[x]Close

Ayah, Mengapa aku berbeda? bagian 3

Kisah ini terdapat dalam novel ” Ayah, Mengapa aku Berbeda?” telah terbit dan bisa kamu dapatkan di toko buku kesayangan kamu. novel ini akan diangkat ke layar lebar pada awal desember 2011.

buku ini seharga 35.000 dan bisa kamu beli online juga. silakan membaca

 

Aku Berbeda

 

Aku mungkin tidak akan pernah menyadari bahwa aku berbeda dengan orang-orang yang ada di sampingku. Semuanya mulai kupahami, saat aku sadar bahwa aku tidaklah sama dengan anak-anak lain yang kulihat. Ketika berjalan bersama  Nenek di halaman rumahku, mereka dapat berbicara dengan mulutnya dan mendengar apa yang sulit kupahami. Aku tidak mengerti apa itu yang disebut dengan pendengaran.  Alat indra yang satu ini tidak pernah ada dalam hidupku. Bahkan aku tak bisa mendengar suaraku sendiri.

Aku memiliki telinga dan fisikku tumbuh dengan baik saat berusia lima tahun, tapi itu hanya tampak dari luar.  Sesungguhnya aku tidak pernah bisa mendengar apapun selain suara hatiku sendiri.  Ayah yang  dari sejak awal menyadari aku cacat, tidak pernah mau mengatakan kalau aku adalah seorang gadis cacat. Ia dan Nenek memperlakukanku selayaknya  gadis  normal sejak dua tahun sebelumnya, setelah mendapatkan informasi dari Dokter Intan tentang pelatih tunarungu.

Ayah langsung menghubungi pelatih itu yang  notabene seorang ibu yang tampak sudah tua.  Ia datang setiap hari  ke rumahku   untuk memberikan pelajaran kepada  Ayah dan  Nenek tentang bagaimana  cara berkomunikasi  denganku. Ayah dengan  giat belajar pada ibu baik hati yang kupanggil Bibi Anggun itu. Yang aku tahu, ia memiliki seorang anak yang juga tunarungu. Jadi,  ia memiliki perasaan senasib dengan orang tua yang juga memiliki seorang anak tunarungu Baginya, menjadi pelatih orang tua tunarungu adalah cara  untuk berbakti sosial.

Setiap hari setelah pulang kerja, Ayah belajar pada Bibi Anggun. Nenek juga ikut serta, sedangkan aku malah asyik bermain boneka tanpa menyadari bahwa kelak akupun akan mempelajari bahasa tangan dari Ayah. Ia dengan cepat mengerti sedikit demi sedikit hal-hal yang harus ia ajarkan padaku. Ia tidak mengajarkan aku secara keras, tapi ia menggunakan sedikit permainan. Misalnya, apabila ia ingin mengatakan padaku bahwa ini adalah seekor kelinci, ia akan menunjukkan dengan tangannya lalu memperagakannya padaku.

Aku yang saat itu masih kecil mengikuti saja apa yang Ayah ajarkan walau itu sulit. Terkadang aku malah asyik bersama bonekaku, namun akhirnya lama-kelamaan aku terbiasa untuk mengerti maksud Ayah. Aku mulai mengerti bagaimana caranya untuk meminta minum pada Nenek, ingin bermain atau bahkan ke toilet agar tidak buang air kecil di celanaku.  Dua tahun adalah masa-masa yang sangat sulit bagi Ayah, karena ia menghabiskan banyak waktunya  untukku dengan setulus hati dan tanpa lelah.

Setelah umurku cukup, Ayah menyekolahkanku di Sekolah Luar Biasa dimana aku merasa sangat nyaman dan bertemu orang-orang yang sama denganku. Aku memiliki banyak teman sepermainan yang mengerti apa yang hendak aku katakan lewat bahasa tanganku. Di sekolah ini,  setiap harinya aku menghabiskan waktu selama lima jam dari pagi hingga siang hari sampai Nenek menjemputkupulang. Sedangkan pada pagi hari Ayahlah yang bertugas mengantarkanku sebelum akhirnya melanjutkan pergi ke kantornya.

