[x]Close

PESAWAT KERTAS TERAKHIR – CERPEN TERAKHIR

Pesawat kertas terakhir

[sg_popup id=”1″]Popup[/sg_popup]paper-plane-10749 Dulu aku pernah berjanji pada seseorang ketika pertama kali kami saling mengenal. Kalau kelak pasti aku akan membawanya terbang mengelilingi angkasa dengan sebuat pesawat dimana aku akan menjadi pilotnya dan ia akan duduk disampingku dengan senyumnya yang indah. Itu hal terakhir yang aku ingat, ketika Angel bertanya padaku mengapa aku sering sekali membuat pesawat lipat yang terbuat dari kertas saat kami sama-sama bersama di masa sma dulu dan pesawat kertas itu adalah hadiah perkenalan pertama kami ketika kami berkenalan.

Angel baru saja pindah dari luar kota di sekolah kami. ia duduk disampingku dan sebagai teman pertama di sekolah barunya aku menghadiahkan pesawat kertas itu. ia menerimanya dengan suka cita. Semenjak saat itu kami menjadi teman dekat dan setiap aku bertemu, aku selalu menghadiahkan pesawat kertas kepadanya.

“ Gilang, kamu ngapain sih suka banget bikin pesawat kertas kayak gitu, kayak gak ada kerjaan lain aja. Besok kan kita ujian kelulusan sekolah..”

“ Ya..karena aku pengen banget punya pesawat terbang, siapa tau.. suatu saat nanti aku bisa bawa kamu dengan pesawat.. terus aku jadi pilotnya.”

“loh.. kamu kan pengen tes masuk tentara.. memangnya impian kamu jadi pilot masih bisa..?”

“ masih dong.. aku mau jadi tentara angkatan udara.. doakan ya..”

“iya pasti tapi jangan lupa ya.. kalau nanti sudah jadi pilot pesawat, janji kamu untuk bawa aku terbang.. gak  kamu lupakan..’

Itu hal yang membuatku selalu teringat saat-saat dimana aku berjanji pada Angel. Aku menyimpan rasa cinta yang amat dalam padanya karena sejak lamanya kami selalu dekat sebagai sahabat tapi aku malu untuk mengatakan kalau aku cinta padanya. Beberapa bulan kemudian aku bertekad padanya sehabis ujian kelulusan nasional aku akan menyatakan cintaku. Aku tidak ingin menganggu Angel yang sedang menghadapi ujian nasional sama sepertinya diriku.

Ketika waktu ujian kami lalui dengan penuh perjuangan dimana Angel yang lebih cerdas daripadaku selalu membantuku belajar bersama. Sebagai hadiah atas kebaikan yang ia berikan aku selalu memberikan sepotong kertas yang kulipat berbentuk pesawat kecil dan ia menerimanya dengan suka cita. Sampai ia berbisik padaku

“ kamu tau gak? Pesawat kertas ini, sudah aku kukumpulin dan aku masukin ke kotak toples dan sebentar lagi bakal penuh loh… “

“oh ya, aku pikir kamu buang..”

“enggak dong, itu  akan aku simpan dan aku hitung, sebab setiap pesawat kertas yang kamu buat, adalah saat dimana kita lagi bersama..”

“semoga sampai selamanya ya.. siapa tau kalau aku bikin setiap hari satu. Bisa bikin gudang serumah jadi penuh pesawat kertas..”

Angel tersenyum dan aku memandanginya.. tiba-tiba terlintas ingin menyatakan cintaku padanya.

“angel..”

“iya gilang..”

“kalau aku suka sama kamu.. kamu percaya gak?”

Tiba-tiba angel terdiam.. dari wajahnya aku tau sepertinya ia tidak begitu suka kata-kata itu.

“maaf deh.. kalau aku berlebihan.. aku hanya.. bercanda..”

