[x]Close

sony

sga

KISAH HIDUP AKIO MORITA : SANG BAPAK PENDIRI SONY CORPORATION (3)

baca sebelumnya

http://lieagneshendra.blog.friendster.com/?p=2697 bagian 2

http://lieagneshendra.blog.friendster.com/?p=2693 bagian 1

KISAH HIDUP AKIO MORITA : SANG BAPAK PENDIRI SONY CORPORATION (2)

Baca sebelumnya http://lieagneshendra.blog.friendster.com/?p=2693

Ingin Seperti Philips

Sementara MIT1 saya menimbang-nimbang, saya mengunjungi pelbagai pabrik di Eropa seperti Volkswagen, Siemens, dan Mercedes. Kunjungan keJerman mengecilkan hati saya sebab dibandingkan dengan di Jepang, pembangunan di sana berlangsung cepat sekali Jepang di Eropa cuma dikenal sebagai penghasil payung-payungan kertas mini untuk penghias es krim dan produk lain yang kurang berarti. Ah, betapa masih jauhnya kami dan mereka!

Saya juga berkunjung ke Belanda. Alangkah bedanya dengan jerman. WalaupunJerman kalah perang, tahun 1953 itu Volkswagen sudah membuat 700 mobil setiap han. Semua dilakukan dengan mesin. Di Belanda sebaliknya, orang-orang menunggang sepeda dan di mana-mana ada kincir angin tua laksana dalam lukisan. Namun, begitu tiba di Eindhoven saya terpesona. Betapa besarnya perusahaan Philips yang berkedudukan di kota kecil itu, di negeri kecil yang masih mengandalkan pertanian dan peternakan. Saya memandang patung Dr. Philips di muka stasiun dan teringat patung buyut Ayah di Kosugaya. Saya memikirkan Dr. Philips yang lahir di kota sekecil itu, tetapi mampu membangun pabnk raksasa yang terkenal teknologi tingginya dan bereputasi baik di seluruh dunia.

“Mungkin saya juga bisa berbuat seperti dia di Jepang,” pikir saya. Di Belanda itulah ketabahan saya kembali lagi. Seperti dalam rnimpi, saya menulis surat kepada Ibuka, “Jika Philips dapat melakukannya, mungkin kita pun dapat.”

Tiga puluh tahun kemudian, Philips dan Sony, dua perusahaan yang berasal dan dua negara kecil bekerja sama dalam bidang standar desain dan hal- hal lain yang banyak mengantar pada kemajuan teknologi.

Di Jepang kami melakukan riset tanpa kenal lelah. Salah seorang ahli riset kami, Leo Esaki, tahun 1973 mendapat Hadiah Nobel untuk fisika berkat penemuannya dalam penyempurnaan transistor.

Tokyo Tsushin Kabushjj Kaiha bukanlah nama yang baik untuk dipakai dalam suatu produk Di Jepang pun kami menyingkatnya menjadi Tetsuko, tetapi di AS tidak ada yang bisa menyebutnya, apalagi nama panjangnya. Terjemahan Inggrisnya janggal, Tokyo Telecommunication Engineering Company. Pernah kami memakai nama Tokyo Teletech, tetapi ternyata sudah ada perusahaan AS yang bernama Teletech.

Kami ingin nama yang mudah diingat, mudah diucapkan dan pengucapannya sama di seluruh dunia. Pada masa itu, pemuda-pemuda cemerlang dijepang sering dijuluki sonny. Dan kamus kami tahu bahwa sonus adalah ‘suara’ dalam bahasa Latin. Bagus juga nama itu untuk dipilih. Tetapi celakanya sonny bila diucapkan oleh lidah Jepang bunyinya sama dengan ‘kehilangan uang’. Bisa celaka kami di Jepang, bila mengeluarkan produk baru dengan nama itu. Kata saya, “Buang saja ‘n’-nya satu.” Demikianlah Sony terpilih menjadi logo produk-produk kami.

Bulan Januari 1958 kami resmi berganti nama menjadi Sony Corporation. Kami mencatatkan nama kami di 170 negara supaya tidak dipakai orang lain.