Aku memiliki banyak guru yang baik hati dan sabar untuk mengajari kami anak-anak tunarungu, dengan sepenuh hati. Sahabat-sahabat kecilku saat itu semuanya sangat baik. Ada Lina yang umurnya setahun lebih tua dariku atau Andri yang  sudah berumur sepuluh  tahun tapi masih perlu belajar banyak bahasa isyarat tangan. Rasanya, aku selalu ingin bersama teman-temanku ketika pulang dari sekolah. Namun kini, duniaku sudah berubah. Aku tidak punya teman untuk berbagi cerita selain Nenek yang terkadang sibuk dengan pesanan tetangga-tetangga yang menyukai rotinya.

Pernah suatu ketika, aku mencoba untuk keluar dari rumahku seorang diri  saat  Nenek sedang asyik membuat roti dan pintu terbuka lebar. Aku selalu mengingat jalan menuju sekolahku dan berpikir untuk sekali-sekali berjalan ke sekitar taman komplek. Di sana banyak mainan yang disediakan untuk anak-anak. Ada sekolam pasir, ayunan dan kincir angin kecil yang sesungguhnya membuatku begitu ingin mencobanya.

Saat aku tiba di taman, ada sekumpulan anak yang sedang bermain dan perawat yang menjaga tak jauh dari mereka. Aku mendekat dan langsung mencoba ayunan yang kosong. Namun tanpa aku sadari, ada seorang anak laki-laki menunggu giliran dan melihat ke arahku.  Ia terus berteriak padaku namun aku hanya terus mengayun tanpa henti. Karena kesal, ia pun menahan tali pengikat ayunan dan aku agak terkejut sambil memperhatikannya.

Dia berteriak padaku.

“Gantian dong, ini kan mainan bersama!”

Aku tidak mengerti apa yang ia katakana, jadi kuteruskan bermain. Kemudian ia menangis  karena merasa aku terlalu egois sehingga anak-anak lain pun berkumpul.  Semua melihatku  dengan tatapan aneh dan aku merasa seperti seekor harimau  di atas panggung sirkus. Aku berhenti dan memperhatikan mereka. Semua saling bicara satu sama lain, sedangkan aku hanya bisa terdiam seperti merasa ada sebuah penolakan padaku.

“Ini kan anak cacat yang tinggal di samping komplek,” kata seorang anak perempuan yang tinggal tak jauh dari rumahku.

“O… jadi dia cacat. Sudah cacat jahat lagi tidak mau gentian main, kasihan Hendra nangis gara-gara anak cacat ini, kita laporin suster yuk!” ujar salah satu anak laki-laki lain. Aku baru menyadari bahwa anak yang menangis itu bernama Hendra.

Perawat yang mereka sebut suster itu mendekatiku.  Aku menjadi ketakutan. Semua berteriak bahwa aku jahat seolah aku ini maling. Walau aku tidak mengerti apa yang mereka katakan tapi tatapan mereka terlihat seperti  tidak menyukaiku,. Akhirnya aku pun berjalan meninggalkan tempat itu sebelum perawat itu datang padaku. Mereka terus berteriak menghinaku tapi perawat mereka justru hanya terdiam.

“Anak cacat jangan kembali, anak cacat jangan kembali,” teriak mereka berulang-ulang.

Aku menoleh ke belakang  dan pada saat itu juga hatiku pun sedih. Andai saja aku mengerti apa yang mereka katakan, pasti aku akan lebih sedih lagi. Aku pulang dan melihat  Nenek begitu cemas menungguiku. Ia menarik tanganku masuk ke rumah dan bertanya padaku lewat bahasa tangan.

“Kamu darimana Angel? Nenek cemas mencari – cari kamu!”

“Nenek, mengapa aku tidak bisa mengerti apa yang anak-anak lain bicarakan? Kenapa mereka mengusirku dan menunjukkan wajah yang tidak baik padaku?”