“gilang.. aku pulang dulu ya.. ayah aku mau bikin acara keluarga.. maaf”

Tiba-tiba angel berlari dariku.. dan aku jadi bingung. Sejak saat itu aku tidak pernah bisa menghubunginnya.  Setiap aku pergi ke rumahnya, ia tidak pernah bisa kutemui. Hatiku sedih. Tapi aku tau, mungkin ia melakukan ini karena ingin menolak cintaku. Karena sekolah sedang libur aku tidak bisa menemuinya di sekolah. Jadi kami hilang kontak. Terlalu bodoh dan naïf bagiku meminta cinta dari seorang yang cantik dan primadona di sekolah. Ia mungkin hanya berpikir aku sahabat. Dan aku pun berusaha tegar dan mulai kehilangan saat-saat bersamanya.

Dua minggu kemudian..

Pengumuman kelulusan sekolah di mulai dan aku bersyukur lulus , disanalah aku melihat Angel untuk sekian lama setelah lama tak bertemu. Aku berlari mendekat padanya.

“angel..”

Iya memandangku dengan hampa.

“ aku Cuma pengen bilang terima kasih.. karena kamu aku bisa lulus..”

“sama-sama Gilang..”

Kami seperti orang asing. Terdiam untuk saling memandang beberapa detik. Kuberanikan diri untuk mengeluarkan isi hatiku.

“Angel. Kalau aku ada salah kata dan bikin kamu marah.. maaf ya.. aku mungkin tidak tau diri menganggap kebaikan kamu.. maaf ya..”

“gilang bukan seperti itu.. aku…”

Aku tersenyum dan memotong perkataannya.

“ aku tau.. gapapa kok.. kita masih bisa tetap berteman kan.. “

Angel masih terdiam.. aku mengeluarkan sesuatu dari saku tasku. Dan memberikan pesawat kertas padanya.

“ini yang terakhir.. mungkin setelah lulus ini.. aku akan tes masuk militer.. aku akan sibuk dan mungkin gak bisa nemuin kamu lagi.. “

Tiba-tiba angel menerima pesawat kertasku sambil menangis..

“kenapa kamu nangis.. aku salah ya..”

“aku pindah.. ayah sama ibuku pindah dinas ke aceh… aku akan ikut.. aku sedih karena mungkin aku gak bisa ketemu lagi..  itulah sebabnya aku nangis..”

Hatiku tertegun menerima kata-kata itu. sebenarnya aku sedih mendengar perpisahan ini. Tapi aku tau, aku harus berusaha tegar untuk membuatnya ikut tegar.

“kenapa kamu harus sedih. Toh kita masih bisa ketemu dengan cara apapun. Bisa lewat surat. Telepon dan apa saja. .teknologi kan sudah maju.. benar kan ?”

“tapi dengan kondisi aceh yang masih dilanda darurat militer dan konflik.. aku agak takut…”

“kamu jangan takut.. aku janji kok. Kalau aku sudah lulus militer, aku akan minta coba pindah kesana dan jagaian kamu setiap saat..”

Mendengar itu angel tersenyum dan sedikit lega karenanya. Walau aku sendiri tau, sulit bagiku untuk meminta berada di aceh karena itu bukan wewenangku.  Angel memang tidak punya banyak pilihan karena ayahnya adalah seorang pegawai sipil yang juga dokter. Sehingga ia harus ikut dengan keluarganya kemanapun bertugas, sama saat ia harus pindah ke Jakarta dan hanya bertahan dua tahun disini, lalu aku jatuh cinta padanya di pandangan pertama ketika ia mengenalkan dirinya di kelas dengan senyumnnya yang indah.

Detik-detik perpisahan.

Aku duduk bersamanya dalam sebuah makan malam terakhir. Kami berusaha tegar dan menikmati saat terakhir bersama. Aku menyerahkan satu pesawat kertas yang istimewa untuknya. Tertulis sebuah kalimat

“ terima kasih atas kebersamaan selama ini , aku sayang kamu angel..”

Kali ini angel hanya tersenyum menerima pesawat kertas itu. ia tidak menjawab apapun tentang cinta antara kami. lalu ia berkata padaku saat aku pulang mengantarkannya ke rumah. Ia memintaku menunggu. Lalu beberapa saat kemudian ia keluar dengan setoples kaca yang penuh dengan perahu kertas dariku.

“ ini yang aku bilang tentang toples untuk simpan pesawat kertas kamu..”

