[x]Close

PESAWAT KERTAS TERAKHIR – EDISI NOVEL BAGIAN 1

Pesawat Kertas 5

 

Hi apa kabar semuanya

bulan ini adalah bulan dimana saya akan merilis novel terbaru saya.  judulnya

pesawat kertas terakhir. untuk menyambutnya saya akan membagikan dua bagian halaman cerita ini sebagai bonus..

DAN untuk tau gimana dapatkan buku ini cukup bergabung di fanspage instagram saya  : davonar

 

atau whaspp ke 08161444147

selamat membaca..

 

Chapter 1

 

SMA BhinnekaTunggal Ika

Pagi itu…

Selasa, 20 Juli 1999

 


Tak lama, Hendra, teman sekelas sekaligus teman sebangku Gilang yang berperawakan subur dan berkacamata menyapanya.
Suasana kelas 3-1 jurusan IPA penuh dengan murid-murid yang memasuki kelas. Tiga menit sebelum bel berbunyi, masuklah remaja 17 tahun bernama Gilang. Posturnya gagah, tapi wajahnya begitu tampak lelah dan bersimbah keringat. Dia melempar tas punggungnya yang berwarna hitam—“teman setianya” sejak dia duduk di kelas satu—ke meja. Lalu melepas topi abu-abu yang dia kenakan untuk menutupi rambutnya yang cepak dan mengipas-ipas topi itu untuk menyejukkan tubuhnya yang kepanasan. Bajunya yang putih nyaris seperti baru diambil dari jemuran ketika basah.

“Kenapa lo?” tanya Hendra penasaran. Tapi belum sempat Gilang menjawab, Hendra memberikan sebotol air mineral yang dia bawa dari rumah.

Tanpa banyak komentar, Gilang langsung mereguk air dalam botol tersebut.

Hendra yang memperhatikan sahabatnya, segera menarik botol dari depan mulut Gilang ketika melihat airnya nyaris habis tertelan.

“Jangan dihabisin dong! Gue juga mau kali…” teriak Hendra.

“Sori, Dra, gue haus banget,” ujar Gilang, lalu tersenyum lega.

“Akhir-akhir ini gue lihat lo sering banget keringatan dekil gini pagi-pagi. Nggak mandi atau gimana?”

“Gue abis lari pagi, makanya keringatan,” kata Gilang, menerangkan.

“Buat apa, Lang? Emang lo mau ikutan Olimpiade? Gaya lo, bukannya fokus lulus sekolah aja! Gak bosen pake seragam abu-abu melulu?” tanya Hendra.

“Ya bosenlah! Kan waktu itu gue pernah bilang, gue pengen banget masuk sekolah tentara. Jadi gue mulai harus biasain latihan fisik tiap pagi. Ya kayak gini. Lari, push up, angkat beban, ya semacam itulah. Lo juga ikut dong sesekali biar kurusan dikit, biar gak kayak doraemon gitu.” Lalu Gilang tertawa puas.

“Wuidih… serem, Nyong! Tapi emang benaran lo niat banget jadi tentara? Perasaan negara lagi aman deh?” Hendra sepertinya masih tak percaya akan perkataan Gilang.

“Dra, jadi tentara itu impian gue banget. Walau negara ini lagi aman, tetap aja butuh tentara, makanya mulai dari sekarang fisik gue harus kuat.”

Hendra mengangguk. “Emangnya lo lari dari mana ke mana sih?”

“Ya nggak jauh-jauh. Dari rumah ke sekolah aja. Berapa tuh kira-kira? Ada kurang-lebih tiga kilometer, ya? Jadi yang biasanya gue naik motor ke sekolah, sekarang gue jalan kaki aja. Nah, kalo angkat beban sama push up, itu gue lakuin di rumah, sebelum mandi.“

“Waduh, nggak deh. Gue belum siap menderita! Tapi gue hargai impian lo. Gue bantu doa aja ya biar lo keterima jadi tentara,“ oceh Hendra, lalu meneguk sisa isi botol.

