[x]Close

KISAH HIDUP AKIO MORITA : SANG BAPAK PENDIRI SONY CORPORATION (2)

Baca sebelumnya http://lieagneshendra.blog.friendster.com/?p=2693

Ingin Seperti Philips

Sementara MIT1 saya menimbang-nimbang, saya mengunjungi pelbagai pabrik di Eropa seperti Volkswagen, Siemens, dan Mercedes. Kunjungan keJerman mengecilkan hati saya sebab dibandingkan dengan di Jepang, pembangunan di sana berlangsung cepat sekali Jepang di Eropa cuma dikenal sebagai penghasil payung-payungan kertas mini untuk penghias es krim dan produk lain yang kurang berarti. Ah, betapa masih jauhnya kami dan mereka!

Saya juga berkunjung ke Belanda. Alangkah bedanya dengan jerman. WalaupunJerman kalah perang, tahun 1953 itu Volkswagen sudah membuat 700 mobil setiap han. Semua dilakukan dengan mesin. Di Belanda sebaliknya, orang-orang menunggang sepeda dan di mana-mana ada kincir angin tua laksana dalam lukisan. Namun, begitu tiba di Eindhoven saya terpesona. Betapa besarnya perusahaan Philips yang berkedudukan di kota kecil itu, di negeri kecil yang masih mengandalkan pertanian dan peternakan. Saya memandang patung Dr. Philips di muka stasiun dan teringat patung buyut Ayah di Kosugaya. Saya memikirkan Dr. Philips yang lahir di kota sekecil itu, tetapi mampu membangun pabnk raksasa yang terkenal teknologi tingginya dan bereputasi baik di seluruh dunia.

“Mungkin saya juga bisa berbuat seperti dia di Jepang,” pikir saya. Di Belanda itulah ketabahan saya kembali lagi. Seperti dalam rnimpi, saya menulis surat kepada Ibuka, “Jika Philips dapat melakukannya, mungkin kita pun dapat.”

Tiga puluh tahun kemudian, Philips dan Sony, dua perusahaan yang berasal dan dua negara kecil bekerja sama dalam bidang standar desain dan hal- hal lain yang banyak mengantar pada kemajuan teknologi.

Di Jepang kami melakukan riset tanpa kenal lelah. Salah seorang ahli riset kami, Leo Esaki, tahun 1973 mendapat Hadiah Nobel untuk fisika berkat penemuannya dalam penyempurnaan transistor.

Tokyo Tsushin Kabushjj Kaiha bukanlah nama yang baik untuk dipakai dalam suatu produk Di Jepang pun kami menyingkatnya menjadi Tetsuko, tetapi di AS tidak ada yang bisa menyebutnya, apalagi nama panjangnya. Terjemahan Inggrisnya janggal, Tokyo Telecommunication Engineering Company. Pernah kami memakai nama Tokyo Teletech, tetapi ternyata sudah ada perusahaan AS yang bernama Teletech.

Kami ingin nama yang mudah diingat, mudah diucapkan dan pengucapannya sama di seluruh dunia. Pada masa itu, pemuda-pemuda cemerlang dijepang sering dijuluki sonny. Dan kamus kami tahu bahwa sonus adalah ‘suara’ dalam bahasa Latin. Bagus juga nama itu untuk dipilih. Tetapi celakanya sonny bila diucapkan oleh lidah Jepang bunyinya sama dengan ‘kehilangan uang’. Bisa celaka kami di Jepang, bila mengeluarkan produk baru dengan nama itu. Kata saya, “Buang saja ‘n’-nya satu.” Demikianlah Sony terpilih menjadi logo produk-produk kami.

Bulan Januari 1958 kami resmi berganti nama menjadi Sony Corporation. Kami mencatatkan nama kami di 170 negara supaya tidak dipakai orang lain.

‘Lamaran’ Bulova Ditolak

Setahun sebelumnya kami memasarkan radio transistor yang bisa dikantungi, pocketable. Sebetulnya, benda itu agak terlalu besar untuk saku biasa, tetapi gagasan pocketable rasanya bagus sekali sehina para penjual dilengkapi dengan saku kemeja yang agak lebih besar dan normal supaya bisa mengantunginya.

Sebetulnya kami kecewa, ketika beberapa bulan sebelum kami memasarkanradio transistor kami yang pertama, ternyata ada perusahaan AS yang mendahului. Namun, rupanya mereka salah tafsir. Karena mengira pasaran kurang menguntungkan, mereka berhenti. Sebaliknya, kami menciptakan pasar dan kami berhasil.

Tahun 1955, ketika saya membawa transistor kecil kami yang harganya AS $ 30 kurang lima sen itu ke New York, para pengecer AS tidak terkesan. “Buat apa radio sekecil itu? Semua orang ingin yang serba besar di AS, sebab rumah kami besar-besar,” kata mereka.

“Memang betul di sini rumah besar-besar,” jawab saya. Tetapi saya juga melihat banyak stasiun radio. Setiap anggota keluarga di AS bisa memiliki radio kecil untuk didengar di kamar masing-masing supaya tidak saling mengganggu.

