[x]Close

OEI HUI LAN : KISAH TRAGIS PUTRI TERKAYA NUSANTARA ( 6)

 

Kisah Tragis Putri orang terkaya di Nusantara

SINOPSIS

ini adalah kisah nyata sejarah Indonesia era 1900an, 

Hui lan adalah sejarah silam nusantara yang layak dijadikan contoh tentang arti kehidupan sesungguhnya. Ia terlahir dengan kemewahan, kehormatan dan kebendaaan yang tiada habisnnya. Akan tetapi semua itu tidak membuatnya bahagia, mengapa? Kisah nyata ini begitu indah dan mengajarkan kita satu hal bahwa ” TIDAK ADA PESTA YANG TIDAK BERAKHIR”

 

MOBIL DITARIK 4 SAPI

Ambisiku untuk mencoba mobil Tjong lan benar-benar kulakukan, saat Tjong lan sedang menidurkan putranya. Aku mengambil kunci dan memasuki mobil itu dengan hati-hati, kebetulan suaminya Ting liang sedang di kantor ayah. Saat memasuki mobil Damlet kecil itu, aku bahkan tidak mengerti bagaimana menjalankan mesin mobil. Tapi untungnya waktu di Prancis aku sering mengintip Supir yang mengantar kami untuk menghidupkan mesin.

Ketika mesin mulai menyala saat kunci terbuka, aku mulai kebingungan. Kulihat pedar di bawah setir yang asal saja kuinjak dan tiba tiba mobil melaju dengan cepat. Bunyi gas yang kencang berdengung-dengung membuat semua orang berhamburan mencari asal suara itu, bahkan Tjong lan ikut bangun sambil menggendong anaknya. Mobil yang berjalan itu tak dapat kukendalikan, aku menjadi panik walau aku bisa menyetir dengan naluri. Dan bisa ditebak akhirnya aku menabrak batang pohong mangga dirumah kami.  Mobil itu rusak, asap mengelembung dari mesin mobil.

Ntah berapa banyak kerusakan yang timbul akibat kelancanganku, banyak pot-pot bonsai milik tukang kebun kami rusak. Dengan cepat kehebohan itu meruak, aku keluar dari dalam mobil yang rusak itu dengan kepala kesakitan tapi tidak mengalami luka parah, hanya sedikit memar akibat terhantam setir mobil. Tjong lan berlari mendekati setelah memberikan putranya pada pembantunya.

“ Hui lan kamu gapapa?”

Aku melihatnya malu, wajahku sungguh berantakan karena kejadian itu.

“ Gapapa.. “

“ Untuk apa sih kamu nekad naik mobilku , kamu kan ga bisa nyetir..!!”

Aku diam tidak menjawab. Tjong lan memperhatikan mobilnya yang rusak.

“ Pasti Ting Liang akan marah padaku.. apa yang harus kukatakan tentang mobil ini..!”

“ Ya katakan saja aku yang merusaknya, nanti ayah juga mengantinya. Toh, mobil ini juga dari uang ayah..!” ujarku tegas.

“ Eh eh.. anak ini. Bukan minta maaf malah asal aja kalau ngomong? Darimana kamu tau mobil ini dari uang ayah.. ini dari uang Ting liang..!”

“ Aduh.. kepalaku pusing neh.. aku mau istirahat..” ujarku melepas kesalahan dan berlari ke rumah.

Sepertinya kejadian itu menjadi tontonan gratis di antara pelayan-pelayan rumah kami. Tentu saja mereka menertawakan aku, yang kusyukuri dari kejadian ini aku tidak mendapatkan luka apapun. Aku terlalu naif untuk meminta maaf atas kejadian ini. Tapi bisa kubayangkan bertapa marah wajah suami Tjong lan melihat mobil kesayangannya rusak.

Tjong lan melaporkan kejadian ini kepada ibu tapi ibu tidak ambil pusing karena mobil itu tidak ada harganya kebanding keselamatanku. Ibu menemuiku dengan panik dan melihat kakiku terbalut oleh kain karena memar dan diurut oleh tukang pijit keluarga kami.

“ Kamu gapapa..?” tanya ibu padaku.

“ Gapapa.. pasti Tjong lan melaporkan tentang mobil itu pada ibu!”

“ Hm.. !” ibu menarik nafas dan berkata “ Mobil itu bukan masalah, tapi kamu yang masalah. Hui lan kamu ini perempuan dan masih perawan. Kalau kamu kenapa-kenapa, pria mana yang mau menikahi wanita cacat.!”

Aku terdiam dan hanya memberikan senyum.

“ Ya sudahlah, Bu. Aku juga tidak kenapa-kenapa. Lebih baik ibu bantu aku menganti mobil Tjong lan agar menantu kesayangan ibu tidak marah padaku.!”

“ Kamu minta saja pada ayahmu. Ibu tidak ingin ikut campur urusan ini, ayahmu juga aku rasa akan tau masalah ini!”

“ Ah.. ibu.. nanti ayah marah padaku..!”

Ibu tertawa. “ Kamu jangan membuat lelucon, sejak lahir ayahmu tidak pernah marah padamu, jadi jangan mengada-ada. Mintalah ayahmu memberikanmu mobil sehingga tidak merusak milik orang lain lagi. Ibu mau pergi ke rumah nenek kamu, lekas sembuhkan lukamu !”

Benar juga kata ibu, sejak kecil ayah tidak pernah sekalipun marah padaku. Ia memperlakukan aku dengan lembut dan bijaksana, untuk apa aku takut meminta sesuatu yang kulakukan apalagi sebuah masalah kecil mobil Damlet itu. Setelah malam tiba ketika ayah pulang, ia langsung menemuiku. Ayah sangat cemas mendengar kejadian itu dan aku hanya tertunduk sedih merasa bersalah. Ia melarangku untuk mencoba melakukan kesalahan dengan menyetir mobil itu.