Kemudian Hendra duduk di samping Gilang. Wajahnya mendadak serius. Dia menarik napas panjang lalu berkata, “Lang, mulai sekarang kita nggak duduk sebangku lagi, ya!” serunya tanpa sedikit pun terlihat bercanda.

Gilang terdiam sesaat. “Kenapa? Kok tiba-tiba gitu?” Dia mengerutkan dahi.

“Gue memutuskan mau duduk sendiri aja.”

“Jangan dong, Dra. Lo kan tahu gue paling bego di kelas kalau nggak ada lo. Gimana nasib gue kalau ulangan? Gimana kalau gue nanti nggak lulus? Lo tahu kan gue terpaksa masuk IPA karena syarat taruna militer itu minimal IPA.”

Hendra tidak goyah. “Kali ini benar-benar berat, Lang. Gue nggak mau pas lulus nanti, gue belom dapat pacar. Gue udah bertekad bakal deketin dia.”

“Dia siapa?” selidik Gilang.

Hendra menggaruk-garuk kepala. Lalu mendekati wajah Gilang. “Lo serius nggak tahu?”

“Nggak. Dia siapa sih?”

“Gilang… satu kelas di sini udah pada tahu, apalagi cowok-cowok. Bakal ada satu murid baru di kelas kita, cewek, Lang. Nah, gue mau ngincer dia! Masa lo nggak tahu? Kan kemarin wali kelas sudah kasih tahu bakal ada anak baru.”

“Gue kemarin ketiduran pas pelajaran Bu Tian. Jadi, mana gue inget?!”

“Emang gue pikirin.”

Dengan kesal, Gilang menarik kerah baju Hendra dan membuatnya tercekik.

“Jadi lo mutusin persahabatan kita cuma gara-gara ada anak baru yang bakal pindah ke kelas ini dan lo ngincer dia jadi pacar?!”

“Duh, lepasin! Kecekek nih gue…” teriak Hendra. Gilang pun melepaskan kerah seragam Hendra.

“Lang, lo sadar nggak sih semua murid di kelas ini pada duduk sesuai aturan, cewek duduk sama cowok. Tapi kenapa nasib kita saja yang harus duduk berdua? Sekali-sekali gue pengen mengubah nasib. Gue bosen sendirian di sekolah ini. Jadi lo ngerti, kan?”

“Ya udah, terserah kalau emang mau pindah bangku. Sana pergi jauh-jauh,” ketus Gilang.

Hendra merapikan kerah seragamnya. Lalu dia tersenyum ‘iblis’ pada Gilang.

“Sori, Lang, demi cinta sejati kita cerai dulu. Gue sengaja duduk sendiri supaya nanti dia bisa duduk sama gue. Bangku di kelas sudah full, kecuali yang satu itu. Nah kalau kita pisah, dia kan bisa duduk sama gue,” ujar Hendra sambil menunjuk ke belakang.

Gilang tampak tak acuh dengan omongan sahabatnya. Dia terlanjur kesal dengan Hendra yang rela pindah bangku demi seorang gadis. Hendra kini duduk di belakang Gilang. Mereka duduk di barisan pojok kiri kelas, total bangku ada 16 yang dibagi menjadi 4 baris.

Tak lama bel berdering, menggema di sepenjuru sekolah. Murid-murid yang masih berada di luar serta-merta memasuki ruang kelas.

Hendra tak sabar lagi ingin bertemu si anak baru. Gadis yang akan diincarnya. Maklum, sepanjang hidup, dia belum pernah pacaran. Gadis-gadis di sekolah tak ada yang mau menerimanya sebagai pacar ketika dia menyatakan cinta. Hanya kepada anak baru ini, cinta dan harapan Hendra akan dia perjuangkan.

Di sudut lain, Gilang tampak mengantuk karena kelelahan sehabis lari pagi dari rumahnya menuju sekolah. Tak lama matanya malah terpejam.