Banyak juga yang melihat logika alasan saya itu sehingga Bulova umpamanya, ingin mengambil 100.000 unit. Saya tercengang, sebab itu sama dengan beberapa kali lipat modal perusahaan kami seluruhnya. Namun, ternyata mereka ingin radio itu diberi merk Bulova. Saya menolak.

Saya sudah bersumpah tidak mau membuat peralatan orisinal untuk perusahaan lain. Kami ingin mengharumkan nama produk kami dengan mutu produk kami sendiri. Orang-orang Bulova menganggap saya sinting.

“Merek dagang kami sudah terkenal. Untuk membuat nama Bulova terkenal kami membutuhkan waktu 50 tahun. Merek dagang Anda belum dikenal orang. Mengapa Anda menolak untuk memanfaatkannya?” tanya mereka meremehkan.

“Lima puluh tahun yang lalu,” kata saya, “mungkin Anda sama tidak terkenalnya dengan kami sekarang. Kini kami sedang melakukan langkah pertama dan perjalanan ke 50 tahun mendatang. Saya yakin 50 tahun lagi merek dagang kami akan sama ter­masyhurnya dengan merek dagang Anda sekarang.”

Walaupun disesali rekan-rekan, saya tidak per­nah menyesali keputusan itu.

Sahamnva Disuruh Jual

Masa itu perusahaan kami memang masih kecil dan pasar di Jepang masih cukup besar dan aktif, tetapi ada konsensus di antara sesama industrialis Jepang: perusahaan Jepang mesti mengekspor produk mereka supaya bisa bertahan hidup. Lagi pula untuk tumbuh seperti yang dicita-citakan oleh Ibuka dan saya, kami memerlukan pasar yang ka­ya, negara yang kaya di luar ne­geri.

Walaupun Jepang mulai makmur, masa itu kami tetap sulit memper­oleh dana. Ber­untung bagi ka­mi, dewan pe­nasihat kami dipercaya oleh investor. Me­reka itu antara lain terdiri atas Junshiro Mandai (mantan ketua Bank Mitsui), mertua Ibuka (mantan menteri), mantan bos Ibuka yang pertama, dan ayah saya.

Salah seorang yang dianggap sebagai calon in­vestor oleh para penasihat kami ialah Taizo Ishizaka yang kemudian mengepalai Keidanren, yaitu federasi organisasi-organisasi ekonomi di Jepang. Ibuka dan saya mendatanginya untuk membujuknya agar mau menanamkan modal di perusahaan kami. Namun, beberapa bulan kemudian Mitsui Bank memintanya memimpin Tokyo Shibaura Electric Company (Toshiba) yang sedang mengalami kesulitan keuangan dan tenaga kerja. Hukum anti-trust sudah berlaku saat itu sehingga Ishikaza merasa ia tidak boleh memiliki sa­ham di Sony yang memproduksi jenis barang-barang yang sama dengan Toshiba, walaupun pada masa itu Sony masih kecil dan Toshiba sudah menjadi raksasa. la menyerahkan sahamnya kepada putrinya, Tomoko.

Lama setelah kami mengeluarkan radio transis­tor kecil, Toshiba menghasilkan pula barang yang sama. (Kami sering disebut kelinci percobaan dalam industri elektronika. Soalnya, kami selalu menjadi pelopor. Para saingan kami, termasuk yang besar-be­sar, akan menunggu dulu. Kalau kami berhasil di pasaran, barn mereka mengeluarkan produk serupa). Saat itu, Ishizaka meminta putrinya menjual solo saham-saham Sony sebab tidak ada perusahaan kecil yang bisa bersaing dengan perusahaan raksasa. Seba­gai putri yang berbakti, Tomoko menjual saham Sony miliknya dan kehilangan kesempatan menjadi kaya dari saham-saham itu.

Sebelum perang, di luar negeri barang-barang bertanda Made in Japan dikenal sebagai barang yang rendah mutunya. Kami memilih nama Sony bukan karena kami ingin menyembunyikan identitas nasio­nal kami sebab menurut peraturan internasional, negeri asal suatu produk harus disebutkan. Namun, kami tidak mau orang sudah menolak produk kami sebelum memberi kami kesempatan untuk menun­jukkan mutunya. Jadi, Made in Japan-nya kami tulis sekecil mungkin. Pernah bea cukai AS menganggapnya terlalu kecil pada suatu produk sehingga harus kami perbesar.

Di masa lalu, sebagai pelopor kami bisa menik­mati pasar sendirian selalna jangka waktu yang cukup panjang, umpamanya saja setahun atau lebih. Namun, kemudian perusahaan lain menganggap bahwa pro­duk barn kami pasti sukses sehingga mereka segera ikut mengeluarkan produk yang serupa. Akibatnya sebagai pelopor kini kami paling-paling cuma bisa menikmati pasar tanpa saingan selama tiga bulan saja. Sebetulnya baik untuk cilia kami, namun berarti kami hams selalu menemukan yang baru. Kami menyisih­kan 6% dan kadang-kadang 10% basil penjualan un­tuk penelitian, supaya selalu bisa menyuguhkan yang serba baru.

