

Kalau ada mobil lewat di daerah kediaman kami, pasti suasana heboh. Permainan segera dihentikan dan de­ngan riang gembira kami berbaring berjejer di tengah jalan. Pengemudi mobil sudah tahu keinginan kami dan dengan pelan-pelan dijalankannya mobil lewat di alas kami. Kalau kami tidak mengangkat kepala, tidak ada bahaya terbentur karena kolong mobil wak­tu itu cukup tinggi. Asap tipis berwarna ungu dengan bau aneh masih mengambang apabila mobil sudah lewat. Itulah bau bensin. Kami, anak-anak, berdiri sambil mengendus-endus bau itu yang waktu itu tidak saya sangka akan merupakan bau yang menyelubungi masa depan saya.

Dengan surat pengantar dari Profesor Mickle, saya langsung pergi ke kantor pusat. GM Jepang, di Osaka. Saya diwawancarai dalam Bahasa Inggris oleh manajer bagian iklan. Saya berjanji akan bekerja se­kuat tenaga, jika diterima. Harapan saya sebenarnya tidak besar. Namun, surat pengantar itu rupanya sakti karena tidak sampai seminggu kemudian saya menerima telegram yang member’ tahu saya diterima. Ketika itu tahun 1930. Saya sungguh berterima kasih kepadanya.

Ada yang Lebih Penting dari Sekadar Uang

Masuk secara tidak terduga ke dalam dunia industri mobil ini merupakan awal masa bakti pribadi saya selama setengah abad pada kendaraan bermotor. Saya rasa kehidupan seseorang mernang bisa sangat dipengaruhi oleh kejadian yang bersifat kebetulan. Coba, seandainya saya dulu melanjutkan karier sebagai pemain baseball dan tidak berpindah ke tenis, saya rasa jalan hidup saya akan sangat berbeda.

Di GM Jepang, saya bekerja di bagian periklanan. Jadi, saya paling sibuk menjelang peluncuran mobil model baru. Semasa bekerja di situlah untuk pertamakalinya saya berjumpa dengan Shotaro Kamiya, orangyang ditakdirkan kerja sama dengan saya selama 50 tahun

Persahabatan yang sebenarnya antara kami berdua berlangsung sejak tahun 1934, ketika Kamiya dipindahkan dari posnya selaku manajer kantor. Tokyo, menjadi Manajer Bagian lkIan. Gaya manajemennya tidak secara langsung mengawasi pekerjaan, melainkan menyerahkan seluruh seluk beluk operasional kepada para anggota staf yang lebih muda. Suatu ketika saya diharuskannya mengikuti pendidikan perihal pelayanan di GM. Saya kira ia ingin saya memahami segi teknik kendaraan su , paya mampu menyusun bahan-bahan iklan yang lebih bermutu. Saya tidak tahu kalau tujuannya lain.

Awal musim gugur tahun 1935, saya dipanggil oleh Kamiya. Katanya, ia akan mengundurkan diri la akan pindah ke perusahaan yang waktu itu bernama Toyoda. Saya disuruhnya ikut. Penugasan saya meng­ikuti pendidikan pelayanan di GM, menurut keterangannya merupakan langkah persiapan dalam ren­cananya itu.

Kamiya ternyata sudah menimbang masak­masak kebijakan baru pemerintah yang ingin men­dorong produksi mobil dalam negeri. Waktu itu, Kiichiro Toyoda, ahli waris konglomerat mesin tekstil Toyoda, ingin sekali melebarkan sayap perusahaan dengan merintis pembuatan mobil Jepang. Ia meng­ajak Kamiya bergabung dengan Toyoda. Ia memberi Kamiya kebebasan penuh untuk mengendalikan ope­rasi penjualan.

Ajakan Kamiya datang begitu tiba-tiba s jehin gga saya tidak sanggup memberi jawaban saat itu juga.Sebenarnya, tidak aneh karena saat itu saya belum pernah rnendengar ada “mobil Toyoda”.