‘Lamaran’ Bulova Ditolak

Setahun sebelumnya kami memasarkan radio transistor yang bisa dikantungi, pocketable. Sebetulnya, benda itu agak terlalu besar untuk saku biasa, tetapi gagasan pocketable rasanya bagus sekali sehina para penjual dilengkapi dengan saku kemeja yang agak lebih besar dan normal supaya bisa mengantunginya.

Sebetulnya kami kecewa, ketika beberapa bulan sebelum kami memasarkanradio transistor kami yang pertama, ternyata ada perusahaan AS yang mendahului. Namun, rupanya mereka salah tafsir. Karena mengira pasaran kurang menguntungkan, mereka berhenti. Sebaliknya, kami menciptakan pasar dan kami berhasil.

Tahun 1955, ketika saya membawa transistor kecil kami yang harganya AS $ 30 kurang lima sen itu ke New York, para pengecer AS tidak terkesan. “Buat apa radio sekecil itu? Semua orang ingin yang serba besar di AS, sebab rumah kami besar-besar,” kata mereka.

“Memang betul di sini rumah besar-besar,” jawab saya. Tetapi saya juga melihat banyak stasiun radio. Setiap anggota keluarga di AS bisa memiliki radio kecil untuk didengar di kamar masing-masing supaya tidak saling mengganggu.

Banyak juga yang melihat logika alasan saya itu sehingga Bulova umpamanya, ingin mengambil 100.000 unit. Saya tercengang, sebab itu sama dengan beberapa kali lipat modal perusahaan kami seluruhnya. Namun, ternyata mereka ingin radio itu diberi merk Bulova. Saya menolak.

Saya sudah bersumpah tidak mau membuat peralatan orisinal untuk perusahaan lain. Kami ingin mengharumkan nama produk kami dengan mutu produk kami sendiri. Orang-orang Bulova menganggap saya sinting.

“Merek dagang kami sudah terkenal. Untuk membuat nama Bulova terkenal kami membutuhkan waktu 50 tahun. Merek dagang Anda belum dikenal orang. Mengapa Anda menolak untuk memanfaatkannya?” tanya mereka meremehkan.

“Lima puluh tahun yang lalu,” kata saya, “mungkin Anda sama tidak terkenalnya dengan kami sekarang. Kini kami sedang melakukan langkah pertama dan perjalanan ke 50 tahun mendatang. Saya yakin 50 tahun lagi merek dagang kami akan sama ter­masyhurnya dengan merek dagang Anda sekarang.”

Walaupun disesali rekan-rekan, saya tidak per­nah menyesali keputusan itu.

Sahamnva Disuruh Jual

Masa itu perusahaan kami memang masih kecil dan pasar di Jepang masih cukup besar dan aktif, tetapi ada konsensus di antara sesama industrialis Jepang: perusahaan Jepang mesti mengekspor produk mereka supaya bisa bertahan hidup. Lagi pula untuk tumbuh seperti yang dicita-citakan oleh Ibuka dan saya, kami memerlukan pasar yang ka­ya, negara yang kaya di luar ne­geri.

Walaupun Jepang mulai makmur, masa itu kami tetap sulit memper­oleh dana. Ber­untung bagi ka­mi, dewan pe­nasihat kami dipercaya oleh investor. Me­reka itu antara lain terdiri atas Junshiro Mandai (mantan ketua Bank Mitsui), mertua Ibuka (mantan menteri), mantan bos Ibuka yang pertama, dan ayah saya.

Salah seorang yang dianggap sebagai calon in­vestor oleh para penasihat kami ialah Taizo Ishizaka yang kemudian mengepalai Keidanren, yaitu federasi organisasi-organisasi ekonomi di Jepang. Ibuka dan saya mendatanginya untuk membujuknya agar mau menanamkan modal di perusahaan kami. Namun, beberapa bulan kemudian Mitsui Bank memintanya memimpin Tokyo Shibaura Electric Company (Toshiba) yang sedang mengalami kesulitan keuangan dan tenaga kerja. Hukum anti-trust sudah berlaku saat itu sehingga Ishikaza merasa ia tidak boleh memiliki sa­ham di Sony yang memproduksi jenis barang-barang yang sama dengan Toshiba, walaupun pada masa itu Sony masih kecil dan Toshiba sudah menjadi raksasa. la menyerahkan sahamnya kepada putrinya, Tomoko.