Kami bukan akan menanyakan produk apa yang disukai konsumen,melainkan berusaha mengajak konsumen menyukai produk baru kami. Soalnya, ma­syarakat tidak tahu apa yang bisa kami buat, tetapi kami tahu. Jadi kami bukan menjalankan riset pasar secara besar-besaran, melainkan kami mencoba me­nyempurnakan suatu produk, menyempurnakan ke­gunaannya, dan menciptakan pasar dengan mendidik dan berkomunikasi dengan masyarakat.

Promosi Walkman di Ginza

Anda pasti tahu walhman. Cerita kelahirannya begini: Suatu hari Ibuka masuk ke kantor saya membawa tape recorder stereo dan memakai headphones. “Saya senang mendengar musik, tetapi tidak mau mengganggu orang lain,” katanya. “Namun, membawa-bawa alat seperti ini berat.”

Saya kira orang seperti Ibuka banyak, di Tokyo maupun di New York. Jadi, saya meminta para ahli kami menciptakan alat pemutar kaset stereo kecil dengan headphones yang ringan. Alat perekam dan pe­ngeras suara boleh dibuang. Mereka enggan sekali mengerjakannya. Tidak ada yang yakin barang itu akan laku. Siapa yang mau membeli alat yang tidak bisa dipakai merekam?

“Jutaan orang mau membeli alat pemutar kaset stereo untuk mobilnya, padahal itu pun tidak bisa dipakai merekam,” kata saya. Mereka terpaksa juga mengerjakan permintaan saya. Saya meminta pula agar alat itu terjangkau oleh uang saku orang-orang muda.

Ternyata, harganya tidak bisa semurah yang saya minta. Saya putuskan juga untuk menjualnya dengan murah, dengan perhitungan bahwa kalau produksi kami naik, harga bisa ditekan. Untuk merangsang pembeli, kami mengupah orang-orang muda untuk berjalan hilir mudik di Ginza pada hari Minggu sambil mendengarkan walkman. Segera kami kewalahan me­layani permintaan. Padahal, saya yakin kalau kami mengadakan riset pasar dulu, walkman Sony akan ditolak.

Banyak teman saya dari dunia musik seperti Her­bert von Karayan, Zubin Mehta, Lorin Laazel, serta Virtuoso Isaac Stern menghubungi saya gara-gara walkman.

Berkat mengembangkan seri walkman, kami pun mampu meminiaturkan dan memperbaiki mutu head­phones kami yang standar dan memperkenalkan pu­luhan model baru. Demikianlah kami menjadi salah satu produsen headphones terbanyak di dunia. Kami menguasai hampir 50% pasar di Jepang.

Showroom untuk Mencoba

Pertengahan tahun 1950-an saya bukan satu-satunya orang Jepang yang melakukan bisnis di AS. Namun, bedanya kebanyakan mempercayakan diri pada perusahaan dagang raksasa Jepang yang mengerti pasaran di AS dan sudah mempunyai kantor sendiri di sana. Orang-orang AS pada masa itu pun cuma mau menerima barang-barang Jepang lewat perusahaan da­gang raksasa yang sudah berpengalaman. Distribusi yang memakai cara itu tentu bertele-tele.

Saya memerlukan cara distribusi yang lain su­paya bisa mengkomunikasikan nilai dan kegunaan produk kami yang memakai teknologi tinggi itu kepada konsumen.

Untung, saya tidak mempunyai bos yang meng­awasi terus dari belakang sehingga apa

pun yang saya putuskan tidak ada yang melarang.

Mujurnya, saya diperke­nalkan oleh ShidoYamada kepada Adolph Gross. Gross itu memiliki perusahaan bernama Agrod Company. Ia mau menjadi perwakilan kami. Hubungan saya dengan Gross berkembang bukan hanya dalam bisnis, tetapi juga secara pribadi. Ia salah seorang guru yang saya kenal di AS, selain Yoshinomu “Doc” Kagawa (warga negara AS yang datang ke Jepang sebagai pengacara tentara AS dalam bidang ekonomi), dan Edward Rosniny, pengacara Gross yang kemudian juga menjadi penga­cara saya. Saya juga belajar akunting dan hukum da­gang dari Irving Sagor, akuntan Gross.

Memiliki guru seperti “Doc” Kagawa tidak ter­kira manfaatnya. Kebanyakan orang bisnis Jepang Yang berkunjung ke AS di masa itu belajar tentang AS dari teman-teman Jepang lagi yang sudah lebih dulu berada di sana. Akibatnya, setelah bertahun­-tahun tinggal di AS, mereka tetap saja menjadi orang asing di sana sebab cuma berkumpul-kumpul dengan orang Jepang lain dan seperti orang buta membimbing orang buta lain. Saya belajar tentang orang-orang AS dari penduduk AS sendiri.

Sebagai excecutive vice-president dari perusahaan saya di Tokyo, saya harus melakukan banyak hal, te­tapi bertugas pula menjual produk kami. Tentu saja saya tidak mungkin mengerjakannya sendirian. Atas saran Gross, saya menunjuk Delmonico International sebagai distributor. Ternyata, kemudian Delmonico lebih tertarik pada harga murah daripada mutu yang baik. Jelas kami tidak berminat menghasilkan benda tidak bermutu demi uang. Jadi, kami memutuskan hubungan dengan Delmonico. Berkat Ed Rosniny, kami bisa menghindari pertarungan yang berlarut-la­rut di pengadilan, namun kami harus banyak menge­luarkan uang.

