[x]Close

hkoei3

Kisah hidup OEI HONG KIAN

Seorang akrobat pawang Singa sikrus, nyaris dimakan oleh singanya sendiri

Ntah apa jadinya bila tim kepolisian datang telat untuk menolong seorang pawang sikrus yang hendak menjadi santapan bagi hewan yang ia latih. Seekor singa jantan yang biasanya tunduk kepada pawangnya marah dan menyatap hidup-hidup sang pawang. kejadian ini terekam oleh sebuah kamera dimana kejadian tragis itu berakhir dengan kematian sang singa.

 

Apa yang membuat singa itu begitu marah masih belum dapat dikonfirmasi. tapi biasanya kejadian seperti ini terjadi karena dendam sang binatang kepada pawang yang mungkin saja sering melecehkan atau menyiksanya

 

Perhatian film ini tidak layak ditonton untuk bila anda blum cukup umur dan berpenyakit jantung.

Seorang akrobat pawang Singa sikrus, nyaris dimakan oleh singanya sendiri

Ntah apa jadinya bila tim kepolisian datang telat untuk menolong seorang pawang sikrus yang hendak menjadi santapan bagi hewan yang ia latih. Seekor singa jantan yang biasanya tunduk kepada pawangnya marah dan menyatap hidup-hidup sang pawang. kejadian ini terekam oleh sebuah kamera dimana kejadian tragis itu berakhir dengan kematian sang singa.

 

apa yang membuat singa itu begitu marah masih belum dapat dikonfirmasi. tapi biasanya kejadian seperti ini terjadi karena dendam sang binatang kepada pawang yang mungkin saja sering melecehkan atau menyiksanya

 

perhatian film ini tidak layak di

OEI HUI LAN : KISAH TRAGIS PUTRI TERKAYA NUSANTARA ( 5)

 

Kisah Tragis Putri orang terkaya di Nusantara

SINOPSIS

ini adalah kisah nyata sejarah Indonesia era 1900an, 

Hui lan adalah sejarah silam nusantara yang layak dijadikan contoh tentang arti kehidupan sesungguhnya. Ia terlahir dengan kemewahan, kehormatan dan kebendaaan yang tiada habisnnya. Akan tetapi semua itu tidak membuatnya bahagia, mengapa? Kisah nyata ini begitu indah dan mengajarkan kita satu hal bahwa ” TIDAK ADA PESTA YANG TIDAK BERAKHIR”

BERLIBUR KE EROPA

Akhirnya menyerah juga ibu menahan kerinduan terhadap Tjong lan, ia memutuskan untuk pergi ke Prancis mengunjungi Tjong lan apalagi ibu dan ayah mendapatkan kabar bahwa Tjong lan sedang hamil anak pertama mereka. Ayah tentu sangat senang mendengar kabar itu, kala itu ayah juga memiliki cabang usaha di Eropa, ia pun memutuskan untuk meninjau sekaligus berlibur ke eropa berkunjung menemui anak partamanya.

Aku ikut bersama rombongan yang cukup besar namun hanya berisi pekerja-pekerja ayah dan pembantu-pembantu milik ibu dan aku. Ayah juga membawa Peters yang kupanggil Petrus, pria keturunan Belanda ini menjadi orang kepercayaan ayah untuk melakukan trasaksi bisnis.  Perjalanan panjang yang melelahkan itu akhirnya berakhir ketika kami melihat Paris untuk pertama kalinya.

Selera Tjong lan dan ibu memang tidak jauh beda, ia memiliki rumah yang sangat besar. Kami tidak perlu menginap di Hotel untuk tidur. Karena rumah Tjong lan cukup besar untuk menampung rombongan kami. Aku cukup senang melihat Tjong lan yang akhirnya menjadi seorang ibu dengan perut membesar, ia lebih menjaga sikap saat bicara. Suaminya juga sudah mulai lulus dari kuliahnya sehingga mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Ibu tidak akan tinggal diam untuk mendekorasi isi rumah Tjong lan yang menurutnya kurang. Ia menghabiskan ribuan Dollar untuk menghiasi rumah Tjong lan dan menyiapkan hadiah untuk cucu pertamanya. Aku mulai bosan berada dirumah, kemudian meminta Peters untuk menyiapkan supir pribadi kepadaku agar bisa jalan-jalan seorang diri. Ibu dan Tjong lan akhirnya ikut juga denganku.