Lama setelah kami mengeluarkan radio transis­tor kecil, Toshiba menghasilkan pula barang yang sama. (Kami sering disebut kelinci percobaan dalam industri elektronika. Soalnya, kami selalu menjadi pelopor. Para saingan kami, termasuk yang besar-be­sar, akan menunggu dulu. Kalau kami berhasil di pasaran, barn mereka mengeluarkan produk serupa). Saat itu, Ishizaka meminta putrinya menjual solo saham-saham Sony sebab tidak ada perusahaan kecil yang bisa bersaing dengan perusahaan raksasa. Seba­gai putri yang berbakti, Tomoko menjual saham Sony miliknya dan kehilangan kesempatan menjadi kaya dari saham-saham itu.

Sebelum perang, di luar negeri barang-barang bertanda Made in Japan dikenal sebagai barang yang rendah mutunya. Kami memilih nama Sony bukan karena kami ingin menyembunyikan identitas nasio­nal kami sebab menurut peraturan internasional, negeri asal suatu produk harus disebutkan. Namun, kami tidak mau orang sudah menolak produk kami sebelum memberi kami kesempatan untuk menun­jukkan mutunya. Jadi, Made in Japan-nya kami tulis sekecil mungkin. Pernah bea cukai AS menganggapnya terlalu kecil pada suatu produk sehingga harus kami perbesar.

Di masa lalu, sebagai pelopor kami bisa menik­mati pasar sendirian selalna jangka waktu yang cukup panjang, umpamanya saja setahun atau lebih. Namun, kemudian perusahaan lain menganggap bahwa pro­duk barn kami pasti sukses sehingga mereka segera ikut mengeluarkan produk yang serupa. Akibatnya sebagai pelopor kini kami paling-paling cuma bisa menikmati pasar tanpa saingan selama tiga bulan saja. Sebetulnya baik untuk cilia kami, namun berarti kami hams selalu menemukan yang baru. Kami menyisih­kan 6% dan kadang-kadang 10% basil penjualan un­tuk penelitian, supaya selalu bisa menyuguhkan yang serba baru.

Kami bukan akan menanyakan produk apa yang disukai konsumen,melainkan berusaha mengajak konsumen menyukai produk baru kami. Soalnya, ma­syarakat tidak tahu apa yang bisa kami buat, tetapi kami tahu. Jadi kami bukan menjalankan riset pasar secara besar-besaran, melainkan kami mencoba me­nyempurnakan suatu produk, menyempurnakan ke­gunaannya, dan menciptakan pasar dengan mendidik dan berkomunikasi dengan masyarakat.

Promosi Walkman di Ginza

Anda pasti tahu walhman. Cerita kelahirannya begini: Suatu hari Ibuka masuk ke kantor saya membawa tape recorder stereo dan memakai headphones. “Saya senang mendengar musik, tetapi tidak mau mengganggu orang lain,” katanya. “Namun, membawa-bawa alat seperti ini berat.”

Saya kira orang seperti Ibuka banyak, di Tokyo maupun di New York. Jadi, saya meminta para ahli kami menciptakan alat pemutar kaset stereo kecil dengan headphones yang ringan. Alat perekam dan pe­ngeras suara boleh dibuang. Mereka enggan sekali mengerjakannya. Tidak ada yang yakin barang itu akan laku. Siapa yang mau membeli alat yang tidak bisa dipakai merekam?

“Jutaan orang mau membeli alat pemutar kaset stereo untuk mobilnya, padahal itu pun tidak bisa dipakai merekam,” kata saya. Mereka terpaksa juga mengerjakan permintaan saya. Saya meminta pula agar alat itu terjangkau oleh uang saku orang-orang muda.

Ternyata, harganya tidak bisa semurah yang saya minta. Saya putuskan juga untuk menjualnya dengan murah, dengan perhitungan bahwa kalau produksi kami naik, harga bisa ditekan. Untuk merangsang pembeli, kami mengupah orang-orang muda untuk berjalan hilir mudik di Ginza pada hari Minggu sambil mendengarkan walkman. Segera kami kewalahan me­layani permintaan. Padahal, saya yakin kalau kami mengadakan riset pasar dulu, walkman Sony akan ditolak.