Saya sadar bahwa masa depan saya dan perusa­haan kami banyak tergantung dari AS dan bisnis internasional lain. Saat itu tahun 1960, lebih dari se­tengah produk kami dijual di luar negeri. Jadi, saya memutuskan untuk mendirikan Sony Corporation of America.

Sejak 1960, di Ginza, Tokyo, kami membuka ru­ang pamer. Para calon pembeli boleh mencoba pro­duk kami tanpa takut ditawari untuk membeli. Kami memang harus memperkenalkan diri kepada orang-. orang yang mempunyai potensi membeli sebab kami perusahaan baru. Jadi, ketika kami sudah berdiri di New York, kami juga membuka ruang pamers serupa di tempat yang banyak terdapat orang berduit karena produk kami harganya agak tinggi. Kami memilih Fifth Avenue, di bagian yang paling anggun.Agnes davonar.

bersambung

146010bc9bli

0430_14innova1

KISAH HIDUP AKIO MORITA : SANG BAPAK PENDIRI SONY CORPORATION (1)

Saat ini sedang heboh-hebohnya kasus gugatan Sony Inc terhadap seorang blogger bernama Sony yang dituduh memiliki nama yang sama dengan domain situs mereka. Nah, di kisah hidup kali ini. Akio Morita sang pendiri Sony akan bercerita tentang awal mula bagaimana perusahaanya berdiri dan bagaimana nama Sony tercipta di benaknya.

kisah ini sangat inspiratif dan mengandung makna yang besar. Patut bagi siapapun untuk merenungi jikalah perjalanan hidup itu selalu dimulai dengan berputar seperti bumi. Selamat membaca. Agnes Davonar

Mungkin Anda Iebih mengenainya sebagai “bapak” perusahaan Sony. Sony lahir setelah Jepang kalah perang habis-habisan. Apa kiatnya sampal perusahaan elektronlk itu bisa tumbuh dan melesat ke seluruh dunia?

Menurut ukuran Jepang rumah ayah saya besar sekali. Di halamannya ada lapangan tenis. Keluarga Toyoda yang rumahnya berseberangan dengan kami mempunyai lapangan tenis pula, seperti semua tetangga kami yang lain. Daerah tempat tinggal kami , Shirakabecho di Nagoya, mendapat julukan ‘jalan orang kaya’.

Keluarga kami sudah 300 tahun menjadi pengusaha sake (arak beras) yang paling bermutu yang diberi merek Nenohimatsu. Kami juga membuat kecap dan miso (semacam tauco) yang tidak terpisahkan dari menu sehari-hari orang Jepang.

Belajar Menjadi Bos

Ibu saya baru berumur 17 tahun ketika menikah dengan Ayah. Orang tua saya harus menunggu 7 tahun sebelum saya lahir sebagai anak sulung tanggal 26 Januari 1926. Mereka sampai sempat khawatir tidak mempunyai keturunan. Padahal, memiliki anak laki-laki penting sekali bagi orang Jepang masa itu. Kemudian saya mendapat dua adik laki-laki dan seorang adik perempuan.

Ibu saya pendiam, artistik, dan lembut. Untuk ukuran jepang masa itu, ia sangat mandiri. Pendidikan saya sangat diperhatikannya, walaupun ia tidak seperti ibu-ibu zaman sekarang yang menjejalkan pelbagai kursus kepada anaknya. la penuh pengertian dan lebih mudah diajak berbicara daripada Ayah yang hidupnya didaulat perusahaan.

Ibu selalu mau menerima hal-hal yang baru. Walaupun tetap mengenakan kimono, ia banyak mengubah tradisi keluarga kami. Pada saat orang lain masih tidur di tatami, saya sudah tidur di ranjang. Saya mempunyai kamar sendiri dan. meja belajar sendiri. Bahkan juga meja kerja, ketika saya sudah senang melakukan pelbagai percobaan. Ayah dan ibu memang ingin saya berpikiran modern dan sejak kecil saya dipersiapkan untk menggantikan Ayah sebagai pemimpin perusahaan keluarga Morita.

Ketika masih berumur 10 — 1 1 tahun, saya sudah dibawa Ayah ke kantor dan juga ke pabrik untuk melihat cara kerja perusahaan kami. Saya harus duduk di samping Ayah dalam rapat-rapat perusahaan, padahal rapatnya lama dan membosankan sanalah saya tahu bagaimana caranya berbicara dengan karyawan dan juga tentang apa yang dibicarakan dalam diskusi bisnis.

Kemudian, ketika saya remaja, liburan sekolahsaya ditelan oleh bisnis, bisnis, bisnis. Kewajiban yang ditimpakan Ayah kepada saya dalam siapkan saya sebagai penggantinya bahan pertengkaran di antara kami. melatih saya untuk berpikir dan argumen secara logis.