Tapi diakhir pembicaraan ia membuat keputusan yang tak kubayangkan, ia menyuruh Pietro untuk membeli mobil yang lebih mewah dari milik Tjong lan. ia memesan mobil Lancia dari Inggris sebanyak 4 buah, satu untuknya  lalu untuk ibu dan yang terakhir buatku juga mengganti mobil Tjong lan. Tak tanggung-tanggung ia juga mendatangkan supir pribadi dari Jayakarta, supir itu pernah menjadi supir di Singapura.

Ayah melarangku untuk menyetir dan hanya memperbolehkan aku bersama supir bila ingin berpergian. Ketika itu kami sekeluarga berpergian dengan mobil, kami terlihat  begitu noraknya hingga tak sadar masyarakat sekitar memandang kami seperti tontonan. Di kala itu satu-satunya warga keturunan yang tinggal diluar pecinan hanyalah keluarga kami, sebab pemerintah Belanda membatasi pergerakan etnis Cina yang mereka pandang dapat membuat bahaya dengan mengusai perekonomian. Tapi dengan pengaruh dan uang ayah larangan itu pengecualian, jeleknya dari semua itu kami seperti bangsawan yang tinggal bersama beberapa orang Belanda sehingga bila ingin berpergian kami harus menempuh jarak jauh ke pecinan.

Jalan yang harus dilalui untuk menuju pecinan melewati tanjakkan yang cukup tinggi,  ketika melewati tanjakkan itu mobil kami berhenti. Aku dan ayah heran melihat mobil kami tidak mampu bergerak menaikin tanjakkan tersebut, supir kami beberapa kali menarik gas namun sia-sia. Aku menjadi bertanya-tanya apakah mobil ini memang tidak bisa berjalan atau mogok dijalan, tapi sebelumnya kami baik-baik saja. Supir kami mengatakan bahwa mobil ini tidak dapat berjalan diatas tanjakkan. Ayah menjadi marah karena ia harus mendatangi undangan dari rekan bisnisnya.

“ lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya ayah.

Supir kami hanya terdiam tanpa menjawab. Ketika itu seorang pengembala sapi melewati kami, ayah melihat pengembala itu dan menyuruh supir itu memanggilnya. Dengan keheranan pengembala itu mendekati kami.

“ Ada apa tuan..?” tanya Pengambala sapi itu.

Aku harus menutup hidungku karena bau sapi itu sangat menyengat.

“ Aku ingin pinjam sapi jantan terkuatmu untuk menarik mobilku melewati tanjakan ini.?”

Pengembala itu tanpa banyak bicara langsung menyediakan sapi terkuatnya dan akhirnya kami pun bisa menaiki tanjakkan itu setelah empat ekor sapi jantan menariknya. Aku malu sekali tapi ayah tidak peduli, setidaknya ia tepat waktu sesuai sifatnya yang selalu datang tepat waktu disetiap janjinya. Ayah memecat supir kami karena marah kemudian mendatangkan supir langsung dari Inggris dan sejak saat itu kami tidak mempunyai masalah bila menaiki tanjakkan. Usut punya usut ternyata supir asal Jayakarta kami tidak pernah menggunakan kunci gigi untuk menjalankan mobil bila saat diperlukan,aku jadi menebak jangan-jangan dia sama sekali tidak mengerti fungsi kunci gigi pada mobil.

Saat aku bosan dirumah aku mempunyai banyak hal untuk kulakukan dengan mobil hadiah dari ayah, walau aku tidak punya kesempatan untuk belajar tapi aku selalu bertanya banyak hal pada supir kami. Aku sering berjalan menikmati ladang tebu atau kelapa milik ayah, boleh jadi daerah pantai semarang yang memiliki pohon kelapa adalah milik ayahku, ayah memperkerjakan petani yang mahir dengan begitu banyaknya untuk pohon kelapa itu dengan luas yang tak dapat kubayangkan. Dan pohon itu menghasilkan kopra yang menjadi salah satu bisnis ayah.

Pernah ayah memberikan sebuah pertanyaan aneh padaku ketika kami meninjau tanaman kelapanya.

“ Hui lan lihatlah pohon kelapa ini apa pendapatmu tentang pohon kelapa ini?”

“ Membosankan dan hanyalah pohon biasa saja, lebih menarik taman dirumah kita.!”

“ Kamu salah, mungkin buat orang lain pohon ini hanya biasa saja. Tapi buat ayah pohon ini adalah ladang emas yang akan memberikan ayah uang!”

“ Kenapa mesti begitu..?”

“ Tanaman kelapa tidak banyak membutuhkan perawatan. Mereka akan tumbuh dengan cepat dan merawat dirinya sendiri. Tapi hasil dari  kelapanya telah menjadikan ayahmu ini kaya, maka kelak bila kamu hendak menjadi orang yang berhasil. Lihat segala sesuatu yang sederhana sebagai modal kamu untuk maju. Jangan pernah mau menjadi nomor dua di dunia ini, jadilah nomor satu!”

Sebuah pelajaran penting dalam hidupku tentang hasrat dan ambisi, itulah yang kulihat dari ayahku. Ayah memang mempunyai ambisi yang sangat kuat, pernah suatu ketika ia dimarahi oleh kakekku karena sebuah kesalahan dalam perkerjaan. Ia kesal dan berujar pada nenekku.

“ Liatlah suatu saat kelak aku akan lebih kaya sepuluh kali lipat dari ayah” ujar ayahku pada nenek.