Suasana kelas masih saja riuh saat Ibu Tian, wali kelas 3 IPA 1 berjalan bersama seorang gadis cantik. Gadis itu tampak lembut, berkerudung dan menutupi diri layaknya seorang muslimah. Sekolah ini tidak mewajibkan anak-anak perempuan memakai kerudung dan mungkin baru dia murid berkerudung di SMA Bhinneka Tunggal Ika. Anak baru itu berdiri di tengah kelas bersama Ibu Tian. Murid-murid saling berbisik sebelum suara mereka menghilang ketika Ibu Tian mulai bicara.

“Selamat pagi anak-anak…”

“Pagi, Bu…” seru seisi kelas penuh antusias.

“Hari ini Ibu ingin memperkenalkan anak baru di kelas kita.”

Ibu Tian tersenyum, lalu mempersilakan anak baru tersebut untuk memperkenalkan diri. Hendra menatap penuh kagum. Sedangkan Gilang tertidur di kelas.

Assalamualaikum… selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Angel. Saya baru pindah dari Medan mengikuti ayah saya yang mendapatkan tugas di sini. Saya lahir di Aceh dan besar di Medan. Semoga teman-teman bersedia membantu saya. Terima kasih.”

Anak-anak terkejut dengan kesantunan Angel, mungkin karena dia berasal dari daerah. Namun, mereka juga merasa agak lucu dengan logat Melayu yang Angel gunakan, sehingga kelas kembali riuh dengan semangat.

“Bu, maaf… Boleh saya nanya?” Mendadak suara Yani, salah satu teman sekelas Gilang yang juga anak OSIS, terdengar menginterupsi perkenalan Angel sembari mengangkat tangan kanan. Yani memang terkenal paling cerdas di kelas.

“Iya, Yani,” ujar Ibu Tian, berusaha memberikan ruang bagi Yani untuk bertanya. “Ada apa?”

“Kamu beneran dari Aceh?” tanya Yani pada Angel.

Angel mengangguk, tersenyum. “Saya memang dari Aceh. Kedua orangtua saya berasal dari sana,” terang Angel.

“Emm… kayaknya jarang deh ada orang Aceh yang punya nama Angel. Jadi agak ganjil aja.”

Angel kembali tersenyum. “Nama saya memang kurang lazim bagi orang Aceh. Tapi nama ini diberikan oleh ibu saya, khusus untuk mengenang sahabatnya. Namanya Angela Ferdinand, dia orang Filipina. Sewaktu dia dan ibu saya kuliah di Jepang, dia banyak menolong ibu saya dan kebaikannya sangat membekas di hati ibu saya.”

Angel kemudian menarik napas. Para murid menunggu ucapan berikutnya.

“Tapi sayangnya, dia tak berumur panjang. Setelah mereka lulus, teman ibu itu sempat berkunjung ke Aceh untuk menengok Ibu yang sedang mengandung saya, dia mengalami kecelakaan di Manila. Ibu saya sangat terpukul, dan akhirnya memutuskan memberi saya nama Angel sebagai kenangan akan temannya itu. Dan sampai sekarang, Alhamdulillah, nama ini tidak jadi masalah,” tutur Angel, kemudian tertawa kecil.

Para murid terdiam dan mengangguk.

“Ada yang mau bertanya lagi kepada teman baru kita?” tanya Ibu Tian. Tapi sepertinya tidak ada lagi yang penasaran, terutama murid-murid lelaki. Mereka sudah terlanjur terpesona pada paras cantik Angel.

Kemudian Ibu Tian mempersilakan Angel mencari tempat duduk kosong. Angel memperhatikan bangku yang tersisa. Hanya ada dua tempat, satu di sebelah Hendra dan satu lagi di bangku Gilang yang tengah tertidur.

Ibu Tian memulai pelajaran yang memang saat ini adalah jam pelajarannya, Bahasa Indonesia. Angel menghampiri Hendra yang tampak gugup dan Gilang yang tertidur di atas kedua tangannya yang terlipat di meja. Ketika langkah kaki Angel semakin mendekat ke arah Hendra, jantungnya berdetak kencang. Dia pernah mendengar kalau gadis Aceh sangat cantik dan kali ini, setelah melihat langsung, dia percaya bahwa itu benar.

