[x]Close

CiNtA iTu BoDoH : 6

"Gua mencuri fotonya secara sembunyi, dan bayaran dari semua itu adalah perpisahan kami semakin dekat. idola gua akan pindah ke australia, sedihnya.."

DALAM HATI SAJA

Loves_5 Ciuman pertama itu sungguh tak terlupa buatku. Setiap mengenang kenangan itu Aku tertawa dan tersenyum sendiri seperti orang gila. Aku semakin mantap untuk menyimpan keberanian bicara dengan Wijaya,. Kami mulai bicara tentang hal hal kecil yang menurutku lucu. Sekedang mengucapkan .

“Hei pinjem penghapus, hei pinjam Tip-x. Hei dan hei..”

Namun pembicaran itu tidak lebih dalam hal apapun. Mungkin Aku masih terlalu takut memulai semuanya. Setiap harinya di papan tulis kami terlulis sebuah tanggal hari dimana kami belajar. Aku selalu membenci tanggal tersebut. tanggal itu akan terus bergerak dan artinya perpisahan kami akan tiba pada akhirnya. Dan Aku benci akan itu.

Aku mendapatkan panggilan dari Wali kelas kami secara mendadak. Ntah apa yang dia perlukan dariku. Aku menuju ruang kantor disaat pelajaran masih berlangsung. Dan setiba dikantor  Aku melihat ibu Dwi, Wali kelas kami sedang mengumpulkan hasi foto foto hitam putih kami. Ia memanggilku sambil membiarkan foto foto itu berserakkan di mejanya.

“Ibu, panggil saya ya?”

“Iya.. ibu ada perlu dengan kamu!” tanya ibu Dwi

“Ini surat untuk orang tua kamu, tolong dikasih ya..” pinta ibu Dwi

“Surat apa ini, Bu. Boleh ga saya tau?”

“Jangan kamu kasih saja.. ntar kamu juga tau sendiri.. oke.. !”

“Oh gitu ya.. Yauda”

Ibu Dwi menatapku dengan wajah senduh kemudian

“Ngel kamu tolong bantu itu beresin foto ini sesuai abjad nama kelas ya. Ibu mau ke toilet bentar neh..” pinta Ibu

“Yauda bu, saya bantu susun”

Ibu Dwi bergerak cepat menuju toilet didekat kantor guru. Aku menatapi satu pesatu wajah di foto tersebut. foto itu adalah foto anak anak kelas kami. Jumlahnya terdapat 6 lembar persiswa dan ketika Aku mulai menemukan satu foto yang Aku harapkan. Aku terdiam menatapi foto tersebut penuh senyum. Itu adalah foto Wijaya. Ia sangat fotogenik difoto tersebut. lesung pipinya sangat menggoda rasa cintaku.

Aku tidak pernah akan bercerita hal ini kepada siapapun. Biarlah ini menjadi rahasia dan kenangan terakhirku. Aku mencuri satu dari enam lembar foto tersebut. Bu dwi tidak mungkin tau akan masalah ini. kemudian Aku menyimpannya sedalam mungkin di dompetku. Merapikan sisanya sehingga terlihat rapi dan akhirnya tidak muncul kecurigaan hilangnya foto tersebut. sekali ini Aku berdosa atas nama cinta karena telah mencuri yang bukan milikku.

Ibu Dwi muncul dan mempersilakan Aku untuk kembali ke kelas. kemudian Aku tersenyum kecil membandingkan apa yang Aku simpan di dompet dengan sosok asli Wijaya disampingku. Yuliana menatapku dengan kebingungan , ia mengatakan Aku gila. Tapi Aku tidak peduli, dan akhirnya hanya bisa saling menyimpan rahasia dalam hati saja.

Istirahat jam terakhir Aku pergi ke toilet dan bertemu ling ling sahabat yang masih marah padaku. Kami antri toilet yang sama.Aku tersenyum padanya , lalu ia menatapku dengan tajam sambil bicara.

“Lulus sekolah , Sma dimana lo?”

“Gua belum tau kayaknya deket deket sini juga lah, kalau lo ling?”