Kakekku memang sangat kaya dikala itu, tapi ia memperlakukan ayah seperti pegawai lainnya tanpa keistimewaan. Ia tidak segan-segan memarahi ayah didepan pegawai lainnya, tujuannya memang baik untuk membuat ayah menjadi sadar bahwa setiap pekerjaan harus dipisahkan dari status pribadi. Tapi ayah tidak terima dan beberapa tahun kemudian ambisinya itu tercapai ayah mampu melipatgandakan kekayaannya dari pada kakek hingga sepuluh kali lebih banyak.

Bagaiamana ayahku menjadi kaya, mungkin sedikit aneh tapi kenyataannya ayahku menjadi kaya karena naluri berjudinya yang lihai. Awalnya begini, suatu ketika seorang  mantan konsul Jerman, Mr .Thendor mendekati ayah ketika ayah sedang minum di sebuah kedai pecinan. Tampaknya konsul itu kenal betul kalau ayah sedang frustasi karena disemprot oleh kakek. Konsul itu bicara dengan hangat.

“ Hei anak muda, mengapa wajahmu bersedih?” tanya konsul Jerman itu.

“ Apa maumu?” tanya ayah tanpa basa-basi seperti sifatnya.

“ Baiklah langsung saja aku katakan, aku adalah seorang pria tua yang sedang mencari ketenangan di masa pensiunku dari pekerjaan kelak.”

“ Lalu apa urusannya denganku?” tanya ayahku.

“ Di masa tuaku, aku ingin sekali memiliki sebuah rumah yang letaknya sangat nyaman dan indah. Rumah itu terletak di salah satu perkebunan milik ayahmu. Aku sudah mencoba untuk menawarkan kepada ayahmu untuk kubeli dengan harga yang mahal. Tapi ayahmu menolak?”

“ Kenapa ayahku menolak?” tanya ayah berbalik

“ Ntahlah ia tentu punya alasan.!”

Di kala itu bagi orang cina kebanyakan menjual tanah bagi orang lain akan membuat orang itu kehilangan gengsi dan kakek tentu tidak mau kehilangan muka mengingat saat itu ia sudah cukup kaya dan tidak membutuhkan uang.

“ Dan apa urusannya denganku?”

Pria tua itu menarik nafas panjang.

“ Begini saja, aku ingin membeli rumah itu dari kamu. Karena aku tau kamu adalah pewaris dari rumah itu menurut perkiraanku. Tapi aku tau ayahmu tidak akan menjualnya, aku hanya akan membuat kesepakatan denganmu!”

Ayah mulai tertarik dan bertanya. “ Apa kesepakatan yang kamu amu?”

“ Aku akan memberikan uang yang sangat banyak kepadamu dan dapat kamu gunakan sepenuhnya dan sekehendak hatimu untuk apa saja. Mau kamu gunakan untuk berbisnis silakan? Ataupun berjudi seperti hobimu juga silakan? “

Sepertinya ayah sadar orang ini sudah menyelidiki ayah sejak lama terlebih ia tau benar hobi ayah yang berjudi.

“ Uang itu silakan kamu gunakan, bila uang itu amblas, saya tidak akan marah ataupun mengeluh. Kalau berkembang sampai sepuluh kali lipat atau lebih, berikanlah rumah dan tanah itu untuk hari tuaku!” ujar pria itu serius.

Ayah terdiam dan mulai berpikir. “ Berapa jumlahnya? ”

“ AS $300.000. jumlah hasil kerjaku selama ini. bagaimana?”

Ayah sangat terkejut dengan jumlah yang sangat besar itu, pada dasarnya jiwanya bernaluri penjudi. Ia percaya bahwa keberuntungan akan hadir padanya, ia memutuskan untuk setuju dengan perjanjian itu. tetapi ia tidak terburu nafsu menggunakan uang yang banyak itu, ia juga tidak langsung berpikir menggunakan uang itu di meja judi. Dibakar emosi karena ambisinya untuk membuktikan ia dapat lebih hebat dari kakek ia pun berpikir bisnis yang akan ia jalankan dengan uang yang banyak itu.

Ia pikir kakek kaya karena beras dan pada saat itu tanah di Jawa memang cocok di tanam padi, sementara tenaga kerja dan lahan murah. Gula adalah jawaban dari pemikirannya,  gula dihasilkan dari tebu juga terbukti cocok di tanah Jawa. Jadi, ayah membeli lahan luas untuk ditanami tebu. Masa itu Revolusi Industri belum sampai ke pulau Jawa, tetapi ayah sudah mendengarnya. Ia mendatangkan ahli-ahli Jerman untuk memberikan nasehat perihal mesin-mesin yang diperlukan untuk bercocok tanam dan mengolah tebu menjadi gula.

Dengan bantuan Konsul Jerman yang menolongnya itu ia juga mengirimkan pemuda-pemuda ke Eropa untuk belajar menjalankan mesin-mesin itu dan membetulkan bila terjadi kerusakan. Dan terbukti nalurinya benar, sukses ayah berkesinambungan sebab ia tidak pernah puas. Kuncinya adalah ia peka terjadap setiap pembaharuan dan gagasan sehingga tidak pernah berhenti menyekolahkan karyawan ke luar negeri supaay bisa mempelajari hal-hal yang baru. Mesin-mesinya juga terus diperbarui dan pabrik ayah mendapat tenaga listrik lebih dulu dari istana rumah kami.

Dan ketika kakekku meninggal ayah menepati janjinya kepada konsul Jerman itu terhadap tanah yang ia janjikan. Ayah juga mewarisi kekayaan kakek tetapi pada saat itu ia sudah sangat kaya sehingga ia menolak semua warisan yang diberikan kakek, ia memberikan warisan itu kepada adiknya yang lebih menyukai menjadi seniman dan beberapa saudara perempuannya.  Sekali lagi aku belajar satu hal tentang kehidupan bahwa kecepatan dalam mengambil keputusan adalah salah satu kepekaan yang baik dalam sebuah dimensi waktu yang tepat juga.