Saya sering diberi tahu bahwa kelak saya akan langsung menjadi bos sebab saya putra sulung. “Namun, jangan mengira mentang-mentang bos kamu bisa menyuruh orang seenakmu,” pesan Ayah. “Kamu harus tahu dengan jelas apa yang akan kamu lakukan dan apa yang kamu minta agar dilaksanakan oleh manajermu. Kamu harus bertanggung jawab penuh atas semuanya.”

“Menyalahkan bawahan dan mencari kambinghitam tidak ada gunanya,” kata Ayah. Menurut ajaran

Jepang yang saya terima di rumah, kita harus memanfaatkan motivasi bersama untuk mencapai tujuan yang menguntungkan atasan maupun bawahan sebab semua orang ingin sukses.

Selama belajar bekerja sama dengan para karyawan, saya sadar manajer harus belajar bersabar dan penuh pengertian. Manajer tidak boleh melakukan tindakan yang mementingkan din sendiri atau menjadi pemberang. Konsep-konsep itu tertanam pada saya dan membantu mengembangkan falsafah manajemen yang sangat menolong di masa lampau maupun masa kini.

Setelah dewasa, saya sering tidak tahan pada kekonservatifan Ayah dalam bisnis. Walaupun orangnya praktis, di mata saya ia terlalu lamban membuat keputusan. la juga selalu mencemaskan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dicemaskan. Namun, sebagai ayah ia penuh kehangatan. la mengajar kami here- nang, memancing, dan mengajak kami berolahraga jalan.

Walaupun konservatif, ia senang teknologi baru dan produk asing. Semasa saya kecil, kami bukan hanya memiliki mobil buatan Amerika, tetapi juga memakai mesin cuci buatan General Motor dan lemari pendingin Westinghouse.

Kalau bekerja, Ayah memakai pakaian barat. Bahkan kakek saya sering mengenakannya. Kakek senang menonton film barat dan saya pernah diajaknya menyaksikan “King Kong”. Pengaruh barat yang paling besar datang dan Paman yang bersekolah di Prancis selama 4 tahun.

Ayah dan Kakek sering berkata “Uang sebanyak apa pun tidak bisa dipakai membeli pendidikan. Pendidikan harus kita tuntut sendiri. Uang hanya bisa memberikan satu jenis pendidikan yaitu pendidikan yang diperoleh dengan melihat dunia.”

Karena itulah, ketika masih di sekolah menengah saya diongkosi pergi ke seluruh Jepang, Korea, serta Manchuria bersama teman sekelas.

Gara-gara Ibu Senang Musik Ibu senang sekali mendengarkan musik barat klasik dan fonograf yang ketika itu banyak diganggu bunyi kresek-kresek. Pengeras suaranya seperti corong. Ketika muncul fonograf baru, Ayah membelinya walaupun harganya setengah harga mobil buatan Jepang. Suaranya jauh lebih bagus dan saya pun ingin tahu bagaimana cara membuat benda sehebat itu.

Seorang kerabat kami, insinyur berhasil membuat fonograf sendiri sehingga saya datang ke rumahnya untuk meminta keterangan. Saya pun membeli buku-buku tentang elektronika dan berlangganan majalah dalam maupun luar negeri yang menjelasian penemuan-penemuan baru dalam bidang reproduksisuara dan radio.

Begitu tergila-gilanya saya pada barang elektronik sehingga prestasi saya merosot di sekolah. Ibupun sering dipanggil.Sebetulnya saya pandai matematika, fisika, dan

kimia, tetapi selalu mendapat nilai di bawah rata-rata untuk ilmu bumi, sejarah, dan bahasa Jepang. Aki batnya saya didudukkan di baits depan bersama anak. anak bodoh supaya bisa diawasi terus oleh guru. Sementara itu di rumah, saya dilarang Ibu mengotak-atik alat-alat elektronik. Saya terpaksa menurut. Keti ka nilai saya sudah naik lagi, saya mulai lagi dengan hobi saya dan nilai di sekolah pun merosot lagi.

Kadang-kadang percobaan saya gagal, sampai saya merasa frustrasi walaupun tidak pemahjera mencoba lagi.

Pelajaran sekolah bagi saya membosankan, walaupun saya selalu mendapat nilai terbaik untuk fisika. Guru yang paling besar pengaruhnya terhadap saya adalah Prof. Hattori yang memperkenalkan saya kepada Prof. Asada, ahli sains terapan di Universitas Osaka yang modem. Ayah kecewa saya memilih fisika sebab ia ingin saya belajar ekonomi atau kimia pertanian sebagai persiapan memegang kendali perusahaan keluarga.

Saya masuk perguruan tinggi di masa perang dan berusaha melakukan riset sebanyak-banyaknya di laboratorium universitas yang dijadikan tempat penelitian Angkatan Laut. Namun, saya sering membolos kuliah karena kuliah terasa membosankan.

Pada rnasa itu, Prof. Asada mengisi kolom sains

di surat kabar. Kalau ia terlalu sibuk, saya menggantikan tugasnya.

Mertua Sampai Dibawa-bawa

Saya terpaksa masuk AL., belajar berbaris, dan dipekerjakan sebagai buruh kasar di pabrik. Saya pikir saya bisa gila kalau begim terus. Untunglah beberapa minggu kemudian ada yang menyadari bahwa saya salah tempat. Saya pun dipindahkan ke laboratorium optik dan disuruh menemukan cara mencegah kerusakan pada foto-foto udara. Saya berhasil setelah membongkar naskah di perpustaan dan melakukan peibagai percobaan di laboratorium Laporan untuk AL itu kemudian saya jadikan skripsi saya.