“Anak-anak mana?”

“Anak-anak di taman komplek,” ujarku sedih.

“Jadi kamu habis dari sana? Untuk apa?”

“Aku hanya ingin bermain ayunan, tapi mereka tidak suka padaku.”

Nenek lalu menarik tanganku dan membawaku ke taman tempat tadi aku bermain, kemudian  Nenek berteriak pada anak-anak itu.

“Siapa yang melarang cucuku bermain di taman ini?”

Semua terdiam dan berhenti bermain mendengar suara Nenek yang cukup terlihat marah dari wajahnya. Seorang perawat mendekati Nenek dan mencoba menjelaskan,

“Kenapa Nek?”

“Siapa yang melarang cucuku untuk bermain disini?”

Akhirnya suster itu menjelaskan sesuatu kepada  Nenek,  sedangkan anak-anak lain tampak ketakutan  bahkan sebagian pergi meninggalkan taman.  Aku melihat mereka pergi dan langsung mendekati ayunan. Saat itu aku langsung duduk dan mengayun diriku sendiri. Nenek sepertinya mulai menyadari persoalannya dan terlihat lebih tenang dari sebelumnya setelah perawat itu menjelaskan beberapa hal. Setelah perawat itu pergi,  Nenek mendekatiku. Ia terlihat begitu murung, perlahan ia membantuku untuk mendorong ayunan.

Aku tersenyum padanya dan berkata untuk lebih cepat. Nenek dengan senang hati melakukan apa yang aku inginkan. Aku tertawa  kegirangan karena akhirnya bisa menikmati ayunan yang semakin kencang dan merasakan angin menyentuh tubuhku dan membuat rambutku berterbangan. Nenek berhenti mengayun dan melepas kacamatanya, air matanya terjatuh dan ia  hapus dengan perlahan. Saat ayunan berhenti,  aku menoleh ke arah  Nenek di belakangku. Karena aku melihat Nenek menangis, maka  kuhentikan ayunan dan mendekatinya.

“Kenapa Nenek menangis?” tanyaku.

“Tidak apa-apa. Sudah puas mainnya?”

“Sudah. Ayah kapan pulang?” tanyaku lagi.

Nenek menundukkan badannya lalu mengatakan sesuatu padaku,

“Angel, lain kali kalau kamu ingin bermain ke mana pun, ajaklah Nenek. Nenek akan dengan senang hati menemani kamu.”

“Iya.”

Aku yang masih kecil itu belum menyadari mengapa Nenek berkata demikian. Karena sesungguhnya Nenek hanya bersedih di dalam hatinya. Ia sadar, bahwa cucunya yang tunarungu, memiliki dunia yang berbeda dengan anak-anak lain yang melihatku dengan aneh. Ia cemas melihat masa depanku di dunia ini, ia cemas untuk membayangkan bagaimana aku nanti hidup di dalam kehidupan bermasyarakat. Usianya yang sudah sepuh, memiliki sedikit waktu untuk menjagaku. Saat aku tiba dirumah, ia berkata padaku,

“Angel, belajarlah dengan benar di sekolah. Karena dengan begitu kamu akan bisa mengerti bagaimana cara bicara dan berkomunikasi dengan orang lain.”

“Memangnya kenapa, Nek?”

“Karena itulah cara kamu untuk belajar tentang bermain, memiliki teman dan meminta pertolongan pada orang lain.”

“Aku kan sudah punya teman di sekolah. Mereka mengerti apa yang aku katakan dan semua tampak normal?”

Nenek mungkin tidak ingin melanjutkan pembicaraan lebih dalam dan ia hanya memintaku untuk belajar lebih giat. Dalam hatinya, ia ingin berkata bahwa aku berbeda dengan orang lain yang normal. Satu-satunya cara agar aku dapat hidup bermasyarakat adalah dengan belajar untuk mengerti bagaimana cara untuk dapat hidup di dunia ini dengan keadaanku yang tidak sempurna. Tapi ia mengurungkan niat itu karena sadar bahwa aku masih terlalu kecil untuk mengerti arti kehidupan yang keras ini.