“astaga angel. Kamu benaran simpan ya..”

“sudah aku hitung juga.. totalnya sudah 201 biji..”

“ waduh berarti aku sudah ngerepotin kamu dong dan simpan kertas itu..”

“itu adalah jumlah pertemuan kita.. aku akan ingat. Tapi gilang kamu benar-benar ingin tau kan gimana jawaban tulisan ini..” perahu kertas terakhir yang aku tulis dengan kalimat cintaku.

“iya..”

“aku jawab, kalau kamu kelak nanti sudah penuhin janji kamu. Temuin aku di aceh.. dengan satu kertas perahu kertas lagi ya..”

“hah..  serius kamu..”

“ aku percaya kok.. kalau kita berjodoh. Tuhan akan memberikan segala jalan untuk mempertemukan kita dengan cara apapun.. entah dalam keadaan hidup atau mati..”

Entah mengapa hatiku sedih mendengar kalimat itu..

“tapi kalau kita gak pernah ketemu lagi.. aku juga akan senang . karena dengan kertas ini aku ingat, ada orang yang pernah mencintai aku dan aku selalu menunggu sampai ia kasih kertas lagi..”

Aku meraih tangannya.

“kamu pegang janjiku. Aku pasti akan kembali menemui kamu. Dengan cara apapun.. kamu tunggu aku ya…”

Angel menangis dan aku berusaha tegar. Ia berusaha percaya janjiku walau entah kapan itu terjadi. Dan kami pun berpisah malam itu. aku kembali dengan perasaan sedih, ini hari terakhir kami bersama. Angel akan pindah besok dan ia minta aku tidak usah mengantarkannya. Keesokan harinya aku melanggar janjiku. Aku sudah pagi-pagi di rumahnya dan ternyata aku datang terlambat. Saat aku datang rumahnya telah kosong. Disitulah aku menangis karena sedih harus kehilangan orang yang aku cintai untuk pertama kali. Tapi janji dan tekadku untuk terus bersamanya tidak pernah aku langgar untuk terus kuperjuangan sebagai janji suci.

***

Aku diterima sebagai anggota tni dan menempuh pendidikan di Yogyakarta. Sedangkan Angel melanjutkan sekolah kedokteran di aceh. Sesekali aku saling bertegur karena kegiatanku di akedemi militer melarang penggunaan ponsel. 4 tahun kemudian aku lulus. Aku dan angel masih saling bertegur sapa. Sampai suatu malam ia berkata padaku dan mengucapkan selamat lewat telepon dengan suara lemah.

“ kamu sakit ya?”

“iya. Gejala tipes kecapean karena akhir-akhir ini banyak pasien.. aku praktek kerja berlebihan sampai akhirnya drop. Ini juga di rawat di rumah sakit sama Papa..”

“ kamu harus jaga kesehatan ya.. aku ada kejutan untuk kamu nanti.”

“apa tuh.. ?” kata angel

“aku akan datang temuin kamu sehabis natal untuk merayakan tahun baru sama kamu dan kasih kamu sesuatu..”

“serius kamu..?” Tanya angel

“beneran kok.. tunggu ya.. aku bawa sesuatu untuk kamu..”

“pesawat kertas lagi..”

“rahasia.. yaudah sekarang kamu istirahat ya.. aku pasti kesana.. tunggu ya..”

“kapan?”

“rahasia..kejutan pokoknya dalam beberapa hari ini..”

“janji ya.. “kata Angel.

“pokoknya aku udah janji aku pasti tepati.. untuk temui kamu dengan cara apapun. “

Angel tersenyum menutup teleponnya dan disampingnya terdapat toples yang selalu ia bawa saat kenangan kami bersama. Toples yang terisi pesawat kertas dariku.

Beberapa hari kemudian usai mendapatkan cuti natal dan tahun baru. Aku pun bertekad menemui Angel di aceh..