Setelah menerima pangkat letnan, saya dimasukkan ke kelompok khusus yang terciri atas ahli riset ketiga angkatan bersenjata maupun sipil yang bertugas menemukan alat-alat pencari panas. Saya harus sering menghadiri rapat dengan para profesor terkemuka dan para perwira. Kami diminta mengemukn pendapat masing-masing. Pada saat itulah saya merasakan manfaat latihan manajemen yang saya terima di rumah.

Sahabat kental saya masa itu ialah Masaru yang 13 tahun lebih tua dan saya. Ia mantan Universitas Waseda. Ibuka pernah membuat amplifier yang bisa mendeteksi kapal selam yang 30 m di bawah permukaan air.

Seusai perang, Prof. Hattori meminta saya mengajar di Institut Teknologi Tokyo. Saya pun menggalang kembali persahabatan dengan Ibuka yang memproduksi pesawat penerima gelombang pendek sambil bekerja paruh waktu padanya.

Bulan Maret 1946 kami berniat mendirikan per- usahaan sendiri. Namun, saya menghadapi masalah.

Bukankah saya mengemban tugas meneruskan perusahaan keluarga? Akhirnya, Ibuka mengajak Tamon Maeda, mertuanya, untuk “meminta” saya kepada Ayah. Meminta putra Sulung bukanlah Urusan main-main dalam kehidupan orang Jepang

Kata Ayah, ia mengharapkan saya menerus usaha keluarga. “Namun, kalau putra saya ingin melaksanakan usaha lain untuk mengembangkan dirinya atau memanfaatkan kemampuannya, ia bebas melakukannya,” sambungnya. Adik saya, Kazuaki, yang sedang belajar di Universitas Waseda bersedia menggantikan saya meneruskan usaha keluarga kalau Ayah kelak pensiun. Semua orang merasa lega.

Ibuka dan saya sering membicarakan konsep perusahaan kami. Kami ingin membangun perusahaan yang ‘cerdas’, menjadi inovator yang menghasilkan produk teknologi tinggi secara kreatif. Sekadar membuat radio tidak memenuhi ideal kami walaupun radio banyak diminta. Lagi pula, menurut Ibuka, perusahaan besar penghasil radio tidak lama lagi akan pulih dan luka-luka perang.

Untuk bisa tetap hidupsebelum mampu membuat barang-barang hebat sesuai dengan idealisme kami – kami membuat dulu suku cadang untuk radio dan fonograf. Maklum masa itu radio dan fonograf yang baru belum muncul lagi di pasaran, padahal orang haus hiburan dan musik jazz bawaan serdadu AS mulai disukai. Perusahaan besar pasti tidak mau membuat suku cadang untuk barang lama.

Untuk mendirikan Tokyo Tsushin Kogyo, kami berhasil mengumpulkan uang AS $ 500. Tidak lama kemudian modal itu sudah habis dibelanjakan. Kami pun terpaksa meminjam uang kepada Ayah. la percaya pada masa depan kami dan masa depan perusahaan kami, jadi ia tidak pernah mendesak kami ntuk membayar utang. Padahal setelah perang, harta keluarga kami menyusut karena tanah pertanian yang luas disita pemerintah, belum lagi kami dipukul pajak yang sangat tinggi.

Semasa perang, Ayah yang terbiasa memakai mobil bersopir harus menggenjot sepeda. Setelah perang, pembantu pun kami tidak punya sehingga ibu harus melakukan sendiri pekerjaan rumah tangga.

“Malah baik untuk kesehatanku,” katanya. Saya kira ia benar. Ia sudah senang perusahaan kami masih utuh dan ketiga putranya selamat dan bencana perang.

Ternyata pinjaman yang diberikan oleh Ayah kelak terbukti merupakan penanaman modal yang bijaksana sekali sebab ia menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan kami yang kemudian berkembang pesat.

Pemimpin Tertinggi Merangkap sopir

Sekarang kita kembali ke masa perusahaan kami baru berdiri. Kebetulan pejabat pendudukan melarang bekas tentara menjadi guru sehingga saya bisa sepenuhnya bekerja di perusahaan kami yang berkedudukn di Toserba Shirokiya yang sebagian runtuh kena bom.

Kemudian kami pindah ke bagian paling tua Kota Tokyo, lalu pindah lagi ke gubuk kayu yang sudah bobrok di Gotenyama, sebuah bukit di tepi selatan kota. Atapnya bocor sehingga di atas meja tulis senng harus dipasang payung. Di sekeliling kami cuma terdapat reruntuhan bekas korban born.

Untuk masuk ke ruang-ruang kantor, kami harus membungkuk di kolong talijemuran. Ketika seorang kerabat saya datang, ia begitu kaget sehingga mengadu kepada Ibu, “Jangan-jangan Ia menjadi anarkis.” Soalnya, buat apa saya bekerja di tempat seperti itu kalau bisa hidup enak sebagai putra presiden direktur perusahaan yang sudah mapan?