Kesangsian itu saya sampaikan pada Kamiya. Ia sebetulnya pendiam, tetapi begitu bergelora ketika melukiskan bayangannya tentang industri mobil di Jepang pada masa yang akan datang.

“Sudah waktunya kita memproduksi mobil sen­diri,” katanya. “Selama bekerja di sini, kamu cuma se­kadar dieksploitasi. Jika kamu ikut dengan saya ke Toyoda, ada kemungkinan kamu akan menempati ke­dudukan senior.” Terus terang saja, saya tertarik oleh caranya memaparkan itu. Sebelum ajakannya datang pun, sebenarnya saya sudah mulai ragu, apakah saya akan bekerja sampai pensiun di GM Jepang. Di pihak lain, berat rasanya melepaskan “hidup enak” yang merupakan makna GM bagi saya. Apalagi, Toyoda masih hams mulai clan awal dalam memproduksi mobil!

Tidak lama setelah Kamiya pindah ke Toyoda, is mengundang saya bersama seorang rekan yang lebih senior melihat-lihat pabrik mesin tenun otomatis Toyoda. Saya dan teman itu pun pergi ke Kariya, di Aichi-Ken.

Ketika tiba, kami dapati suasana di pabrik hi­ngar bingar dan kacau sedangkan penerangannya suram. Sungguh jauh berbeda dengan keadaan di pabrik-pabrik milik GM Jepang, di mana ban-ban berjalan banyak dipergunakan dalam perakitan.

Di pabrik Toyoda ini, palu berdentang-dentang, dan air panas mendesis mengepulkan uap saat me­nyentuh logam pijar. Walaupun demikian, peman­dangan ini memberi kesan jantan, penuh keasyikan kreatif. Kami terkesan melihatnya, tetapi saya masih belum bisa diyakinkan.

Sesuai dengan wataknya, Kamiya pantang me­nyerah. Begitu kembali ke Osaka, kami menerima tele­gram yang bernada tidak sabar menghadapi keragu-raguan kami.

“Teguhkan hati,” demikian bunyi telegram itu. “Bergabunglah dengan saya!” Telegram itu membantu kami mengambil keputusan untuk ikut mengambil bagian dalam usaha membangun industri mobil Je­pang. Bulan November 1935 kami mengundurkan diri dari GM Jepang.

rekan terang-terangan menertawakan kami berdua. Saya ditawari kenaikan gaji jika mau tetap bekerja di GM. Anehnya, tekad saya malah bertambah kokoh untuk pindah ke Toyoda. GM saya tinggalkan dengan keyakinan akan mampu membantu mengha­silkan mobil-mobil Jepang asli. Waktu itu saya ber­umur 29 tahun, dan masih bujangan. Saya rasa kenya­taan inilah yang memungkinkan saya mengambil langkah penuh risiko itu.

Gaji permulaan saya di Toyoda, tepat separuh dari yang saya terima di GM. Kami mulai bekerja pu­kul 07.00 sampai hari sudah lama gelap. Dalam se­bulan, waktu istirahat saya hanya 2 hari, tetapi saya tidak pernah merasa diri saya diperas. Kiichiro To­yoda, majikan kami, bekerja berdampingan dengan kami. Ia bahkan bekerja lebih keras.

Kadang-kadang timbul juga kerinduan saya pada masa lalu di Osaka. Suatu kali, seorang mantan rekan di GM menelepon. la mengajak saya bermain ski. Saya katakan, saya tidak mempunyai uang, juga waktu untuk itu. Kemudian timbul pikiran, jangan-jangan saya melakukan kekeliruan besar. Tetapi, saya tidak akan kembali lagi. Saya tidak ingin mendengar teman­teman mengucapkan, “Apa saya bilang waktu itu?” Tidak ada pilihan lain bagi saya selain membelakangi masa silam serta kawan-kawan lama. Kecuali uang, masih ada hal lain lagi yang hirus dikorbankan dalam mengejar cita-cita.

bersambung

Leave a comment

Your comment