Tanggal 26 desember 2004. Aku memesan pesawat pagi untuk menuju Aceh. Aku begitu bersamangat dan terbang pukul 6 pagi  dari Jakarta.  Setiba di aceh aku langsung ingin menuju rumah sakit tempat angel di rawat. Untuk pertama kalinya aku melihat tanah lencong. Dan tiba tiba dalam perjalanan dengan sebuah mobil yang disewakan seperti taksi menuju rumah sakit. Bumi aceh bergetar.. mobil kami terhenti di tengah jalan. Semua rumah rubuh. Jalanan retak tak beraturan.

Sebagai seorang tentara aku tau berinisiatif keluar dari mobil dan menenangkan seorang nenek yang berlari keluar rumah yang rubuh. Tangis dan jeritan bergumandang. Aku berusah tidak panik dan tiba-tiba terlintas pikiranku tentang angel. Setelah menempatkan sang nenek pada tempat yang aman. Aku menelepon angel dan seluruh sambungan telepon tak bisa digunakan.  Dari kejauhan tiba-tiba banyak orang berteriak untuk lari karena air laut naik ke daratan.

Dengan mata dan kepalaku sendiri aku melihat dengan jelas air yang berwarna hitam pekat tercampur dengan reruntukan rumah yang diterjang dan bahkan kendaraan bermotor setinggi 5 meter mendekat tak jauh 100 meter dariku. Aku berinisiatif lari ke tempat yang lebih tinggi  dan menolong kembali nenek itu dengan mengendongnya. Beruntung daerah kami lebih tinggi dan meminta mobil yang tadinya membawaku untuk melaju ke atas. Beberapa orang ikut dengan kami dan sebisa mungkin sampai mobil itu muat. Sebagian yang lain berlari secepat mungkin menjauh dari  air.

Entah mujizat apa yang terjadi ketika sedikit lagi mobil kami tersapu oleh air. Ketika mobil mesin kami mati saat air mulai menyapu. Kekuatan pasang laut itu berhenti dan kami beruntung selamat.  Dengan perasaan shock dengan kejadian baru saja terjadi aku berusaha untuk kuat dan menyelamatkan beberapa orang yang selamat dengan kondisi yang menyedihkan.  Mereka yang selamat berusaha untuk tetap hidup dan menangisi mereka yang kehilangan keluarganya.

Hatiku cemas menunggu dan memastikan apa yang terjadi, yang pasti aku berusaha untuk percaya kalau

Angel tidak mengalami hal apapun dan ia baik baik saja..

***

Entah bagaimana melukiskan betapa dahsyatnya ombak laut yang menyapu aceh. Yang pasti sepanjang jalan dimana air laut itu lewati habis tak tersisa. Jeritan dan air mata terdengar setiap aku melangkah melewati jalan yang aku lalui.  Mayat-mayat bertebaran sepanjang jalan. Aku bertanya kepada setiap orang yang masih hidup untuk mengetahui dimana rumah sakit dimana angel di rawat. Beberapa orang mengatakan laut telah menyapu rumah sakit itu. tapi aku harus percaya kalau angel masih ada disana. Ketika aku berhasil menemukan tempat itu.

Lututku terasa lemas. Hatiku serasa hancur. Aku tak menemukan lagi wujub rumah sakit selain puing yang hancur berserakan tak beraturan.  Aku menangis tak kuasa kesedihan, aku menyesal mengapa tak pergi lebih awal untuk bertemu dengan angel dan memberitahukan padanya kalau aku datang padanya saat ini. Kini aku tau bagaimana rasanya kehilangan dan penyesalan , tapi tangisku tidak akan bisa mengembalian segalanya. Seorang ibu mendekat padaku dan berkata.

“nak.. yang kuat dan tabah ya.. kita semua harus kuat menghadapi cobaan ini.. kita bangkit bangun dan tolong mereka yang bisa.. ”

Kata-kata ibu mengingatkan aku pada angel yang selalu tegar kalau angel masih ada. aku mencoba mencari orang-orang yang masih hidup dan mungkin itu adalah angel.  Rumah sakit dan bantuan dari pemerintah datang.  Selama beberapa hati aku terus mencari tau setiap tempat-tempat penampungan mereka yang selamat untuk mencari sosok angel. 4 tahun kami tidak bertemu dan aku percaya aku pasti menemukan angel dalam keadaan hidup.