Ntah apa yang dilihat dari penduduk Paris terhadap tingkah laku kami saat ini. Bayangkan saja aku dan keluargaku bagaikan sekelompok tim pawai dengan beberapa kendaraan berjejer di belakangnya. Ketika kami turun dari mobil seorang footman( pegawai yang bertugas membuka pintu mobil) siap membuka pintu mobil kami dengan cepat.  Ibu membuka pakaian cinanya dengan gaya Eropa dengan beberapa perhiasan mewah yang bersarang ditubuhnya.

Kami memasuki setiap toko yang menurut kami menarik. Ibu tidak perlu khawatir dengan kendala bahasa karena Tjong lan dan aku bisa diandalkan. Lucunya ketika kami menyukai satu barang kami tidak pernah bertanya tentang harga barang tersebut, kami langsung membungkusnya lalu petugas ayah akan mencatat dan membayarnya. Ketika kami pulang dari belanja, empat mobil yang kami bawa sudah penuh dengan barang-barang yang kami beli.

Kami dapat melihat beberapa penduduk Paris terhenti hanya untuk memperhatikan kami, saat ibu belum terpikir olehku bertapa narsis dan anehnya kami bila diposisikan sebagai penduduk Paris. Dikala kami sedang sibuk menghabis-habiskan uang ayah, ayah malah sibuk berbisnis dengan beberapa pembeli dari Prancis yang hendak mencari gula ataupun rempah-rempah dari perusahaan ayah.

Tjong lan terlihat bahagia dengan keluarga barunya, ia memiliki beberapa teman dengan cepat namun tidak banyak itupun hanya sebatas tetangga disebelah rumahnya yang memang berada di kawasan elite Paris. Ketika melihat keluarga kecil itu terlintas olehku untuk seperti Tjong lan tapi aku tentu tidak mau menikah tanpa pernah bertemu sang mempelai pria ataupun dijodohkan. Menurutku cinta sejati itu muncul karena pandangan pertama bukan karena dorongan orang lain yang menghendaki kebahagiaan kita.

Aku pada dasarnya tidak begitu banyak bicara dengan suami Tjong lan, Ting liang. Bahkan saat duduk bersama di meja makan pun aku tidak pernah bersua sedikit pun, ia melihatku seperti seorang yang aneh. Aku pikir sifat itu mungkin terjadi karena Tjong lan sering membicarakan hal hal buruk yang membuat kami sering ribut. Ibu begitu menyanjung menantu prianya itu karena menghadiahkan dia sebuah cucu kelak.

Dalam percakapan di meja makan, diantara keluarga kami. Tjong lan bicara padaku.

“ Kapan kamu akan menikah dan menjadi dewasa?” ujarnya padaku

ayah, ibu dan Ting liang menatapku.

“ Untuk apa aku menikah muda seperti kamu. Duniaku masih sangat luas dan aku ingin menikmati statusku sebagai putri Oei tiong ham! “ cibirku sambil menatap ayah yang tersenyum.

“ Tapi kamu kan sudah berusia 16 tahun, sudah saatnya menikah!” Timpa Ting liang  membela kakakku.

“ Loh, usia 16 tahun bukan masalah bukan?”

“ Kakak iparmu benar, Hui lan. Ibu harus berpikir untuk mencarikan pasangan buat kamu!!” balas ibu.

Aku merasa terpojok dan sulit merangkai kata untuk membalas. Tapi ayah jadi penolongku.

“ Putriku Hui lan hanya akan menikah disaat dia menghendaki untuk itu. Tidak akan ada yang bisa memaksakan pernikahannya..!” Jawab ayah mengakhir pembicangan itu.