 

Kisah hidup OEI HONG KIAN, Dokter Gigi Soekarno, Peranakan Yang Hidup dalam Tiga Kebudayaa

 

Biografi atau otobiografi di Indonesia biasanya mengenai sukses seseorang. Jarang tentang kehidupan pribadinya lengkap sampai ke detail-detailnya. Biasanya juga ditulis menjelang usia 70 tahun. Otobiografi Oei Hong Kian, berjudul Oei Hong Kian, Kind van het Land, Peranakan-Chinezen in Drie Culturen dan diterbitkan Intisari(Maret 2001) dengan judul Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno, Peranakan Yang Hidup dalam Tiga Kebudayaan ini agak unik karena selain kisahnya dimulai dari saat kakek buyutnya datang dari Cina ke Jawa, buku ini juga ditulis menjelang usia 80 tahun.

Kisahnya dimulai ketika pada suatu hari di bulan Februari 1858 Oei Tiauw Ting duduk di puncak bukit menghadap ke teluk yang luas di Fujian atau Hokkian. Tujuan Tiauw Ting pergi ke tempat sunyi itu untuk bisa berpikir dengan tenang tentang masa depannya. Ayahnya sudah tua dan sebagai anak sulung tanggung jawabnya berat.

Sejak lahir 30 September 1830 ia selalu mengalami kesusahan. Bencana alam, banjir, kelaparan, wabah, dan banditisme melanda negaranya yang imbasnya menimpa keluarganya. Bahkan dengan kerja keras pun hasil sawah tidak bisa memenuhi kebutuhan.

Untung masih ada usaha penangkapan ikan. Namun laut pun tidak selalu aman. Perompak sering bermain kucing-kucingan. Kemudian menyusul ancaman perang dari Inggris dan pecahlah Perang Candu tahun 1839. Cina yang enggan dijadikan tujuan ekspor candu tak berdaya menghadapi kapal besi yang pipih. Pada perjanjian Nanking 28 Agustus 1842 pemerintah Qing dipaksa melepaskan Hongkong. Lima pelabuhan harus dibuka, termasuk Xiamen. Ketagihan candu merebak mengerikan. Pemerintah Qing terpaksa menaikkan pajak untuk membayar utang pada Barat. Para warlord, yaitu para penguasa setempat yang memiliki pasukan bersenjata, ikut meminta cukai. Rakyat tambah menderita.

Pada saat itulah ayah Tiauw Ting diam-diam menghubungi seorang thauke, orang yang secara berkala bolak-balik dari Nanyang (arti harfiah: Laut Selatan, namun makna sebenarnya kawasan Asia Tenggara – Red.) ke Cina. Thauke bisa membantu mereka yang ingin mengadu untung dengan membawa mereka naik jung laik layar dan menghubungkan mereka dengan rekan senegaranya di perantauan. Ia merekomandasikan Pulau Jawa yang memiliki iklim baik, cocok untuk tempat tinggal. Di sana banyak orang Cina. Hubungan erat antara orang sedaerah, terutama yang nama keluarganya sama, dipegang teguh. Lagi pula thauke itu mengenal banyak perantau yang bermarga Oei. Itulah yang mendorong Oei Tjeeng Gwan, ayah Tiauw Ting, untuk mengirim ketiga anak laki-lakinya ke Semarang. Waktu itu Tiauw Ting berusia 28 tahun. Keputusan ayah mereka sudah bulat.

Dijodohkan di kapal

Mereka akan berangkat sehari setelah pesta musim semi (Tahun Baru Imlek – Red.) tanggal 25 Februari. Thauke itu ternyata orang yang praktis. Ia memberi tahu ukuran keranjang yang tepat untuk dibawa, supaya bisa ditumpuk dan tidak makan tempat. Ia juga memberi tahu pakaian yang cocok dibawa untuk dipakai di tempat beriklim panas. Atas petunjuknya pula mereka membawa mangkuk porselin yang bisa dijual mahal di Jawa. Atas inisiatif sendiri Tiauw Ting juga berhasil membeli satu perangkat barang kerajinan lak indah dengan harga murah.

Ibunya tidak bisa menahan air mata ketika ketiga putranya pamit. Sebuah kapal nelayan milik teman membawa mereka ke Xiamen. Di sini jung besar sudah menunggu.

Biarpun Tiauw Ting senantiasa mabuk laut, ia mendapat banyak kenalan di kapal sehingga dalam beberapa hari mereka sudah seperti keluarga. Di antara penumpang itu ada seorang pria berusia 49 tahun, Oei Kim San namanya, yang kembali ke Semarang setelah menjenguk keluarga. Karena kebetulan nama keluarganya sama, ketiga bersaudara itu diminta untuk tinggal di rumahnya.

Setelah lebih akrab, saat cuma berdua dengan Tiauw Ting, Paman Kim San bercerita tentang teman dan tetangganya, The Sie Tiong, yang juga dari Hokkian, pedagang porselin dan keramik. Usahanya maju. Mungkin Tiauw Ting bisa belajar berdagang padanya.

Kebetulan Paman Sie Tiong juga mempunyai putri cantik berusia 17 tahun. Gadis itu dilahirkan bertepatan dengan tibanya kiriman piring dari Cina ke rumahnya. Piring itu ternyata menghasilkan banyak uang, sehingga ibunya, seorang wanita Jawa, memberinya nama Piring. Paman Kim San bertanya apakah Tiauw Ting keberatan kalau dijodohkan dengan Piring? Tiauw Ting yang tidak tahu siapa-siapa di rantau, tidak keberatan.