“Oh.. gua mau berhenti aja. Mungkin mau jadi tkw di luar negeri?”

“Hah.. ling lo kan masih 14 tahun. Kok bisa gitu?”

“Ya mau gimana lagi, gua kan bukan orang kaya. Mau ga mau ya kerja . adik gua masih 3 buat sekolah.. ini aja gua paksain sekolah biar lulus Smp”

“Ling.. gua ikut prihatin kalau lo sampe ga lanjutin sekolah. Dan gua harap itu ga terjadi”

Ling ling hanya tertawa mendengarkan saranku. Aku merasakan kesedihan yang ling ling katakan padaku. Kami berpisah kemudian setelah antrian toilet berakhir. Ling ling memang gadis tomboy. Ia pekerja keras, keluarganya hancur lebur karena peceraian Ayahnhya. Rumahnya diisi hanya oleh ibu dan dua adiknya masih kecil , ayahnya menghilang bersama wanita lain. Dan membiarkan sang ibu berjuang untuk menghidupi keluarganya. Aku hanya bisa merasa iba akan kisah hidupnya . kelakuannya yang kasar dapat Aku maklumi sebagai perjuangan keras hidupnya diusia muda.

Sepulang sekolah Aku menyerahkan surat yang diberikan wali kelas kami kepada ibu, Aku masih tidak pernah tau isi surat itu. Aku hanya melihat ekpresi wajah ibu yang menjadi serius karena surat tersebut. Aku sempat bertanya pada ibu akan isi surat itu dan ia hanya berkata bukan masalah serius. Kemudian Aku mulai merasakan satu keanehan dalam rumahku.

Ayahku memang seseorang yang tidak memiliki perkerjaan tetap. Ia selalu pergi keluar kota untuk beberapa bulan dalam kembali. Dan itu bisa kami maklumin. Namun untuk beberapa hari ini terasa kecemasan yang tidak seperti biasanya. Ibuku sering mengurung dirinya di kamar dan terkadan pergi dari rumah dan menitipkan adikku padaku.

Ketika ibu mulai tertidur dikamarnya Aku sedang menuju ruang dapur dan melihat isi surat dari ibu Dwi yang tidak sempat itu ibu simpan secara rapi. Aku mengambil surat itu dan membacanya perlahan

“ Kepada orang tua Angel, kami harapkan kerja sama untuk memperlancar proses belajar putri anda dengan membayar sisa tunggakkan SPP yang tertunda untuk 2 bulan sebelum akhir bulan ini”

Aku terkejut. Panik dan sekaligus tidak percaya. Bagaimana mungkin ibu melupakan biaya sekolah yang harus ia bayarkan untukku. Wajah senduh ibu Dwi ternyata adalah simpatik yang tersimpan dalam isi surat ini. Aku bergemetar dan menjadi sedih karenanya. Namun Aku tidak ingin membuat suasana menjadi lebih buruk. Kusimpan surat itu seolah tidak terjadi apapun padaku.

Aku hanya beranjak dari ruang tamu menuju kamarku. Terdiam dan kemudian memikirkan sebab hingga semua ini bisa terjadi. Aku sadar untuk membicarakan hal ini bukan kepada ibuku namun kepada ayahku. Tapi sampe detik dan akhir ini dia tidak pernah muncul.

Aku menjadi tidak berani menuju sekolahku. Aku selalu ingat apa yang terjadi kepada mereka yang tidak membayar uang sekolah secara tepat waktu, mereka akan dipanggil satu persatu ke ruang wali kelas. Aku tidak pernah berpikir ini terjadi padaku, apa yang terjadi bila disaat itu Aku dipanggil dihadapan Wijaya. Rasanya hidupku akan hancur dan lebih mati saja karena rasa malu.

Ibu selalu menyimpan semua gundah itu dalam hatinya saja. Untuk dua hari ini Aku tidak sekolahpun ia tidak peduli. ia bahkan lupa putrinya itu masih sekolah, yang ia perhatikan adalah adikku. Aku menjadi kecewa karenanya, sikapnya berubah seketika . akhirnya Aku mulai tidak sabar bertanya akan apa yang terjadi.