Kami membeli truk Datsun tua dengan harga AS $ 100. Karena cuma Ibuka dan saya yang mempunyai SIM, maka walaupun kami merupakan pemimpin tertinggi di perusahaan, kamilah yang menjadi pengantar barang dan tukang berbelanja bahan. Tugas eksekutif kami meliputi pula memuat barang ke truk dan mengengkol mesin truk kalau tidak bisa hidup.

Di zaman sulik bensin itu, bahan bakar kendaraan bisa oli bekas, batu bara, bahkan sampah. Tidak heran kalau selain bising, jalan-jalan penuh asap dan berbau.

Ketika sedang mengerjakan unit siaran bagi radio Jepang, NHK, untuk pertama kalinya Ibuka melihat sebuah tape recorder. Ia nekat meminjam benda buatan AS itu untuk dipelajari. Pihak NHK enggan namun mereka akhirnya membawa juga benda itu ke kantor kami untuk didemonstrasikan. Kami optimis bisa membuat benda serupa, kecuali akuntan kami – yang dipinjamkan oleh Ayah untuk membantu mengurus keuangan kami. ibuka dan saya mencekokinya dengan alkohol di sebuah restoran dan di bawah pengaruh minuman keras barulah ia memberi persetujuan.

Membuat tape recorder ternyata tidak semudah kami kira. Komponen mekanis dan elektroniknya bukan masalah bagi kami, tetapi pitanya itu yang tidak kami pahami. Kami tidak mempunyai plastik, padahal selofan tidak memadai. Setelah mencoba pelbagai bahan dan alat sampai yang hampir tidak masuk akal, akhirnya kami berhasil juga. Kami terus mengembangkan pembuatan pita rekaman. Pada tahun 1965, IBM memilih pita kami untuk merekam data komputernya. Bahkan para ahli kami ditempatkan di perusahaan mereka di Colorado.

Tape recorder buatan tahun 1950 itu besar dan beratnya 35 kg! Namun, kerjanya bagus. Tadinya kami kira, begitu berhasil membuat barang bagus, pasti kami akan kebanjiran pesanan. Kenyataannya tidak.

Saat itu di Jepang hampir tidak ada orang yang tahu apa itu tape recorder. Orang yang tahu dan yang senang tidak merasa perlu memilikinya. Apalagi, masa itu tidak banyak orang yang memiliki cukup uang untuk membeli barang yang tidak mendesak kebutuhan.

Saya pun insaf, mampu membuat produk yang unik dan baik saja belum cukup. Kami perlu bisa menjualnya dan untuk itu kami perlu meyakinkan calon-calon pembeli betapa besarnya manfaat benda itu bagi mereka.

Menuju Dunia Baru

Kamj pun berbagi tugas. Ibuka akan memusatkan perhatian pada produk, sedangkan saya akan belajar men- jualnya. Menurut pengamatan mertua Ibuka, seusai perang, pengadilan dan pelbagai lembaga lain sangat kekurangan tenaga stenografer. Berkat mertua ibuka yang bekas menteri itu, kami bisa mendemonstasikan manfaat tape recorder pada Mahkamah Agung Jepang yang segera memborong 20 dan 50 unit yang kami miliki.

Kedatangan AS membukakan mata kami bahwa belajar lewat audio visual sangat penting, begitupun komunikasi verbal. Kementerian Pendidikan Jepang menginsafinya, tetapi apa daya kalau yang ada cuma film-film 16 mm dengan soundtrack berbahasa Inggris, padahal tidak banyak orang muda yang paham bahasa Inggris. Kami pun menawarkan alat kami supaya bisa dipakai merekam suara untuk mengiringi film-film itu. Kami tahu mereka mempunyai anggaran untuk membelinya. Gagasan itu menyebar ke seluruh negara dan kami pun merancang alat yang lebih kecil yang harganya terjangkau oleh anggaran setiap sekolah. Saya mendapat hadiah alat itu ketika menikah dengan Yoshiko Kamei tahun 1951.

Gagasan-gagasan barn akhirnya diterima.Jepang memang sedang membangun masyarakat baru, bukan membangun kembali yang lama.

Perusahaan kami bertambah besar. Perjuangan kami juga bertambah, berhubungan dengan pembelian hak paten, dengan pengacara yang mewakili lawan dan sebagainya.

Cita-citanya Mengekspor ke AS

Sudah sejak mendirikan perusahaan, Ibuka dan saya bercita-cita memasarkan produk kami ke pasar internasional. Tahun 1952, pasaran tape recorder sangat baik. Ibuka pergi ke AS untuk melihat kemajuan orang lain dan belajar. Ia hampir tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi itu bukan masalah baginya. Ternyata ketika itu penggunaan tape recorder di sekolah-Sekolah

Jepang sudah lebih luas daripada di AS. Ternyata pula, tidak ada perusahaan tape recorder yang mau membukakan pintu pabrik mereka untuk tamu.

Walaupun demikian perjalanan itu banyak gunanya bagi kami. Ibuka mengetahui bahwa lisensi untuk alat ajaib yang bernama transistor yang ditemukan oleh Bell Laboratories pada tahun 1948, tidak lama lagi akan bisa diperoleh. Kami pun membuat rencana untuk mempergunakannya dalam radio.