Setelah berlayar 30 hari, ada pengumuman bahwa mereka sudah tiba di Semarang. Semua bergegas ke tempat penyimpanan barang. Dermaga tempat jung itu berlabuh disebut bum. Setelah terjadi kesepakatan antarathauke dengan pria-pria yang menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat, tak lama kemudian orang-orang itu datang membawa perahu-perahu kecil yang akan membawa thauke dan para penumpang ke kota. Tiauw Ting dan saudaranya ikut Paman Kim San naik gerobak ditarik sapi, karena mereka tidak tinggal di tepi sungai. Ternyata Paman Kim San tinggal di tepi pecinan. Rumah-rumahnya mirip di Cina. Mereka disambut ramah oleh istri Paman Kim San yang sayang hanya bisa berbahasa Hokkian sedikit.

Keesokan harinya setelah sarapan Tiauw Ting sudah diajak berkunjung ke Paman Sie Tiong, teman Paman Kim San yang dibicarakan di kapal. Karena sedang sibuk, mereka berjanji akan kembali malam harinya. Dari situ mereka langsung ke kantor pemerintahan untuk mengurus pendaftaran sebagai pendatang baru. Kantor itu kebetulan dekat dengan Klenteng Tay Kak Sie. Setelah itu mereka juga tidak lupa ke Klenteng Sam Po Kong.

Tanpa membuang waktu malam itu juga Paman Kim San melamar Piring untuk Tiauw Ting. Tentu setelah sebelumnya dibicarakan antara Bibi Kim San dan Sie Tiong. Perkawinan akan dilaksanakan tiga minggu kemudian.

Tiba saat sibuk untuk para wanita. Selama menunggu hari besar itu Tiauw Ting banyak bicara dengan calon mertuanya, tetapi calon istrinya masih rahasia. Paman Sie Tiong menyarankan agar mereka sebaiknya kelak tinggal di Magelang.

Sebulan setelah pesta perkawinan besar-besaran itu pasangan baru itu berangkat ke Magelang. Pagi-pagi buta Piring harus pamitan pada ibunya untuk ikut suami yang masih asing. Mereka naik kereta yang ditarik empat kuda kurus. Di tanjakan Gombel yang terkenal terjal, penumpang harus turun dan kuda diganti dengan empat ekor sapi. Piring ditandu. Sampai di atas, kuda dipasang lagi. Mereka menginap semalam di Ambarawa di rumah famili untuk meneruskan perjalanan keesokan harinya menuju Magelang.

Naksir Gadis Hijau

Waktu itu penduduk Magelang berjumlah 20.000 orang, di antaranya 2.400 penduduk Cina dan 200 Eropa. Tiauw Ting mulai berdagang kecil-kecilan dan Piring membuka toko. Usahanya berjalan lancar. Dua tahun setelah menikah lahirlah anak laki-laki. Akhirnya, mereka dikaruniai sepuluh anak, enam laki-laki dan empat perempuan.

Nasib Tiauw Ting terlalu baik. Namun, malapetaka melandanya seperti sambaran petir di siang bolong. Di Semarang ia sempat berkenalan dengan Oei Tjie Sien, yang datang dengan jung sebelumnya. Tjie Sien yang mendirikan perusahaan Kian Gwan adalah cina kolot. Lain dengan putranya, Oei Tiong Ham, yang terkenal mata keranjang. Ketika berkunjung ke Magelang, ia berkenalan dengan putri sulung Tiauw Ting, Kiem Hong. Karena diiming-imingi kehidupan enak, Kiem Hong berhasil dibujuk untuk lari. Namun setelah beberapa tahun ia sudah dicampakkan dari posisi gundik favorit. Di makam Tiauw Ting, nama Kiem Hong tidak disebut.

Salah seorang anak laki-laki Tiauw Ting ialah Tjing Lien yang menikah dengan Sik Nio alias Wineh, nama Jawanya. Itulah kakek dan nenek Oei Hong Kian (OHK). Dua tahun setelah menikah mereka mendapat anak laki-laki pada hari capgome, tepatnya tanggal 16 Februari 1897. Ia diberi nama Oei Kok Poo, yang tidak lain ayah OHK.

Oei Hong Kian sendiri dilahirkan 23 Februari 1921 sebagai anak sulung. Sejak kecil ia bukan anak yang manis. Diam-diam ia pernah ikut tukang kebun untuk menonton permainan Nini Thowok (semacam jailangkung) pada malam hari. Malah sewaktu tinggal di rumah kakeknya di Megelang, ia pernah mengisap cerutu kakek sampai mabuk, menggunting rambut gadis tetangga, dan bermain di tanah kosong ditemani Koos – salah seorang pembantu di rumah kakeknya – kalau sedang malas bersekolah.

Setelah lulus Hollands Chinese School (HCS) di Magelang, ia masuk Hogere Burger School (HBS) di Semarang. Waktu itu ia kos pada seorang Belanda, pedagang sepeda, yang menikah dengan seorang wanita Jepang. Di HBS itulah ia diam-diam menaruh hati pada Evergreen, gadis cina yang sering memakai pakaian hijau. Waktu itu OHK masih merasa sebagai orang udik lagi pemalu. Kekaguman itu ia simpan dalam-dalam. Setiap sore ia lewat di muka rumahnya untuk mencoba melihat gadis pujaannya itu barang sejenak. Perhatiannya pada gadis itu ternyata ketahuan juga. Sedikitnya oleh salah seorang dari sekian banyak pengagum Evergreen. Jantje Liem, yang terkenal jago berkelahi, rupanya merasa OHK melangkah terlalu jauh. Tiba-tiba saja Liem merenggutnya dari sepeda dan memukulinya. OHK pun merasa tergugah untuk berkelahi demi Evergreen.