Hendra sudah membersihkan bangku sebelahnya demi Angel dan siap melempar senyum sebagai teman sebangku. Tetapi senyumnya mendadak tertahan, ketika langkah Angel berhenti di bangku Gilang. Kemudian gadis itu duduk dengan rapi. Setelah meletakkan tas, Angel mengeluarkan buku-buku di meja. Gilang sendiri tak menyadari kehadiran Angel di sampingnya. Dia masih tertidur pulas. Beberapa saat sebelum kelas dimulai, Hendra menyapa Angel pelan dari belakang bangku.

“Pagi… Angel. Kenalin gue Hendra.”

“Hai Hendra, salam kenal juga.”

“Kamu kenapa duduk di situ? Kalau kamu nggak ngerti sama pelajarannya, kamu bisa duduk sama gue.”

“Saya di sini saja. Supaya bisa lebih fokus mendengar penjelasan guru,” respons Angel.

“Gitu ya,“ kata Hendra penuh penyesalan. Kini dia benar-benar mengutuki diri sendiri karena sudah bertukar bangku.

Ibu Tian melanjutkan dengan meminta semua murid membacakan puisi yang ditulis oleh sastrawan Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Tak lama Gilang terbangun karena suara keramaian dan mengucek-ngucek mata. Dia menoleh ke samping dan kaget melihat sosok asing tersenyum kepadanya. Gilang merasa malu karena tak sadar sudah tertidur.

“Gilang, bacakan bait puisi selanjutnya,” kata Ibu Tian, menegur Gilang karena dia tidak mengerjakan tugas yang diberikan.

Gilang langsung kebingungan karena tak menyimak sejak awal apa yang dipelajari. Tiba-tiba Angel menggeser buku Bahasa Indonesia miliknya dan menunjuk bait puisi yang harus Gilang bacakan.

Gilang tersenyum, terkesan dengan kebaikan Angel, lalu berdiri sambil membacakan lanjutan bait puisi yang sedang dibahas dengan benar dan selamat dari kemarahan Ibu Tian. Ketika selesai, dikembalikannya buku itu kepada Angel.

“Bagus Gilang. Tapi, tolong jangan tidur di kelas lagi, atau kamu ingin tidur di toilet saja?”

Gilang tidak menjawab dan hanya menggeleng. Dia sangat malu, terutama terhadap Angel.

“Makasih ya, maaf ngerepotin.”

“Tidak apa-apa.” Angel tersenyum hangat pada Gilang.

Hendra yang melihat adegan tersebut semakin bersedih dan hanya bisa ‘menggigit jari’ karena iri atas kebersamaan Gilang dan Angel yang seharusnya duduk dengannya.

Selang satu setengah jam kemudian, kelas berakhir.

Gilang merobek selembar kertas, lalu membentuknya menjadi pesawat. Tak lama dia memberikan pesawat lipat itu kepada Angel.

“Buat kamu, hadiah karena sudah ngebantuin tadi. Oh ya, nama gue Gilang, atau lengkapnya Antariksa Gilang.”

“Wah ini apa? Pesawat ya?”

“Yap.”

“Nama saya Angel. Makasih hadiahnya.”

“Sama-sama.”

“Maaf juga saya tidak sempat izin duduk di sini karena kamu tadi tertidur.”

“Oh… nggak apa-apa kok. Santai saja. Kamu anak baru? Kalau mau tanya-tanya, bilang saja.”

“Iya, Gilang, terima kasih.”

Dari belakang, diam-diam Hendra memperhatikan pembicaraan mereka. Kemudian Gilang menoleh dan memasang wajah meledek pada Hendra.

Inilah awal persahabatan Gilang dan Angel. Sebelum guru berikutnya masuk, mereka berbincang mengenai banyak hal, terutama tentang sekolah.

“Angel kalau boleh tahu, kamu asli mana?”

“Saya dari Aceh. Tadi kamu tidur sih, makanya tidak menyimak.” Angel tertawa manis.

“Maaf, gue capek banget habis lari pagi.”

“Begitu ya… Tidak apa-apa. Saya dari Aceh, tapi pindah ke Medan waktu umur saya 11 tahun kemudian bolak-balik Aceh-Medan sampai akhirnya sekarang ke Jakarta.”