Saat itu kami sudah mempunyai 120 karyawan, sepertiganya lulusan perguruan tinggi. Ada ahli elektronika, metalurgi, kimia, dan mesin. Membuat transistor merupakan tantangan bagi mereka. Ketika berada di AS, sebenarnya Ibuka sudah berusaha meminta kesediaan pemegang paten transistor untuk bertemu dengan kami. Karena perusahaan kami kecil dan belum terkenal, baru setahun kemudian persetujuan paten ditandatangani.

Untuk penandatanganan itu saya pergi ke AS. Saya merasa agak gamang melihat betapa luasnya AS dan betapa ukuran-ukuran di sana serba besar. Keadaan di AS jauh berbeda dengan di Jepang. Saya jadi sangsi: bisakah kami menjual produk kami di AS? Apalagi, pada masa itu ekonomi sedang bagus sehingga tampaknya setiap orang AS sudah memiliki segala-galanya. Di Jepang, kami dihambat oleh Kementerian Perdagangan dan Industri Internasional (MITI) untuk mengeluarkan uang AS $ 25.000 sebagai pembayaran pada Bell Labs sebab devisa sedang langka sedangkan MITI tidak bisa melihat kegunaan transistor. Untuk meyakinkan MITI, Ibuka memerlukan waktu 6 bulan

epilog :

Akio Morita = Sawah Yang Subur

Dalam keluarga kami, setiap putra sulung diberi namaTsunesuke seperti kakek saya atau Hikotaro seperti ayah saya. Kalau tiba saatnya untuk mengepalai perusahaan keluarga, mereka berganti nama menjadi Kyuzaemon.

Sebagal putra sulung,saya mestinya kebagian namaTsunesuke,tetapi menurut ayah nama itu terlalu kuno. Jadi, Ia lalu memanggil seorang cendekiawan yang menyarankan nama Akio. ‘Aki’ artinya’ber.. cahaya’. Kalau digandengkan dengan ‘Morita’ artinya sawah subur , nama saya memberi kesan optimisme.

Juragan Kecap dan Sake

Di tempat asalnya, desa Kosugaya, nenek moyang sayaselalu menjadi pemuka masyarakat dan terkenal cinta pembaharuan. Kyuzaemon ke- I I pernah mendatangkan ahil Prancis untuk menolongnya bercocok tanam anggur dan membuat minuman dan buah itu. Kaisar Meiji yang hidup di zamannya memang menganjurkan rakyat belajar dan barat.

Tanaman anggur Kyuzaemon ke- I I dimusnahkan wabah yang terbawa dan Prancis sehingga usahanyagagal,tetapi sake dan kecapnya muncul dalam pameran internasional di Paris pada tahun I 899. Salah satu produk itu bahkan memenangkan medali emas.

Ia juga mendirikan pabrik roti yang kini bernama Pasco dan makmur sampai sekarang, bahkan mempunyal cabang di luar negeri.

Nenek moyang saya itu bukan hanya ingin mempelajari hal-hal baru, tetapi juga mempunyai keberanian dan kekuatan tidak putus asa kalau gagal. Ketabahan, kegigihan, dan optimismenya rupanya menurun.

Ia mempergunakan uangnya untuk membangun

jalan-jalan dan sarana kesejahteraan rakyat di Kosugaya sehingga Kaisar Meiji memberinya bintang.

Kakek buyut saya dan kakek saya mempergunakan sebagian besar uang dan waktunya untuk mensponsori seniman, pengrajin, dan pedagang barang-barang seni. Begitu cintanya mereka pada keindahan sampai perusahaan keluarga mereka terlantar.

Ketika Ayah masih belajar ekonomi di Universitas Keio di Tokyo, Ia dipanggil pulang untuk menyeIamatkan perusahaan keluarga yang terancam bang-krut.Terpaksa ía pulang untuk menghadapi kenyataan hidup yang jauh Iebih sulit daripada memecahkan kasus dan buku teks.

Ayah merasa tidak bisa mengandalkan para manajer yang ada, jadi Ia mengambil aIih kemudi perusahaan. Ketika saya lahir sebagal anak sulungnya, perusahaan keluarga Morita sudah kokoh lagi.

Belajar Dari Kesalahan

Membuat kesalahan dan salah hitung adalah manusiawi dan normal saja, asal di masa yang akan datang tidak merusak perusahaan Jika oràng yang membuat kesalahan dicap goblok atau ditendang dan tangga promosi senioritas Ia bisa kehilangan motivasi selama hidup dan perusahaan tidak akan memperoleh sumbang hebat yang mungkin bisa Ia berikan kemudian. Namun, jika sebabsebab kesalahan dicari dan diberi tahu, orang tersebut tidak akan lupa dan orang lain tak akan membuat kesalahan serupa. Saya anjurkan, “maju terus, lakukan apa yang kalian anggap baik. Jika melakukan kesalahan, kalian akan belajar dan san.Tapi,jangan buat kesalahan yang sama dua kali!”  Agnes Davonar.

Agnes Davonar

bersambung

0430_14innova

akio_morita5