Aku tersenyum lebar, ketiga orang itu seperti menelan tulang ayam tanpa membalas lagi. Aku menuangkan teh arab untuk ayah. Sambil berkata kecil “ Terima kasih ayah”.

Ayah memang tidak sekolot ibuku dalam berpandangan, ia berprinsip bahwa dunia ini sangat luas sehingga jangan pernah kita menghabiskan waktu hanya untuk sesuatu yang yang terbatas. Pemikiran itulah yang membuatnya berani mengambil keputusan untuk memotong rambut ekor kudanya. Ia tidak seperti kakekku yang hanya seumur hidup berada di Jawa dan China, ayah menghendaki dirinya bisa berada di benua apapun di dunia ini.

Memang tradisi wanita Cina mengharuskan umur pernikahan terbaik bagi seorang wanita adalah 15-18 tahun. Tapi aku menolak tradisi itu, buat apa aku menikah dan mengikat diriku pada seorang suami yang belum tentu bisa memberikan apa yang ayah bisa berikan padaku. Aku memang tidak pernah belajar tentang bisnis dari ayah, tapi aku sadar tanpa berbisnis dan bekerjapun ayah tidak akan membiarkan aku mati kelaparan.

Pikiranku terlalu sempit tentang sebuah ikatan pernikahan, buatku selagi ayah tidak memintaku untuk menikah aku tidak akan menikah.  Karena makan malam itu berakhir dengan perang dingin aku jadi bosan untuk bergabung bersama ibu dan Tjong lan, terutama kepada Ting liang yang kini bersekongkol menjadi musuhku. Aku memilih ikut bersama ayah untuk pergi bertemu dengan rekan bisnisku.

Ayah memang tidak pandai berbahasa asing selain bahasa Indonesia dan China. Selain Petrus, bahasa Prancisku bisa diandalkan saat ini.  Kami berkeliling kota Paris, dan lucunya kami berpas-pasan dengan mobil yang ditumpangi oleh ibu dan Tjong lan. Ayah diam saja melihat ibu dan Tjong lan yang sedang berpawai, aku mengintip dari dalam mobil. Dan bertanya satu hal yang tidak pernah kubayangkan.

“ Ayah, apakah uangmu akan habis kelak?”

Ayah tertawa mendengar pertanyaanku dan menjawab penuh bijaksana.

“ Pada dasarnya uang akan datang bila kita memang berusaha, kalau kita tidak berusaha uang tidak akan pernah sampai ke kantong celana kita.”

“ Apakah aku perlu berusaha untuk mencari uang?”

“ Hui lan, ayah tidak akan pernah membiarkan kamu bekerja. Kamu cukup menikmati apa yang bisa kamu nikmati seperti ibu dan kakakmu.”

Aku jadi mengerti mengapa ayah membiarkan ibu dan Tjong lan mengambur-hamburkan uang begitu banyak. Ayah memang tidak ingin membatasi kebahagiaan keluarga kami sehingga merelakan apa saja yang kami hendaki.  Setelah puas mengunjungi Tjong lan kami pun berlayar kembali, Tjong lan berjanji akan segera pulang setelah ia melahirkan. Ia merasa melahirkan di Paris akan lebih menguntungkan status anaknya kelak. Tjong lan memang sejak lama mengidolakan Prancis sebagai negara tinggalnya, sesuai hobinya belanja di surga belanja dunia itu.

Ayah mengalami kerugian

Tjong lan menepati janjinya untuk pulang ke Semarang, pada dasarnya suaminya Ting liang lebih menyukai hidup di Prancis karena ia berminat untuk membuka tempat prakter kedokteran. Bahkan ia tidak berminat untuk kembali ke Nusantara dengan alasan kariernya di sana lebih terjamin. Tapi kenyataan itu menjadi buyar ketika perang dunia pertama terjadi dan Prancis terlibat pertempuran dengan Jerman.

Tjong lan membawa putra pertamanya yang bernama Bob Khan.  Ia mirip dengan ayahnya tapi berkeliking bengkok seperti keturunan Oei tiong ham, ibu menghadiahan seragam sutra berhiasankan intan untuk cucu pertamanya itu. Tjong lan tinggal di rumah kami dan hidup berkeluarga di lahan istana ayah. Bahkan masakan untuk keluarganya juga diambil dari koki ayah, semenjak itu suami Ting liang mendapatkan tugas membantu ayah mengurus bisnisnya.