Namun rupanya Evergreen memang bukan jodohnya. OHK lalu berkenalan dengan calon istrinya kelak, Hermien, yang tujuh tahun lebih tua. Perkenalan atas inisiatif Kiem Soei, teman sekolah OHK yang lebih tua dan lebih matang darinya itu, berlangsung di pasar malam di Semarang. Itulah pertama kalinya OHK pergi dengan perempuan. Perbedaan usia yang cukup mencolok – sebaya dengan bibinya yang setiap hari memandikan OHK ketika masih tinggal di rumah kakeknya – bukan soal besar bagi mereka.

Ketika lulus HBS, ia sebetulnya ingin ke Belanda untuk meneruskan pelajaran. Namun sudah keburu pecah Perang Dunia II di Eropa. Ia akhirnya mendaftarkan diri di STOVIT, sekolah pendidikan kedokteran gigi di Surabaya. Salah seorang asisten waktu itu ialah drg. Moestopo, yang kemudian mendirikan Universitas Prof. Dr. Moestopo. OHK belum lulus ketika Jepang masuk. Lalu ia pulang ke Magelang. Mien – panggilan akrab Hermien – waktu itu tinggal di Yogya.

Melanjutkan sekolah di Belanda

Masa pendudukan Jepang sangat menjemukan karena ia terpaksa menganggur. Usaha untuk memulai sesuatu gagal. Untung ia mempunyai teman yang membeli barang orang Belanda yang perlu uang. Di antara barang-barang itu ada banyak piringan hitam yang diputar pada malam hari bersama teman-teman.

Selama itu hubungan dengan Mien di Yogya berjalan terus. Di kediaman Mien itu ia bertemu dengan Raden Mohammed Achmad, bupati Kuningan, ayah Mr. Maria Ulfah Santoso, yang baru saja diangkat menjadi menteri sosial dalam Kabinet Sjahrir kedua. Ibu Mien kadang-kadang membantu mereka, misalnya secara bekala membelikan beras bermutu baik.

Adik-adik Mien membuka toko kecil yang sering didatangi kaum muda Indonesia. Dari sana Mien mendapat seorang pelanggan yang tidak lain calon Ny. Hatta, yang nantinya menjadi istri wakil presiden Republik Indonesia. Mien diminta menjahitkan baju pengantinnya.

Pada tanggal 29 Juli (’45 atau ’46?) di Yogya OHK kedatangan temannya yang sakit TBC. Temannya itu ingin mengunjungi pacarnya di Surabaya. Pak Achmad yang kebetulan mendengar percakapan itu keesokan harinya mengatakan bahwa tanggal 31 Juli teman yang sakit itu bisa menumpang kereta api ke Batavia. Ia akan membantu untuk memperoleh izin khusus hari itu juga. Pada tanggal 31 pagi buta OHK didatangi Pak Achmad dengan saran apakah ia tidak mau ikut ke Batavia juga, gratis.

Jelas, OHK tidak mempunyai waktu untuk pamit pada orang tuanya di Magelang. Pada pukul 23.15 hari itu juga ia bersama Mien berangkat naik andong ke Stasiun Tugu, yang remang-remang hampir kosong. Kereta api menurut rencana akan berangkat pukul 24.00. Namun ternyata kereta api baru tiba pukul satu lebih. Mereka hanya naik kereta api sampai Cirebon. Dari situ mereka dinaikkan kapal tangker berawak Jepang ke Batavia. Di situ Mien ditampung teman dan OHK tinggal bersama temannya yang sakit di tempat lain.

Lalu harus ngapain di Batavia? STOVIT tidak dibuka lagi dan di Batavia tidak ada sekolah dokter gigi. OHK menulis surat ke Utrecht apakah ia bisa meneruskan pelajaran di sana. Ternyata mungkin, tetapi bagaimana agar sampai di Belanda? Ia disarankan untuk menghubungi palang merah dan disarankan untuk minta bea siswa Malino. Namun saran itu ditolak. Untung mereka akhirnya bisa berangkat juga naik kapal Kota Inten sebagai pembantu di bagian rumah tangga kapal.

Namun sebelumnya mereka bermaksud untuk menikah dulu. Itu terjadi pada tanggal 2 September 1946. Mereka naik kapal pada 8 Oktober dan pada 2 November kapal Kota Inten dihela kapal tunda memasuki Nieuwe Waterweg. Dua hari kemudian mereka sudah mendapat pemondokan di Utrecht tanpa kamar mandi, sehingga mereka harus membayar 25 sen untuk mandi di tempat mandi umum.

Dekan yang khusus mengurusi mahasiswa memberinya persekot tanpa bunga dari pemerintah. Uang itu harus dibayar kembali setelah lulus kepada pemerintah Indonesia. Dengan tunjangan 100 gulden dan kiriman uang bulanan dari orang tuanya, mereka bisa hidup pas-pasan. Uang kuliah sebesar 335 gulden cukup dibayar dengan menandatangani surat utang.

Akhir bulan April ternyata Mien hamil. Biarpun keuangan masih sulit, berita itu disambut dengan gembira. Kedatangan si kecil juga menjadi dorongan untuk menyelesaikan studinya secepat mungkin. Selain itu ia juga sudah mengajukan permintaan pinjaman besar untuk membeli peralatan kedokteran gigi. Kalau dikelola dengan cermat, masih ada sisa sedikit untuk si kecil. Bayi itu lahir pada 12 Desember 1947 dan pada 17 Desember OHK lulus sebagai dokter gigi.

Pasiennya orang-orang besar

Pada 5 Januari 1949 OHK sudah menerima surat dari Kementerian Kawasan Seberang Laut untuk dikirim ke Indonesia. Namun sebelumnya ia ingin berpraktik dulu di Belanda.