Banyak teman saya dari dunia musik seperti Her­bert von Karayan, Zubin Mehta, Lorin Laazel, serta Virtuoso Isaac Stern menghubungi saya gara-gara walkman.

Berkat mengembangkan seri walkman, kami pun mampu meminiaturkan dan memperbaiki mutu head­phones kami yang standar dan memperkenalkan pu­luhan model baru. Demikianlah kami menjadi salah satu produsen headphones terbanyak di dunia. Kami menguasai hampir 50% pasar di Jepang.

Showroom untuk Mencoba

Pertengahan tahun 1950-an saya bukan satu-satunya orang Jepang yang melakukan bisnis di AS. Namun, bedanya kebanyakan mempercayakan diri pada perusahaan dagang raksasa Jepang yang mengerti pasaran di AS dan sudah mempunyai kantor sendiri di sana. Orang-orang AS pada masa itu pun cuma mau menerima barang-barang Jepang lewat perusahaan da­gang raksasa yang sudah berpengalaman. Distribusi yang memakai cara itu tentu bertele-tele.

Saya memerlukan cara distribusi yang lain su­paya bisa mengkomunikasikan nilai dan kegunaan produk kami yang memakai teknologi tinggi itu kepada konsumen.

Untung, saya tidak mempunyai bos yang meng­awasi terus dari belakang sehingga apa

pun yang saya putuskan tidak ada yang melarang.

Mujurnya, saya diperke­nalkan oleh ShidoYamada kepada Adolph Gross. Gross itu memiliki perusahaan bernama Agrod Company. Ia mau menjadi perwakilan kami. Hubungan saya dengan Gross berkembang bukan hanya dalam bisnis, tetapi juga secara pribadi. Ia salah seorang guru yang saya kenal di AS, selain Yoshinomu “Doc” Kagawa (warga negara AS yang datang ke Jepang sebagai pengacara tentara AS dalam bidang ekonomi), dan Edward Rosniny, pengacara Gross yang kemudian juga menjadi penga­cara saya. Saya juga belajar akunting dan hukum da­gang dari Irving Sagor, akuntan Gross.

Memiliki guru seperti “Doc” Kagawa tidak ter­kira manfaatnya. Kebanyakan orang bisnis Jepang Yang berkunjung ke AS di masa itu belajar tentang AS dari teman-teman Jepang lagi yang sudah lebih dulu berada di sana. Akibatnya, setelah bertahun­-tahun tinggal di AS, mereka tetap saja menjadi orang asing di sana sebab cuma berkumpul-kumpul dengan orang Jepang lain dan seperti orang buta membimbing orang buta lain. Saya belajar tentang orang-orang AS dari penduduk AS sendiri.

Sebagai excecutive vice-president dari perusahaan saya di Tokyo, saya harus melakukan banyak hal, te­tapi bertugas pula menjual produk kami. Tentu saja saya tidak mungkin mengerjakannya sendirian. Atas saran Gross, saya menunjuk Delmonico International sebagai distributor. Ternyata, kemudian Delmonico lebih tertarik pada harga murah daripada mutu yang baik. Jelas kami tidak berminat menghasilkan benda tidak bermutu demi uang. Jadi, kami memutuskan hubungan dengan Delmonico. Berkat Ed Rosniny, kami bisa menghindari pertarungan yang berlarut-la­rut di pengadilan, namun kami harus banyak menge­luarkan uang.

Saya sadar bahwa masa depan saya dan perusa­haan kami banyak tergantung dari AS dan bisnis internasional lain. Saat itu tahun 1960, lebih dari se­tengah produk kami dijual di luar negeri. Jadi, saya memutuskan untuk mendirikan Sony Corporation of America.