Nenekku yang baik hati, ia adalah malaikat yang selalu siap  melindungiku walau harus kusadari usianya telah senja.

***

Di sekolahku, aku mulai mempelajari bagaimana caranya berhitung, membaca dan memperhatikan mimik muka atau gerak bibir untuk manangkap maksud apa yang hendak dibicarakan  lawan bicara. Aku berpikir itulah kehidupan normal yang aku jalani dan merasa bahwa seisi kelasku juga sama dengan kondisiku, jadi aku menikmati semuanya  seiring berjalannya waktu.

Saat mengambil raport kelas setiap semester, aku selalu mendapatkan rangking satu dan itu membuat  Ayah cukup senang. Saat pengambilan raport, wali kelasku berkata kepada  Ayah,

“Angel terlalu pandai untuk bersekolah di tempat seperti ini, apakah  Bapak berpikir untuk menyekolahkannya di sekolah yang umum dan normal?”

“Tapi dia masih terlalu kecil dan saya tidak yakin.”

“Kami para guru sepakat untuk mengatakan bahwa kemampuan pendidikan Angel setara dengan anak kelas 6 SD di sekolah normal. Ia pandai berhitung, menulis dan menangkap apa yang kami bicarakan lewat mulut  juga tampak seperti anak normal lainnya. Mungkin kesulitannya hanya tidak dapat mendengar dan bicaranya kurang sempurna, tapi semua itu bukanlah masalah.”

“Lalu apa saran Ibu?”

“Semua pelajaran telah ia serap dengan baik. Walau usianya saat ini baru  delapan tahun, tapi ia sudah belajar dengan  anak usia tiga belas tahun tahun. Mungkin lebih baik ia disekolahkan di tempat yang normal. Saya yakin Angel bahkan bisa lebih pintar dari anak-anak normal lainnya.”

“Akan kami pikirkan, karena sulit untuk membayangkan Angel sekolah umum.  Saya takut ia tidak siap dan tidak bisa diterima.”

“Bapak tidak perlu  pesimis begitu. Sekarang, kami guru-guru akan fokus untuk mengajarkan Angel untuk bahasa isyarat sehingga ia dapat dengan cepat sekolah di tempat normal. Yang terpenting sekarang  adalah kita menyiapkan dia untuk ke depannya. Banyak kok anak-anak seperti Angel yang akhirnya memutuskan untuk sekolah di tempat umum dan selama ini tidak ada masalah.”

Ayah hanya terdiam kemudian kami pulang ke rumah. Ketika makan malam,  Ayah dan  Nenek berdiskusi, sepertinya Nenek sedikit tidak setuju dengan pendapat  Ayah. Ia lebih berharap aku bersekolah di tempat yang lama karena ia tidak ingin aku terluka oleh anak-anak normal lain seperti ia melihatku ketika di taman dulu. Ketika malam saatnya tidur,  Ayah mengantarkan aku hingga ke ranjang lalu mengajakku untuk bicara sebelum tidur.

“Angel, apakah kamu merasa diri kamu berbeda dengan anak-anak lain?”  tanya Ayah tampak serius.

“TIdak,” jawabku.

“Angel, apakah kamu tau, bahwa kamu adalah seorang tunarungu?”

“Tunarungu, bukannya semua teman-temanku juga tunarungu?”

“Tidak semua anak-anak yang kamu tau itu adalah tunarungu. Kamu berbeda Angel. Kamu tidak dapat mendengar dan  hanya sedikit dari anak-anak lain yang bisa mendengar. Bisa kamu pahami?”

Aku terdiam seperti tampak tidak mengerti.

“Baiklah, kalau begitu kamu  lekas tidur sana,” kata Ayah menyerah dan hendak pergi. Aku meraih tangannya sambil berkata.