“Ma. Ada masalah apa sih? kok uang sekolah dua bulan belum dibayar?” tanyaku

Ibu terdiam tak menjawab , ia hanya terus memberikan makan kepada adikku

“Ma. Kenapa sih..” Aku berteriak dan ibu mulai menatapku

“Kamu mau tau apa yang terjadi..|?”

“Iya Angel mau tau. Kenapa?”

“Bapakmu, uda balik sama istri mudanya..”

Aku tersentak kaget tak mengerti apa yang ibu katakan.

“Maksud Mama apa sih?”

“Mama Bohong sama kamu selama ini. Setiap Papa kamu keluar kota, itu bukan untuk urusan kerja. Tapi dia ketemu sama istri pertama dia.. “

“Istri pertama , apa sih ga ngerti”

“Buat apa sih kamu sekolah tinggi tinggi kalau ternyata istri pertama aja kamu ga ngerti . ngel?”

Aku terdiam menatap ibuku terlihat emosional

“ Maksud Mama . Aku ada Ibu tiri..!!”

Ibu terdiam tidak menjawab , ia kemudian mengendong adikku menuju kamarnya.dan mengunci pintu itu rapat rapat. Aku hanya termenung diruang tamu. Kemudian menatap foto keluarga kami yang terbingkai rapi di atas dinding langit langit. Ayah yang Aku banggakan ternyata selama ini memiliki orang lain dalam hidupnya. Mengapa ibu mengatakan disaat seperti ini. disaat Aku mulai menjadi dewasa dan memiliki mimpi yang cukup banyak

Dalam hati Aku bertanya tanya. Apakah kami akan ditinggalkan karena semua ini? dalam hati saja Aku menangis tak percaya Apa yang terjadi dalam hidup keluarga kami. Dalam hati saja sekali lagi Aku melihat kebodohan tentang cinta. Mengapa ibu mau menikah dengan orang yang telah memiliki seorang istri? Apakah cinta begitu buta hingga ia melupakan apa yang akan terjadi dalam hidupnya kelak.

Kesedihan. Ketidakadilan dan berbagi kasih telah ia simpan sekian lama dalam hatinya. Siapakah yang salah dalam kisah ini? cinta ataukah kebodohan saja!!”

**

Bangku yang biasa kududuki menjadi kosong. Semua murid mulai bertanya tanya dimanakah Aku? Bahkan Yuliana teman sebangkuku tak pernah tau. Yosep yang telah melakukan intopeksi diri terhadap kegagalan cintanya, dengan bangga hadir untuk kembali menyatakan cintanya padaku hari ini. Ia menuju kelas dengan sedikit rapi dari biasanya. Tepatnya di jam istirahat sekolah, ketika Yuliana sedang duduk sambil membaca komik doraemon.

“Yul. . Angel kemana?” tanya Yosep

Yuliana terdiam kaget memperhatikan Yosep. Ia kini terlihat rapi dengan rambut sedikit minyak yang diikuti wangi parfum.

“ Emang kenapa tanya tanya dia?”

“Ya gua ada perlu. Mana dia?”

“Uda 4 hari ga masuk. Gua juga tau kenapa?”

“Masa sih? kok dia bolos sih.. kecewa deh tentara langit”

“Mana gua tau. Gua kan bukan emaknya. Tanya aja langsung sendiri ke rumahnya”

“Ke rumahnya.. iya ya. Kenapa ga gua kerumahnya aja..Thks ya sarannya!”

“Astaga.. lo mau kerumah dia. Ga salah loh!! Bisa bisa lo diusir sama emaknya..”

“Kita liat aja nanti.!”

Dengan percaya diri yang tinggi Yosep keluar dari kelas. kemudian bertemu dengan andi bong , Kodok musuh abadinya. Tapi sekali ini atas nama cinta , mereka berdamai. Mereka berjanji untuk mengunjungi rumahku, mencari tau apa yang terjadi dengan hilangnya Aku dari kerajaaan sekolah mereka. Sedangkan Aku, diam dikamar hanya dengan membaca majalah majalan berkas. Aku mendengarkan sedikit pembicaraan antara Ibu dengan adiknya yang datang dari luar negeri.