Sejak 1960, di Ginza, Tokyo, kami membuka ru­ang pamer. Para calon pembeli boleh mencoba pro­duk kami tanpa takut ditawari untuk membeli. Kami memang harus memperkenalkan diri kepada orang-. orang yang mempunyai potensi membeli sebab kami perusahaan baru. Jadi, ketika kami sudah berdiri di New York, kami juga membuka ruang pamers serupa di tempat yang banyak terdapat orang berduit karena produk kami harganya agak tinggi. Kami memilih Fifth Avenue, di bagian yang paling anggun.Agnes davonar.

bersambung

KISAH HIDUP AKIO MORITA : SANG BAPAK PENDIRI SONY CORPORATION (2)

Baca sebelumnya http://lieagneshendra.blog.friendster.com/?p=2693

Ingin Seperti Philips

Sementara MIT1 saya menimbang-nimbang, saya mengunjungi pelbagai pabrik di Eropa seperti Volkswagen, Siemens, dan Mercedes. Kunjungan keJerman mengecilkan hati saya sebab dibandingkan dengan di Jepang, pembangunan di sana berlangsung cepat sekali Jepang di Eropa cuma dikenal sebagai penghasil payung-payungan kertas mini untuk penghias es krim dan produk lain yang kurang berarti. Ah, betapa masih jauhnya kami dan mereka!

Saya juga berkunjung ke Belanda. Alangkah bedanya dengan jerman. WalaupunJerman kalah perang, tahun 1953 itu Volkswagen sudah membuat 700 mobil setiap han. Semua dilakukan dengan mesin. Di Belanda sebaliknya, orang-orang menunggang sepeda dan di mana-mana ada kincir angin tua laksana dalam lukisan. Namun, begitu tiba di Eindhoven saya terpesona. Betapa besarnya perusahaan Philips yang berkedudukan di kota kecil itu, di negeri kecil yang masih mengandalkan pertanian dan peternakan. Saya memandang patung Dr. Philips di muka stasiun dan teringat patung buyut Ayah di Kosugaya. Saya memikirkan Dr. Philips yang lahir di kota sekecil itu, tetapi mampu membangun pabnk raksasa yang terkenal teknologi tingginya dan bereputasi baik di seluruh dunia.

“Mungkin saya juga bisa berbuat seperti dia di Jepang,” pikir saya. Di Belanda itulah ketabahan saya kembali lagi. Seperti dalam rnimpi, saya menulis surat kepada Ibuka, “Jika Philips dapat melakukannya, mungkin kita pun dapat.”

Tiga puluh tahun kemudian, Philips dan Sony, dua perusahaan yang berasal dan dua negara kecil bekerja sama dalam bidang standar desain dan hal- hal lain yang banyak mengantar pada kemajuan teknologi.

Di Jepang kami melakukan riset tanpa kenal lelah. Salah seorang ahli riset kami, Leo Esaki, tahun 1973 mendapat Hadiah Nobel untuk fisika berkat penemuannya dalam penyempurnaan transistor.

Tokyo Tsushin Kabushjj Kaiha bukanlah nama yang baik untuk dipakai dalam suatu produk Di Jepang pun kami menyingkatnya menjadi Tetsuko, tetapi di AS tidak ada yang bisa menyebutnya, apalagi nama panjangnya. Terjemahan Inggrisnya janggal, Tokyo Telecommunication Engineering Company. Pernah kami memakai nama Tokyo Teletech, tetapi ternyata sudah ada perusahaan AS yang bernama Teletech.

Kami ingin nama yang mudah diingat, mudah diucapkan dan pengucapannya sama di seluruh dunia. Pada masa itu, pemuda-pemuda cemerlang dijepang sering dijuluki sonny. Dan kamus kami tahu bahwa sonus adalah ‘suara’ dalam bahasa Latin. Bagus juga nama itu untuk dipilih. Tetapi celakanya sonny bila diucapkan oleh lidah Jepang bunyinya sama dengan ‘kehilangan uang’. Bisa celaka kami di Jepang, bila mengeluarkan produk baru dengan nama itu. Kata saya, “Buang saja ‘n’-nya satu.” Demikianlah Sony terpilih menjadi logo produk-produk kami.

Bulan Januari 1958 kami resmi berganti nama menjadi Sony Corporation. Kami mencatatkan nama kami di 170 negara supaya tidak dipakai orang lain.

‘Lamaran’ Bulova Ditolak

Setahun sebelumnya kami memasarkan radio transistor yang bisa dikantungi, pocketable. Sebetulnya, benda itu agak terlalu besar untuk saku biasa, tetapi gagasan pocketable rasanya bagus sekali sehina para penjual dilengkapi dengan saku kemeja yang agak lebih besar dan normal supaya bisa mengantunginya.