“Ayah, yang aku tau tentang diriku, aku hanya ingin bersamamu. Itu saja cukup. Aku tau, aku tidak mendengar dan tidak mengerti apa itu mendengar, tapi aku merasa cukup dengan keadaanku saat ini. Aku bahagia memiliki teman-teman yang bisa bermain bersamaku. Tidak sulit buat aku bicara dengan mereka.”

“Tapi kelak kamu harus mencoba untuk hidup dengan lingkungan berbeda. Karena kamu akan terus tumbuh menjadi besar.”

“Hmm… teman-temanku juga akan tumbuh dewasa dan sama dengan kondisiku.”

“Kamu memangnya tidak ingin punya teman yang bisa mendengar?”

Aku terdiam. Belum pernah terpikir olehku memiliki teman yang bisa mendengar, malah berpikir bahwa bisa mendengar adalah sesuatu yang aneh.

“Aku tidak pernah berpikir tentang itu,” jawabku.

“Baiklah, lupakan pertanyaan  Ayah hari ini, lekas tidur. Besok kamu kan harus sekolah. Ayah tidak ingin kamu terlambat bangun. Oke?”

“Oke,” jawabku.

“Selamat malam Ayah…” ucapku pada  Ayah yang langsung menjawab dengan tersenyum.

Sejak malam itu, aku mulai berpikir tentang sebuah pertanyaan dari Ayah. Apakah aku bisa memiliki teman lain selain teman-temanku  yang tunarungu? Bagaimana rasanya memiliki teman yang bisa mendengar? Bagiku, melihat orang lain bicara adalah sesuatu yang aneh. Dalam  duniaku hanya ada satu cara untuk berkomunikasi yaitu lewat bahasa tangan. Ayah sungguh membuatku bingung dan berpikir tanpa henti dengan pertanyaan-pertanyannya.

***

 

kisah selanjutnya bisa kamu baca dan dapatkan di novelnya

 

Comments (46)

SystaAugust 13th, 2011 at 11:37 am

kereen akk suka cerita yg inii :)

ditAugust 18th, 2011 at 5:47 pm

suka suka suka banget…!!!
tapi tanggung harus dilanjutin dengan beli novelnya.

NisaAugust 22nd, 2011 at 11:22 am

hmm, ini ceritanya bagus tapi kok bahasanya gimana gitu… kok menurut saya terkesan berlebihan yah? hehehe

saya sudah beli novelnya. pas saya baca.. ceritanya agak mbulet–” terus juga yang meranin Agnes kok ya lebay banget, kayak bukan anak SD. pas saya SD perasaan gak gitu juga deh.

umm, terus kayaknya banyak tanda baca yang salah ya, hehehe… jadi kurang srek bacanya.

mungkin kalo dibenahin dikit dan ceritanya nggak terlalu lebay bagus banget ini novel. semangat terus ya buat AgnesDavonar! ^^

desyAugust 25th, 2011 at 8:27 am

kereen novel yg ini,

adAugust 27th, 2011 at 9:52 am

Ceritanya keren.. sangat inspiratif
Chapter Mars kapan terbitnya??

selly nidaAugust 28th, 2011 at 9:39 am

cerita nya keren banget…
kapan keluar film nya..??

RCAugust 28th, 2011 at 7:48 pm

@Nisa … suka mengarang buku juga kah?
boleh saya lihat websitenya atau sekedar membaca bagian novel/cerpen-nya?

@agnesdavonar … nice story, sis.

fajar yuliantiAugust 30th, 2011 at 2:15 am

boleh tau ini kisah nyata atau bukan? please ka agnes jawab ya, aku mau ngeresensi buku ini buat tugas :)

AnnisaSeptember 3rd, 2011 at 5:13 am

keren nih ceritanya kak..

ichaSeptember 7th, 2011 at 12:35 pm

ceritanya bener2 keren, tapi sayang, cuma sampai disini bacanya, soalnya belom punya novelnya,, heeuu.. :'(

KristinSeptember 10th, 2011 at 12:33 pm

yah ,,
yang udh punya novel nya ,,
tolong tulisin cerita selanjut nya dongg ..
kasian ne yg gag punya novel nya .. ehheh

JunieSeptember 20th, 2011 at 10:10 am

nie TRUE STORY ndak ea…???? coz di novel.na dda lagu terakhir angel????? kalo 2 emg TRUE STORY ppa angel udda meninggal?