“Lalu gimana kamu bisa pindah ke Jakarta? Apalagi kelas tiga kayak gini sebentar lagi lulus, kan?” tanya Gilang agak penasaran.

“Ceritanya panjang. Tapi singkat aja ya.”

“Boleh.”

“Tapi janji dulu sama saya.”

“Janji kenapa?”

“Tadi kamu bilang saya boleh nanya tentang hal-hal penting sekolah ini, gimana kalau pulang sekolah kamu antarkan saya keliling supaya kelak tidak nyasar di sekolah sebesar ini.”

“Kalau itu mah gampang!”

“Terima kasih…”

Angel begitu jujur menceritakan kisah hidupnya kepada Gilang. Latar belakang hidupnya sebagai gadis berusia 17 tahun. Dia lahir di Banda Aceh yang mengalami konflik berkepanjangan antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka. Ayahnya seorang dokter dan juga pegawai negeri sipil. Ketika usia Angel 11 tahun, kondisi Aceh begitu mencekam dengan adanya darurat militer, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Medan bersamaan dengan tugas baru ayahnya di sebuah rumah sakit pemerintah.

Angel sudah terbiasa memulai kehidupan baru dan mencoba melupakan trauma ketika dia melihat sendiri kematian demi kematian yang terjadi di Aceh dan bagaimana ayahnya bertugas untuk membantu korban agar tetap hidup. Melihat kegigihan dan perjuangan sang ayah, dia pun terinspirasi menjadi seperti ayahnya kelak, seorang dokter. Lingkungan yang baru dan teman-teman yang baru menjadi hal yang selalu dia jalani saaat mengikuti ke mana pun ayahnya bertugas. Angel mencoba menikmati semua perjalanan hidupnya sebelum dia bisa mandiri.

Walau harus hidup berpindah-pindah, Angel termasuk anak yang pintar. Dia memiliki nilai di atas rata-rata dan selalu menjadi juara kelas. Walau masuk pada caturwulan dua sebelum kelulusan SMA, dia tak perlu khawatir karena sekolah pasti menerimanya.

 

Sebagai hari pertama persahabatan mereka, sepulang sekolah, Gilang akhirnya menepati janjinya untuk menjadi tour guide bagi Angel. Tak lupa dia juga mengajak Hendra. Mereka menunjukkan kepada Angel lokasi-lokasi terpenting di SMA Bhinneka Tunggal Ika; mulai dari kantin, ruang guru, lapangan olahraga dan yang paling diharapkan oleh Angel adalah perpustakaan. Gadis itu gemar sekali membaca dan belum pernah menemukan perpustakaan yang begitu lengkap dan megah selain di sekolah ini. Dia bertekad dalam hati akan menghabiskan waktunya untuk membaca semua buku yang ada di perpustakaan sekolah.

Bagi Angel, perpustakaan seperti rumah kedua. Tempat dia bisa bertualang ke berbagai negeri tanpa harus melangkahkan kaki.

Mengunjungi perpustakaan bukanlah hobi Gilang maupun Hendra. Mereka lebih bersemangat berada di lapangan olahraga, menghabiskan waktu bermain basket, tapi Angel mengajarkan satu hal yang penting kepada mereka.

“Saat-saat inilah kita bisa mengenang masa-masa di sekolah. Kelak setelah lulus, kita pasti merindukan masa-masa berada di perpustakaan. Dan ini juga adalah modal awal kita untuk berperang menghadapi ujian nasional. Nah, mari kita mulai menjadikan perpustakaan sebagai tempat perjuangan.”

Gilang dan Hendra bertatapan, mereka tak bisa membantah kecerdasan dan kebenaran kata-kata Angel. Mereka berusaha mengurangi kebiasaan di lapangan basket dan lebih memilih duduk manis bersama buku-buku perpustakaan yang menumpuk penuh di samping meja tempat mereka bersandar, seperti yang Angel lakukan pada hari pertama di perpustakaan sekolah.