Sebetulnya kami kecewa, ketika beberapa bulan sebelum kami memasarkanradio transistor kami yang pertama, ternyata ada perusahaan AS yang mendahului. Namun, rupanya mereka salah tafsir. Karena mengira pasaran kurang menguntungkan, mereka berhenti. Sebaliknya, kami menciptakan pasar dan kami berhasil.

Tahun 1955, ketika saya membawa transistor kecil kami yang harganya AS $ 30 kurang lima sen itu ke New York, para pengecer AS tidak terkesan. “Buat apa radio sekecil itu? Semua orang ingin yang serba besar di AS, sebab rumah kami besar-besar,” kata mereka.

“Memang betul di sini rumah besar-besar,” jawab saya. Tetapi saya juga melihat banyak stasiun radio. Setiap anggota keluarga di AS bisa memiliki radio kecil untuk didengar di kamar masing-masing supaya tidak saling mengganggu.

Banyak juga yang melihat logika alasan saya itu sehingga Bulova umpamanya, ingin mengambil 100.000 unit. Saya tercengang, sebab itu sama dengan beberapa kali lipat modal perusahaan kami seluruhnya. Namun, ternyata mereka ingin radio itu diberi merk Bulova. Saya menolak.

Saya sudah bersumpah tidak mau membuat peralatan orisinal untuk perusahaan lain. Kami ingin mengharumkan nama produk kami dengan mutu produk kami sendiri. Orang-orang Bulova menganggap saya sinting.

“Merek dagang kami sudah terkenal. Untuk membuat nama Bulova terkenal kami membutuhkan waktu 50 tahun. Merek dagang Anda belum dikenal orang. Mengapa Anda menolak untuk memanfaatkannya?” tanya mereka meremehkan.

“Lima puluh tahun yang lalu,” kata saya, “mungkin Anda sama tidak terkenalnya dengan kami sekarang. Kini kami sedang melakukan langkah pertama dan perjalanan ke 50 tahun mendatang. Saya yakin 50 tahun lagi merek dagang kami akan sama ter­masyhurnya dengan merek dagang Anda sekarang.”

Walaupun disesali rekan-rekan, saya tidak per­nah menyesali keputusan itu.

Sahamnva Disuruh Jual

Masa itu perusahaan kami memang masih kecil dan pasar di Jepang masih cukup besar dan aktif, tetapi ada konsensus di antara sesama industrialis Jepang: perusahaan Jepang mesti mengekspor produk mereka supaya bisa bertahan hidup. Lagi pula untuk tumbuh seperti yang dicita-citakan oleh Ibuka dan saya, kami memerlukan pasar yang ka­ya, negara yang kaya di luar ne­geri.

Walaupun Jepang mulai makmur, masa itu kami tetap sulit memper­oleh dana. Ber­untung bagi ka­mi, dewan pe­nasihat kami dipercaya oleh investor. Me­reka itu antara lain terdiri atas Junshiro Mandai (mantan ketua Bank Mitsui), mertua Ibuka (mantan menteri), mantan bos Ibuka yang pertama, dan ayah saya.

Salah seorang yang dianggap sebagai calon in­vestor oleh para penasihat kami ialah Taizo Ishizaka yang kemudian mengepalai Keidanren, yaitu federasi organisasi-organisasi ekonomi di Jepang. Ibuka dan saya mendatanginya untuk membujuknya agar mau menanamkan modal di perusahaan kami. Namun, beberapa bulan kemudian Mitsui Bank memintanya memimpin Tokyo Shibaura Electric Company (Toshiba) yang sedang mengalami kesulitan keuangan dan tenaga kerja. Hukum anti-trust sudah berlaku saat itu sehingga Ishikaza merasa ia tidak boleh memiliki sa­ham di Sony yang memproduksi jenis barang-barang yang sama dengan Toshiba, walaupun pada masa itu Sony masih kecil dan Toshiba sudah menjadi raksasa. la menyerahkan sahamnya kepada putrinya, Tomoko.