Beberapa hari aku mencari dan tubuhku yang sudah mulai lemah dan tidak menjaga kondisiku. Disaat aku putus asa. Aku melihat seorang anak sedang terdiam dengan pesawat kertas yang tak asing dengannya dan aku mendekat lalu bertanya padanya.

“adik dapat mainan kertas ini darimana?”

Ia tidak bisa bicara mungkin karena shock. Tapi tangannya menunjukkan aku pada sebuah arah dimana aku bisa melihat dengan jelas sesuatu yang tak asing bagiku. Sebuah toples yang berisi pesawat kertas yang pernah ditunjukkan angel padaku. Aku berlari mendekat dan memunggut toples yang masih utuh dan hanya sedikit  retak. Tanganku bergetar menyentuhnya. Toples ini ditemukan  terbawa ombak lautan hingga menyatuh dengan dengan rerutuhan rumah tanpa ada Angel.  Rasa putus asa dan kesedihan karena merasa angel telah tiada kemudian Tiba-tiba membuatku pingsan.

Sehari kemudian aku dirawat di rumah sakit. Orang tuaku bersedih berpikir aku telah mati dan mereka datang seminggu kemudian untuk menjemputku. Disamping ayah dan ibuku, aku menangis, mereka mencoba membesarkan hatiku untuk tetap kuat dan ikhlas. Toples yang aku peluk saat pingsan akhirnya aku bawa ke Jakarta dan kusimpan dengan rapi sebagai kenangan terakhir bersama Angel.

***

5 tahun kemudian.

Rasa trauma dan kehilangan telah membuatku tidak pernah ingin mengenang tsunami. Sebuah istilah kata yang akhirnya membuat semua orang yang mengenang kejadian pada saat gempa dan ombak yang meluluhlantahkan lebih dari 250.000 jiwa di seluruh asia dan menjadi peristiwa bencana terburuk pada abad ini. Tapi setiap sejarah dan kejadian melahirkan banyak perubahan. Tsunami melahirkan kepedihan tapi juga perdamaian di tanah aceh yang telah berperang lebih setengah abad lamanya. Rakyat aceh telah berusaha tegar untuk membangun kembali kesedihan dan bangkit dari segalanya.

Berkat bantuan asing dan seluruh rakyat Indonesia. Aceh yang nyaris rata karena tsunami kini berkembang menjadi kota yang berusaha melupakan kehancuran tapi tidak melupakan masa lalu yang pernah terjadi dan mengubah segalanya. Kini aku sudah bisa melihat angkasa dengan tugasku sebagai pilot di kemiliteran. Aku bangun pagi dan mendapatkan tugas untuk terbang landas ke aceh.

Bersama sahabatku kami mengantarkan beberapa anggota yang ditempatkan di aceh. Setiba disana aku meminta izin untuk dua hari mengenang masa lalu. Aku masih ingat bagaimana masa lalu semua tergambar lewat sebuah museum tsunami yang dibangun dengan megahnya.  Foto-foto dan sisa-sisa peninggalan yang terjadi tersimpan rapi dalam museum yang telah menjadi ikon kota tersebut. Tiba-tiba aku melihat anak-anak sekolah berlarian dengan sebuah pesawat kertas di tangannya. Aku menjadi penasaran karena hampir setiap aku melangkah mengelilingi museum ini. Setiap anak akan datang  melewatiku dengan kegembiraan bersama pesawat kertas ditangannya.

Lalu aku menghentikan satu anak dan bertanya padanya.

“adik dapat darimana pesawat kertas ini..”

Dengan penuh kegilangan ia menjawab.

“dari ibu guru.. ini buat paman saja…””

Aku berjalan mendekat arah yang ditunjukan anak itu.  ke dalam sebuah ruangan dimana seorang perempuan dengan pakaian muslim sopan dan kerudung yang anggun berdiri sambil menawarkan sebuah pesawat kertas pada anak-anak yang sedang karya wisata ke museum tsunami. Wajahnya tak terlihat jelas sampai aku mendekat dan menatapnya.