Setumpuk buku di sampingnya dilahap habis hanya dalam waktu satu jam. Ketika perpustakaan tutup pada pukul dua siang, Angel terlihat sedih. Bagi Hendra dan Gilang, seumur hidup baru kali ini mereka menemukan sosok unik dan berbeda dari gadis mana pun. Biasanya gadis seusia mereka menghabiskan waktu pulang sekolah dengan pergi ke pusat perbelanjaan atau makan di tempat nongkrong. Akan tetapi Angel… dia seolah mengatakan bahwa dunianya berbeda.

Perpisahan di pintu gerbang sekolah diakhiri dengan munculnya ayah Angel yang menjemput putri kesayangannya. Pria itu baru pulang dari praktik pertamanya di rumah sakit. Gilang dan Hendra menghampiri dan menyalami dengan mencium tangan ayah Angel. Ketika Angel pergi, kedua sahabat itu tanpa sadar saling mengucapkan kata-kata yang sama.

“Gue…” kata Gilang dan Hendra bersamaan.

“Oke, oke, lo dulu!” kata Gilang.

“Gue kagum sekaligus shock lihat Angel. Sumpah mati gue kagum dan nggak bisa berkata apa-apa. Takjub banget gue. Sudah muslimah, cantik, pintar, baik lagi. Astaga! Gue benar-benar harus nikahin ini orang!” seru Hendra.

“Kejauhan banget sih lo mikirnya sampai nikahin segala.”

“Kenapa memangnya? Sudah saatnya dan zamannya, kan?”

“Dra… kali ini gue sebagai teman juga pengen bilang, kayaknya lo benar. Dia beda. Benar-benar beda. Bisa lo bayangin? Ada ratusan cewek di sekolah ini, tapi cuma dia selain wali kelas kita yang pakai kerudung, kan?”

“Terus…”

“Terus ya… kita buktikan siapa yang bisa rebut hati Angel.”

“Sialan… teman macam apa lo?! Kok gitu sih?!” teriak Hendra kesal.

“Nggak kok, gue bercanda. Ha ha ha… Tenang aja Man, gue masih pengen jadi tentara. Masih fokus. Gue temanan saja sama Angel, kok.” Gilang berusaha menenangkan sahabatnya.

Alhamdulillah. Gitu dong… jangan bikin gue patah semangat.”

Kemudian kedua sahabat itu beranjak dari gerbang dan pulang ke rumah masing-masing. Angel sudah berada di dalam mobil. Dia mengeluarkan pesawat kertas yang dibuat Gilang untuknya, kemudian tersenyum.

Tak lama mereka tiba di rumah. Rumah bertingkat dua dengan taman luas ditutupi gerbang kayu yang tampak tradisional. Mereka disambut oleh ibu Angel, yang kecantikannya tak pudar oleh usia. Mudah dimengerti dari mana Angel mewarisi kecantikannya. Dengan hangat, ibu Angel mencium tangan suaminya dan pipi putrinya.

 

***

Comments (5)

JuliandaSeptember 9th, 2015 at 11:50 am

Mantap

wulandariSeptember 9th, 2015 at 4:23 pm

Ceritanya kereeen bgt n bikin penasaran..
Sepertinya harus cepet2 beli novelnya nii..

leonardo wiranataSeptember 30th, 2015 at 12:34 pm

Keren banget kak ceritanya.. oya kak, aku juga buat cerpen di-leonardowiranata.blogspot.com.. kapan2 mampir ke blog ak ya kak.. makasih:)

imaOctober 10th, 2015 at 5:59 am

halo kak agnes dan daonar, saya penikmat blogger salah satunya blog mbak..
saya suka baca blog kakak, btw saya sedang neliti penulis blog ke penulis buku…. Bolehkah saya neliti karya kakak? makasih

imaOctober 10th, 2015 at 5:59 am

halo kak agnes dan davonar, saya penikmat blogger salah satunya blog mbak..
saya suka baca blog kakak, btw saya sedang neliti penulis blog ke penulis buku…. Bolehkah saya neliti karya kakak? makasih

Leave a comment

Your comment