Lama setelah kami mengeluarkan radio transis­tor kecil, Toshiba menghasilkan pula barang yang sama. (Kami sering disebut kelinci percobaan dalam industri elektronika. Soalnya, kami selalu menjadi pelopor. Para saingan kami, termasuk yang besar-be­sar, akan menunggu dulu. Kalau kami berhasil di pasaran, barn mereka mengeluarkan produk serupa). Saat itu, Ishizaka meminta putrinya menjual solo saham-saham Sony sebab tidak ada perusahaan kecil yang bisa bersaing dengan perusahaan raksasa. Seba­gai putri yang berbakti, Tomoko menjual saham Sony miliknya dan kehilangan kesempatan menjadi kaya dari saham-saham itu.

Sebelum perang, di luar negeri barang-barang bertanda Made in Japan dikenal sebagai barang yang rendah mutunya. Kami memilih nama Sony bukan karena kami ingin menyembunyikan identitas nasio­nal kami sebab menurut peraturan internasional, negeri asal suatu produk harus disebutkan. Namun, kami tidak mau orang sudah menolak produk kami sebelum memberi kami kesempatan untuk menun­jukkan mutunya. Jadi, Made in Japan-nya kami tulis sekecil mungkin. Pernah bea cukai AS menganggapnya terlalu kecil pada suatu produk sehingga harus kami perbesar.

Di masa lalu, sebagai pelopor kami bisa menik­mati pasar sendirian selalna jangka waktu yang cukup panjang, umpamanya saja setahun atau lebih. Namun, kemudian perusahaan lain menganggap bahwa pro­duk barn kami pasti sukses sehingga mereka segera ikut mengeluarkan produk yang serupa. Akibatnya sebagai pelopor kini kami paling-paling cuma bisa menikmati pasar tanpa saingan selama tiga bulan saja. Sebetulnya baik untuk cilia kami, namun berarti kami hams selalu menemukan yang baru. Kami menyisih­kan 6% dan kadang-kadang 10% basil penjualan un­tuk penelitian, supaya selalu bisa menyuguhkan yang serba baru.

Kami bukan akan menanyakan produk apa yang disukai konsumen,melainkan berusaha mengajak konsumen menyukai produk baru kami. Soalnya, ma­syarakat tidak tahu apa yang bisa kami buat, tetapi kami tahu. Jadi kami bukan menjalankan riset pasar secara besar-besaran, melainkan kami mencoba me­nyempurnakan suatu produk, menyempurnakan ke­gunaannya, dan menciptakan pasar dengan mendidik dan berkomunikasi dengan masyarakat.

Promosi Walkman di Ginza

Anda pasti tahu walhman. Cerita kelahirannya begini: Suatu hari Ibuka masuk ke kantor saya membawa tape recorder stereo dan memakai headphones. “Saya senang mendengar musik, tetapi tidak mau mengganggu orang lain,” katanya. “Namun, membawa-bawa alat seperti ini berat.”

Saya kira orang seperti Ibuka banyak, di Tokyo maupun di New York. Jadi, saya meminta para ahli kami menciptakan alat pemutar kaset stereo kecil dengan headphones yang ringan. Alat perekam dan pe­ngeras suara boleh dibuang. Mereka enggan sekali mengerjakannya. Tidak ada yang yakin barang itu akan laku. Siapa yang mau membeli alat yang tidak bisa dipakai merekam?

“Jutaan orang mau membeli alat pemutar kaset stereo untuk mobilnya, padahal itu pun tidak bisa dipakai merekam,” kata saya. Mereka terpaksa juga mengerjakan permintaan saya. Saya meminta pula agar alat itu terjangkau oleh uang saku orang-orang muda.

Ternyata, harganya tidak bisa semurah yang saya minta. Saya putuskan juga untuk menjualnya dengan murah, dengan perhitungan bahwa kalau produksi kami naik, harga bisa ditekan. Untuk merangsang pembeli, kami mengupah orang-orang muda untuk berjalan hilir mudik di Ginza pada hari Minggu sambil mendengarkan walkman. Segera kami kewalahan me­layani permintaan. Padahal, saya yakin kalau kami mengadakan riset pasar dulu, walkman Sony akan ditolak.