Aprilia Woro TrengganiOctober 14th, 2011 at 3:28 pm

Its a good story. Cukup membuat mata saya membengkak._.

antyOctober 29th, 2011 at 7:51 am

kerenn bgt ceritanya, trus gimana cerita akhirnya? share lg donk di blog

ann chatte~October 30th, 2011 at 3:45 pm

Yah, kak, masa harus beli?! *histeris liat dompet kosong*

Huweeee, aku penasaran lanjutannya! Pengen belii~

Keep writing, Agnes-neechan! Aku jatuh cinta pada cerita-cerita neechan yang asik dibaca.

Aku paling suka cerita yang ini (Ayah, Mengapa Aku Berbeda). Yosh! Kalo gitu mulai sekarang aku nabung buat nonton filmnya di bioskop!

pampy raharjoNovember 4th, 2011 at 4:43 am

mau dong film nya…

nadhifaNovember 7th, 2011 at 7:59 am

@agnesdavonar: very good story

rizalNovember 9th, 2011 at 2:45 am

film keluar tanggal 17 november 2011.
hari kamis minggu depan.

suzanNovember 9th, 2011 at 2:48 pm

keren…..inspiratif bgt….dan saya sudah merasakan dalam kehidupan nyata,bagaimana membesarkan, mendidik n merawat anak spesial n luar biasa yg sering mereka sebut tuna rungu…n anak2 tuna rungu saat ini sudah mampu bicara dengan bahasa verbal tidak hanya bahasa isyarat…..
keren…..
tinggal tunggu filmnya nih…..
tgl 17 ya….

wie chawalaNovember 9th, 2011 at 6:39 pm

Aqu udah punya novelnya….
bagus banget….
Sangat memberikan banyak inspirasi….
novelnya sangat sedih sekali………

Aqu juga sangat suka musiknya…

intan purnamasariNovember 11th, 2011 at 2:25 am

ajiiiiiiiiiiibbbbbbbbbb :)

chikebumNovember 13th, 2011 at 7:48 am

nyesel baca, jadi penasaran dan harus beli deh T^T

semua story mbak agnes bagus, aku suka apalagi yang ini…

*perasaan namanya selalu angel & martin ya ? CMIIW

niaNovember 19th, 2011 at 4:20 am

sip, bikin betah yg baca ^^

LhiviaNovember 20th, 2011 at 1:16 am

CARA mesan online gu mn k’…????

evaNovember 26th, 2011 at 12:34 pm

salut sama agnes davonar ..
bisa buat novel sebagus ini ..

Bayu dwi anggraraNovember 29th, 2011 at 3:41 am

SUKA BNGET |)

widiyaDecember 4th, 2011 at 3:45 am

bagusss bngt ceritanya…
yg main dinda hauw
aku kan dinda hauwers

Rai ZuuDecember 4th, 2011 at 5:06 am

I LIKE so much…..

AverinaDecember 4th, 2011 at 12:10 pm

aku udah punya novelnya, chapter :moon,

chapter mars kapan kelar? ato udah keluar?

novazaraDecember 5th, 2011 at 7:14 am

terharu,, hikz T_T

septia ayuDecember 5th, 2011 at 8:23 am

I LIKE IT :D

rachelDecember 22nd, 2011 at 6:51 am

keren…bnget

:D

I Like it… :D

rawenJanuary 8th, 2012 at 8:15 am

Q kayak pengen nangis bacanya…

indra saputroJanuary 26th, 2012 at 2:01 am

good story

Desti ana citraJanuary 26th, 2012 at 9:59 am

Aku pngen jadi pnulis trkenal kaya ka agnes davonar,

crita nya bagus kak, sukses yah, kak !