Setelah keadaan politik di Indonesia membaik, mereka akhirnya mengambil keputusan untuk kembali ke Indonesia. Tepatnya pada 21 Desember 1949 mereka diantar sanak keluarga naik kapal Willem Ruys. Dari atas geladak mereka melihat keluarga Mien dan keluarga Oei sedang menunggu di pelabuhan Batavia untuk menyambut mereka.

Di Jakarta mereka tinggal di rumah yang disewa oleh orang tua Mien. Untung ia cepat mendapat pekerjaan. Seorang rekan memberi kesempatan bekerja di tempat pratiknya kalau tidak sedang dipakai. Selama itu Mien terus mencari tempat tinggal, yang waktu itu susah karena perumahan masih diatur oleh Huisvesting Organisatie Batavia (HOB). Namun secara kebetulan Mien berhasil menemukan rumah di Jln. Serang 12 (sekarang Jln. Syamsuridzal??) persis menurut ramalan ketika ia masih di Belanda.

OHK langsung membuka praktik dan di luar dugaan laris. Banyak di antara pasiennya namanya sekarang menghiasi jalan-jalan di Jakarta seperti Jln. Sutan Sjahrir, Jln. Rasuna Said, Jln. Soekardjo Wirjopranoto, Jln. Suwirjo, Jln. S. Parman, Jln. Syamsuridzal, dsb.

Tidak lama kemudian ia giat dalam organisasi Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Dibentuklah tim nasional yang terdiri atas rekan Abdulkadir, Soeria Soemantri, Soelarko, Jetty dan Rizali Noor, Slamet Sudomo, dan OHK.

Ia juga sempat ikut membangun kedokteran gigi di Indonesia. Ketika tahun 1950 Indonesia mengambil alih bidang kedokteran gigi dari Belanda, hanya ada 120 dokter gigi, termasuk orang Belanda, untuk melayani lebih dari 72 juta penduduk. Peralatan material dan obat-obatan tidak ada. Dokter gigi hanya ada di kota-kota besar.

Dalam buku yang ditulis seorang dokter gigi Jerman ia membaca, “Jangan membuat teman Anda menjadi pasien, tetapi jadikanlah pasien teman Anda”. Kalimat itu dia perhatikan dengan betul.

Sayangnya, lebih dari sekali ia mengalami pasiennya ditangkap tanpa proses karena keyakinan politiknya. Salah satunya ialah Mochtar Lubis. Koran di mana ia menjadi pemimpin redaksinya dibredel, dan ia dijemput dari rumah tanpa sempat pamit pada istrinya. Untung mereka masih bisa bertemu seperempat jam dalam praktiknya.

Dari pasiennya OHK sering menerima bunga dan kue pada hari raya. Dari Priyono, Adam Malik, Herawati Diah, Djatikusumo, dan banyak lagi yang kembali ke Jakarta setelah menjadi dubes ia mendapat oleh-oleh. Pernah ia mendapat lemari es dan AC dari seorang pasien.

Pernah pula ia menemukan sebuah akuarium iklan laut yang sangat indah di ruang keluarganya. Pengirimnya ternyata dubes Arab Saudi. Dalam kartu yang menyertainya, ia meminta agar ikan-ikan itu dipelihara. Ia dipanggil pulang untuk menduduki jabatan penting saat baru dua bulan bertugas di Jakarta.

Mayjen S. Parman tak balik lagi

Untuk merawat gigi, karyawan Kedutaan Amerika boleh pergi ke pangkalan Amerika di Filipina. Pada suatu hari tiba-tiba Dubes Howard Jones menderita sakit gigi hebat. Dubes Inggris yang sudah berjanji untuk datang merawatkan gigi ke tempat praktiknya merelakan janjinya untuk rekan sejawatnya. Sejak itu Pak Dubes Amerika menganggap, karyawan kedutaan tidak perlu ke Filipina untuk merawat atau menyembuhkan sakit gigi.

Hubungan baik dengan pasien itu juga diteruskan di luar negeri. Ketika pada musim panas tahun 1957 OHK dan Mien berlibur ke Belanda, dalam perjalanan kembali ke Indonesia mereka menginap di kediaman teman mereka Bambang Soegeng yang waktu itu dubes Vatikan. Kala itu mereka berkesempatan beraudiensi dengan Sri Paus.

Selasa 28 September 1965 Mayjen S. Parman duduk di kursi kamar praktiknya. Perawakannya kecil, tetapi mutunya tinggi. Ia asisten I KSAD. Hobinya bermain dengan kereta api mini. Pada hari Senin itu ia datang untuk memasang “jembatan” pada giginya. Ketika diminta kembali seminggu lagi untuk diperiksa, ia menjawab bahwa ia tidak bisa datang sepanjang bulan Oktober karena akan sibuk sekali. Supaya sempat datang, ia diberi OHK waktu khusus yaitu pukul 15.45 hari Kamis 30 September. “Jembatan” itu ternyata baik. Setiba di rumahnya ia menulis pesan di papan di dinding kamar kerjanya agar asistennya membayarkan rekening dokter gigi. Subuh tanggal 1 Oktober ia dijemput Cakrabirawa dengan alasan dipanggil menghadap Presiden Soekarno.

Ketika sore harinya pukul 16.00 OHK membuka praktik, setengah jam kemudian datang ajudan Jenderal Parman untuk membayar rekening bosnya. Katanya, pukul 04.30 Pak Jenderal dipanggil Presiden Soekarno dan sampai saat itu belum pulang. Baru setelah praktik selesai, OHK tahu bahwa enam jenderal dan seorang kapten telah dibunuh.