Bibiku bermaksud mengajak ibukku menjadi tenaga kerja asing di Taiwan , tempatnya berkerja dan menikah. Ibu sempat melontarkan niat untuk itu, namun tidak berani mengambil resiko terhadap kedua anaknya yang masih kecil.  Bibi memberikan sebuah amplop kecil. Dan itulah amplop yang nantinya akan digunakan untuk membayar uang sekolahku. Dengar dengar, Ayah tidak mengirimkan uang untuk beberapa bulan.

Ketika Aku bibiku pulang dari rumah, Aku sengaja keluar untuk mengambil segelas air. Dan seperti tidak berdosa untuk mendengarkan pembicaraan mereka secara sembunyi. Ketika itu terdengar suara gaduh yang memanggilku dari arah luar rumahku. Aku menjadi penasaran dan keluar untuk melihat siapa gelangan yang hadir dirumahku.

Dan apa melihat Yosep sang tentara langit dan Andi sang monster musuhnya datang bersama.

“Kalian , ngapain?”

“Ngel, kok lo ga masuk lama kenapa?” tanya Yosep

Aku terhenti sejenak memperhatikan yosep yang terlihat berbeda dari biasanya. Tidak melihatnya untuk beberapa saat. Tubuhnya semakin tinggi dan setidaknya rapi , tidak kotor seperti biasanya.

“Gapapa, ada alasan pribadi aja “

“Kirain gua lo sakit. Neh gua sama kodok bawa makanan buat lo?”

“Kodok. Dia Andi bukan kodok”

“Gapapa ngel. Dipanggil kodok juga gapapa” timpa Andi pasrah

Yosep memberikan Aku sebungkus plastik hitam berisi paster kantin yang Aku sukai. Lidahku sempat tergiur untuk mencobanya namun terasa malu terlebih melihat pembelinya adanya tentara langit.

“Thks. Yauda kalian pulang geh. Ntar gua juga masuk kok.. !”

“Janji ya masuk” ujar Yosep

“Iya bawel.. sana pulang. Tumben kalian akur biasa kayak kucing dan langit”

Merekat tersenyum bersama dan mengeluarkan kata kata khas kerajaan mereka.

“Tentara langit atas nama perdamaian dunia akan hadir untuk melindungi sang putri bernama Angel. Jadi kami damai demi sang putri.”

“Uda deh.. uda deh. Jangan dongeng disini , berisik tau”

Kedua sahabat itu memohon pamit padaku. Aku terhibur dengan kedatangan mereka yang tadinya tak kuharapkan. Ketika mengunci pintu. Aku melihat ibu berdiri diruang tamu memperhatikan Aku. Lalu ia memanggilku

“Ngel. Sini deh, Mama mau ngomong” ujarnya dan Aku mendekati

“Maafin Mama yang kalau sampai bikin kamu jadi kecewa. Ini Mama, minta maaf sama kamu, besok bawa uang ini buat bayar uang sekolah kamu” kata Ibu sambil membelikan amplop kepadaku

Aku tersenyum penuh iba dan kebahagiaan.

“Maafin Angel juga ya, Ma, seharusnya kemarin Angel gak kasar kayak gitu”

Kami berdua tersenyum bersama dan saling berpelukan pertanda kami telah berbaikan kembali. Kemudian Aku menatap foto bingkai keluargaku. Aku merasa sebuah kehangatan yang telah hilang lama dalam keluarga kami. Aku memang merindukan hal tersebut. sangat merindukan. Namun kusimpan semau itu dalam hati saja. Dalam hati saja menahan semuanya. Dalam hati saja..

Kehadiran tentara langit dan sang musuh telah juga memberikan setitik harapan untuk kembali bersemangat ke sekolah yang telah lama kutinggalkan . sesungguhnya terdapat kesedihan karena Aku sangat berharap sang idolaku datang. Namun itu mungkin hanya mimpi dalam hati saja

Leave a comment

Your comment