Ia menjadi pilihan ayah karena anak-anak terpilih ayah saat itu masih sangat kecil bahkan usianya dibawah aku. bisa aku bayangkan bertapa terpaksanya Ting liang membantu ayah karena bisnis bukanlah bidangnya.  Ntah karena kehendak hati yang tidak tulus atau bagaimana, usaha ayah sejak itu mengalami kemunduran. Untungnya pemerintah Belanda tidak terlibat dalam perang dunia pertama sehingga mereka tidak mengalami krisis hingga harus meminta bantuan keuangan  pada ayah.

Perang dunia pertama tahun 1914 ternyata membawa dampak buruk bagi perusahaan ayah yang bergerak dibidang hasil alam, karena sebagian export ayah dikirim ke Eropa. Banyak dari perusahaan-perusahaan rekan bisnis langganan ayah hancur lebur oleh perang, ayah mengalami kerugian yang nyaris membuat neraca keuangan ayah berkurang 50%. Disaat keadaan genting tersebut, ayah memiliki ide yang cerdik, ia menampung semua hasil alam yang bisa disimpan berharap ketika perang berakhir maka kebutuhan akan pangan akan meningkat sehingga saat itu ia dapat menarik keuntungan yang sangat besar.

Pemikiran itu berhasil, perang yang berlangsung 3 tahun itu malah membawa keuntungan berlipat ganda walaupun pada awalnya sempat membuat was-was ayah. Disaat krisis seperti itu, ayah tidak pernah membawa urusan pekerjaan dalam keluarga kami, aku bahkan tidak pernah berpikir ayah akan bangkrut karena uangnya bahkan tidak akan cukup terkumpul dirumah kami bila ditumpukkan. Kehadiran Bob khan cukup membuatnya senang walaupun aku tau ia akan cepat bosan kelak.

Bob khan seperti membawa retentan hoki kepada ayah, ia mengalihkan bisnisnya ke pasar Amerika dan membuka perwakilannya di New york dan menegguk sukses akibat kenaikan harga pangan saat itu. ayah pun bertambah kaya dan menetapkan dirinya menjadi saudargar terpandang asal Asia tenggara, banyak orang yang mulai berambisi untuk menjalin bisnis dengannya terutama kalangan Eropa dan Amerika.

Ketika Tjong lan pulang ke Semarang, ia membawa sebuah mobil kecil dari Prancis. Aku menatap mobil itu setiap harinya, bahkan karena iseng dan sangat sekali membawa mobil itu aku berambisi nekad mengendarai saat Tjong lan lengah. Tjong lan sendiri tidak tau mengemudikan mobil karena ia mengunakan supir saat berkendaraan yang berkewarganegeraan Prancis. Bisa jadi mobil itu adalah mobil pertama yang ada di jalanan semarang. Ketika supirnya pulang kerena ingin menengok keluarganya Prancis , mobil itu pun hanya menjadi pajangan dirumah kami.

Aku pun mencari waktu untuk mencoba mobil kecil itu, berharap aku bisa berkeliling kota walaupun aku sadar aku tidak mempunyai pendidikan menyetir.

 

OEI HUI LAN : KISAH TRAGIS PUTRI TERKAYA NUSANTARA ( 5)

 

Kisah Tragis Putri orang terkaya di Nusantara

SINOPSIS

ini adalah kisah nyata sejarah Indonesia era 1900an, 

Hui lan adalah sejarah silam nusantara yang layak dijadikan contoh tentang arti kehidupan sesungguhnya. Ia terlahir dengan kemewahan, kehormatan dan kebendaaan yang tiada habisnnya. Akan tetapi semua itu tidak membuatnya bahagia, mengapa? Kisah nyata ini begitu indah dan mengajarkan kita satu hal bahwa ” TIDAK ADA PESTA YANG TIDAK BERAKHIR”