Air mataku terjatuh.. perempuan itu menatapku dengan bingung.. termasuk anak-anak kecil yang disana. Dengan polosnya seorang anak bertanya pada perempuan itu.

“ibu guru kenapa paman itu nangis..”

Perempuan mendekat padaku dan berkata.

“ mas. Aku bisa pahami kalau museum ini memang penuh kenangan dan air mata. Tapi tidak baik mas untuk menangis di depan anak-anak..” ujarnya padaku

“ aku menangis karena.. aku gak sangka bisa nemuin kamu disini..”

“ nemuin aku.. maksudnya..” kata perempuan itu dengan bingung..

Ketika kami bicara anak-anak kemudian menarik perempuan itu sambil berteriak.

“ibu angel ayo ibu angel.. bikin lagi pesawat kertas ,”

Lalu aku menyadarinya Angel tak mengenalku lagi. Tapi aku percaya pesawat kertas yang saat ini ia buat untuk anak-anak itu adalah cara terakhir baginya untuk mencari pesan terakhir mengenang kami. aku mendekat padanya dan berkata sambil menyerahkan satu pesawa kertas padanya.

“kamu mungkin telah lupa akan segalanya tapi aku tidak akan lupa untuk menyerahkan ini sebagai janji terakhir aku padamu. Sebuah pesawat kertas terakhir untuk mengenang janji di masa lalu..”

Angel hanya terdiam dan tiba-tiba ia seperti mengingat akan sesuatu sambil berkata.

“gilang..”

Penuh air mata..

***

( Angel berhasil selamat dari bencana tsunami tapi ia kehilangan ingatan akibat benturan keras yang terjadi saat air laut menerjang. Saat ditemukan dalam keadaan pingsan, ia bersama sebuah toples yang berisi pesawat kertas. Orang tua dan adiknya meninggal dalam kejadian itu, ia berdedikasi menjadi seorang guru  taman kanak-kanak untuk mengajarkan kepada anak-anak  tentang sejarah dan masa lalu aceh yang telah bangkit dari segala kesedihan dan masa lalu menjadi lebih indah)

 

Kisah ini terinspirasi ketika saya berkunjung ke museum tsunami aceh..  melihat seorang ibu membuat pesawat kertas untuk mengenang anaknya yang telah meninggal sebagai hadiah terakhir yang sempat ia berikan sebelum mereka terpisah.

 

tamat

 agnes davonar

Comments (10)

pulpnJanuary 19th, 2015 at 4:07 am

bagus banget ceritanya

AlamandaFebruary 20th, 2015 at 5:14 am

Nice cerpen banget gan! Ditunggu nih tulisan-tulisan kece ente lainnya yaa ^^

aprilliaMay 15th, 2015 at 6:02 am

bagus banget ceritanya , rasanya pengen banget deh deket sama kaka :) dan pengen bisa belajar dari kaka

Hana LaupadaAugust 7th, 2015 at 3:31 pm

keren sekali :) ditunggu cerita2 yg lain yah

AmandaAugust 14th, 2015 at 8:41 am

wah ceritanya keren banget

ariyantoAugust 16th, 2015 at 12:29 pm

Bagus bgt cerpenya. Mnyentuh bgt jd inget masa masa ama si dy

komalaOctober 10th, 2015 at 7:22 am

Seru banget ka cerita nya rasanya pengen cepet” ketemu sama ka agnes davonar deh semoga sukses untuk kedepannya ka 😊

komalaOctober 10th, 2015 at 7:33 am

Seru banget ka cerita nya pengsn banget deh ketemu kk,semoga sukses untuk kedepannya ka dan semoga cepet” mengeluarkan novel” terbaru lagi

komalaOctober 10th, 2015 at 7:35 am

Seru banget ka cerita nya pengen banget deh ketemu kk,semoga sukses untuk kedepannya ka dan semoga cepet” mengeluarkan novel” terbaru lagi

zuraida reszayaniOctober 10th, 2015 at 8:21 am

Cerita bener2 buat terharu,bener2 nunjukkin cinta sejati dan kebesaran Allah,sya ja nangis bacanya

Leave a comment

Your comment