Merawat gigi Soekarno

Suatu pagi di awal tahun 1967 ia dikunjungi dr. Tan, dokter pribadi Presiden Soekarno. Katanya, Bung Karno sakit gigi. Tawaran itu diterima dan ia langsung diajak ke istana. Alangkah kagetnya ketika ternyata peralatan di sana sudah kuno, berasal dari gudang NICA, warisan Belanda. Terpaksa peralatan miliknya bolak-balik dibawa ke istana naik truk. Setelah perawatan selesai, OHK tidak boleh langsung pulang. Ia diminta untuk minum teh dulu ditemani cemilan pisang goreng.

Setelah Sidang Istimewa MPRS tanggal 7 – 12 maret 1967 diputuskan untuk menarik kembali mandat yang mereka berikan kepada Pemimpin Besar Revolusi, BK harus keluar dari Istana Merdeka dan mendapat tahanan rumah di Bogor.

OHK sudah tidak mengira akan bertemu dengan BK lagi. Permulaan 1967 ia mendapat kunjungan seseorang yang memperkenalkan diri sebagai doker pribadi BK. Katanya, BK ingin dirawat lagi dan akan datang ke tempat praktik di rumah. Ternyata BK datang naik Mercedes 600 dengan kawalan ketat.

Waktu itu tahun 1968. OHK sudah mengambil keputusan untuk pindah ke Belanda dan saat itu sudah dekat. Ketika BK datang bulan Maret, akan dia beri tahu tentang keputusan itu. Ketika itu BK perlu tambalan emas yang harus dicor dulu. Mereka berjanji tanggal 21 Maret akan kembali. OHK lupa bahwa tanggal 21 Maret ada sidang MPR yang berlangsung sampai 30 Maret. Tanggal 21 Maret BK tidak bisa datang. Juga tidak hari-hari berikutnya. Padahal pada 30 Maret mereka sudah harus berangkat. Jadi, tidak sempat pamit.

Kehidupan di Belanda sangat berbeda dibandingkan dengan di Indonesia dan nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tuanya. Semua sudah begitu teratur, sehingga kehidupan bisa diibaratkan kali kecil yang mengalir dengan tenang. Namun cara berpikir Belanda yang tanpa tabu dan semua boleh, juga merupakan perubahan besar. Alangkah kagetnya ketika putrinya berkata bahwa ia ingin tinggal sendiri dan tidak mau diatur oleh oang tua.

Putri-putrinya sekarang sudah menikah dan mempunyai anak. Cucu perempuan sulungnya bahkan sudah belajar ekonomi. Putranya tidak mau mempunyai anak. Dengan temannya ia merasa sudah mendapat cukup hiburan dari delapan kemenakannya. Istrinya waktu buku ini ditulis juga sudah mulai sakit-sakitan dan bahkan kemudian meninggal.

Buku itu diakhiri dengan napak tilas ke tempat leluhurnya berasal. Total ia pergi ke Cina empat kali bersama Mien, istrinya. Pada kunjungan kedua tahun 1983, begitu tiba di Xiamen, ia langsung menghubungi kantor Huakiau. Ia membawa salinan ijazah sekolah ayahnya. Di situ ditulis bahwa kakeknya berasal dari Shimajie, Longxi, Zhangzou di Propinsi Fujian.

Dalam perjalanan dilihatnya pemandangan yang identik dengan daerah antara Magelang dan Yogya. Di mana-mana ada kebun tebu. Andaikata rumah Cina itu diganti dengan rumah Indonesia, seakan-akan mereka berada di sekitar Muntilan. Sayang mereka tidak bisa menemukan rumah keluarga nenek moyangnya. Tapi sekolahnya masih ada.

Pemandu juga menemani mereka ke kaki sebuah bukit tempat mereka bisa melihat kota pelabuhan Amoy. Mungkin itu bukit tempat kakek buyutnya merenung sebelum memutuskan beremigrasi ke Nanyang.

Untuk menelusuri jejak kakek buyut, mereka memutuskan kembali ke Hong Kong dengan kapal. Pada 1 November 1983 mereka menumpang kapal motor Gulangyu. Mereka melewati Pulau Gulangyu yang bagus ketika keluar dari teluk. Pada sisi kanan mereka melihat pegunungan di Fujian Selatan yang bertambah lama bertambah kecil. Saat itu ia menjadi lebih yakin bahwa kakek buyutnya itu memang orang pemberani.

hkoei3

Kisah hidup OEI HONG KIAN

Seorang akrobat pawang Singa sikrus, nyaris dimakan oleh singanya sendiri

Ntah apa jadinya bila tim kepolisian datang telat untuk menolong seorang pawang sikrus yang hendak menjadi santapan bagi hewan yang ia latih. Seekor singa jantan yang biasanya tunduk kepada pawangnya marah dan menyatap hidup-hidup sang pawang. kejadian ini terekam oleh sebuah kamera dimana kejadian tragis itu berakhir dengan kematian sang singa.

 

Apa yang membuat singa itu begitu marah masih belum dapat dikonfirmasi. tapi biasanya kejadian seperti ini terjadi karena dendam sang binatang kepada pawang yang mungkin saja sering melecehkan atau menyiksanya

 

Perhatian film ini tidak layak ditonton untuk bila anda blum cukup umur dan berpenyakit jantung.

Seorang akrobat pawang Singa sikrus, nyaris dimakan oleh singanya sendiri

Ntah apa jadinya bila tim kepolisian datang telat untuk menolong seorang pawang sikrus yang hendak menjadi santapan bagi hewan yang ia latih. Seekor singa jantan yang biasanya tunduk kepada pawangnya marah dan menyatap hidup-hidup sang pawang. kejadian ini terekam oleh sebuah kamera dimana kejadian tragis itu berakhir dengan kematian sang singa.

 

apa yang membuat singa itu begitu marah masih belum dapat dikonfirmasi. tapi biasanya kejadian seperti ini terjadi karena dendam sang binatang kepada pawang yang mungkin saja sering melecehkan atau menyiksanya

 

perhatian film ini tidak layak di