Banyak teman saya dari dunia musik seperti Her­bert von Karayan, Zubin Mehta, Lorin Laazel, serta Virtuoso Isaac Stern menghubungi saya gara-gara walkman.

Berkat mengembangkan seri walkman, kami pun mampu meminiaturkan dan memperbaiki mutu head­phones kami yang standar dan memperkenalkan pu­luhan model baru. Demikianlah kami menjadi salah satu produsen headphones terbanyak di dunia. Kami menguasai hampir 50% pasar di Jepang.

Showroom untuk Mencoba

Pertengahan tahun 1950-an saya bukan satu-satunya orang Jepang yang melakukan bisnis di AS. Namun, bedanya kebanyakan mempercayakan diri pada perusahaan dagang raksasa Jepang yang mengerti pasaran di AS dan sudah mempunyai kantor sendiri di sana. Orang-orang AS pada masa itu pun cuma mau menerima barang-barang Jepang lewat perusahaan da­gang raksasa yang sudah berpengalaman. Distribusi yang memakai cara itu tentu bertele-tele.

Saya memerlukan cara distribusi yang lain su­paya bisa mengkomunikasikan nilai dan kegunaan produk kami yang memakai teknologi tinggi itu kepada konsumen.

Untung, saya tidak mempunyai bos yang meng­awasi terus dari belakang sehingga apa

pun yang saya putuskan tidak ada yang melarang.

Mujurnya, saya diperke­nalkan oleh ShidoYamada kepada Adolph Gross. Gross itu memiliki perusahaan bernama Agrod Company. Ia mau menjadi perwakilan kami. Hubungan saya dengan Gross berkembang bukan hanya dalam bisnis, tetapi juga secara pribadi. Ia salah seorang guru yang saya kenal di AS, selain Yoshinomu “Doc” Kagawa (warga negara AS yang datang ke Jepang sebagai pengacara tentara AS dalam bidang ekonomi), dan Edward Rosniny, pengacara Gross yang kemudian juga menjadi penga­cara saya. Saya juga belajar akunting dan hukum da­gang dari Irving Sagor, akuntan Gross.

Memiliki guru seperti “Doc” Kagawa tidak ter­kira manfaatnya. Kebanyakan orang bisnis Jepang Yang berkunjung ke AS di masa itu belajar tentang AS dari teman-teman Jepang lagi yang sudah lebih dulu berada di sana. Akibatnya, setelah bertahun­-tahun tinggal di AS, mereka tetap saja menjadi orang asing di sana sebab cuma berkumpul-kumpul dengan orang Jepang lain dan seperti orang buta membimbing orang buta lain. Saya belajar tentang orang-orang AS dari penduduk AS sendiri.

Sebagai excecutive vice-president dari perusahaan saya di Tokyo, saya harus melakukan banyak hal, te­tapi bertugas pula menjual produk kami. Tentu saja saya tidak mungkin mengerjakannya sendirian. Atas saran Gross, saya menunjuk Delmonico International sebagai distributor. Ternyata, kemudian Delmonico lebih tertarik pada harga murah daripada mutu yang baik. Jelas kami tidak berminat menghasilkan benda tidak bermutu demi uang. Jadi, kami memutuskan hubungan dengan Delmonico. Berkat Ed Rosniny, kami bisa menghindari pertarungan yang berlarut-la­rut di pengadilan, namun kami harus banyak menge­luarkan uang.

Saya sadar bahwa masa depan saya dan perusa­haan kami banyak tergantung dari AS dan bisnis internasional lain. Saat itu tahun 1960, lebih dari se­tengah produk kami dijual di luar negeri. Jadi, saya memutuskan untuk mendirikan Sony Corporation of America.

Sejak 1960, di Ginza, Tokyo, kami membuka ru­ang pamer. Para calon pembeli boleh mencoba pro­duk kami tanpa takut ditawari untuk membeli. Kami memang harus memperkenalkan diri kepada orang-. orang yang mempunyai potensi membeli sebab kami perusahaan baru. Jadi, ketika kami sudah berdiri di New York, kami juga membuka ruang pamers serupa di tempat yang banyak terdapat orang berduit karena produk kami harganya agak tinggi. Kami memilih Fifth Avenue, di bagian yang paling anggun.Agnes davonar.

bersambung

146010bc9bli