anaMarch 5th, 2012 at 8:54 am

chapter 2 sama 3 udah rilis tah??

firaMarch 29th, 2012 at 9:51 am

kak , klo chapter 2 udh terbit blm ?

sischaApril 16th, 2012 at 5:06 am

di balik kekurangan ada kelebihan.,,.,.
di balik apa yang mereka punya ada yang tidak kita punya.,.
dan di balik apa yang kita miliki ada yang tak mereka miliki.,,

novel yang ngasih inspirasi baik buat semua orng yang punya kekurangan.,.,
dalam segala hal bukan hanya dalam segi fisik..,

satu hal yang perlu di ingat.,.,
tuhan g pernah menciptakan produk gagal.,,.,
semua dengan kualitas yg baik,.,,
dan hnya tuhan yg tau nilai itu.,.,
fighting buat yg sm seperti angel,.,.,.

by: sischa hutasoit,.,.

tasyaApril 26th, 2012 at 7:58 am

keren banget aq pernah minjem novelnya ke temen hahaha
membuat orang semangat buat jalanin hidup

rifaniApril 29th, 2012 at 1:46 am

Lw chapter mars udh terbit blm?
Lw udah digramedia ada gak ?

ervianieMay 26th, 2012 at 1:48 am

novel ada diedarkan ke Malaysia ? i love this story..biarpun ada certain words yang saya tak faham..

hikuga_leaderJune 6th, 2012 at 6:27 am

sayang harusnya ceritanya lebih banyak tentang anaknya di kehidupannya bukan ada narator terus (maksudnya kayak gini:Aku mungkin tidak akan pernah menyadari bahwa aku berbeda dengan orang-orang yang ada di sampingku. Semuanya mulai kupahami, saat aku sadar bahwa aku tidaklah sama dengan anak-anak lain yang kulihat. Ketika berjalan bersama Nenek di halaman rumahku, mereka dapat berbicara dengan mulutnya dan mendengar apa yang sulit kupahami. Aku tidak mengerti apa itu yang disebut dengan pendengaran. Alat indra yang satu ini tidak pernah ada dalam hidupku. Bahkan aku tak bisa mendengar suaraku sendiri.

Aku memiliki telinga dan fisikku tumbuh dengan baik saat berusia lima tahun, tapi itu hanya tampak dari luar. Sesungguhnya aku tidak pernah bisa mendengar apapun selain suara hatiku sendiri. Ayah yang dari sejak awal menyadari aku cacat, tidak pernah mau mengatakan kalau aku adalah seorang gadis cacat. Ia dan Nenek memperlakukanku selayaknya gadis normal sejak dua tahun sebelumnya, setelah mendapatkan informasi dari Dokter Intan tentang pelatih tunarungu.

Ayah langsung menghubungi pelatih itu yang notabene seorang ibu yang tampak sudah tua. Ia datang setiap hari ke rumahku untuk memberikan pelajaran kepada Ayah dan Nenek tentang bagaimana cara berkomunikasi denganku. Ayah dengan giat belajar pada ibu baik hati yang kupanggil Bibi Anggun itu. Yang aku tahu, ia memiliki seorang anak yang juga tunarungu. Jadi, ia memiliki perasaan senasib dengan orang tua yang juga memiliki seorang anak tunarungu Baginya, menjadi pelatih orang tua tunarungu adalah cara untuk berbakti sosial) ngedumel tapi gapapa keren bgt!

siska ndutJune 27th, 2012 at 2:43 am

bagus sieehh…
tp kenapa harus dilanjutin dgn beli bukunya…
lanjutin lg dong bgian yg lainnya..

aqsoJuly 10th, 2012 at 2:36 pm

seper sekali, .

Arii phobia uglypeopleJanuary 11th, 2013 at 6:16 pm

The best critanya

IA. Citra. S.March 10th, 2013 at 1:24 pm

behh dah prnah bacaa loo dah lmaa dah tamat baca sedih kale, ad 3 orng tmennya jht kasian lii diaa!
:D

Leave a comment

Your comment